Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Hanya Untuk Bersenang-Senang


__ADS_3

Alister masih ada di Restoran. Ia baru saja ditinggalkan oleh Lovely, dan karena masih ingin duduk santai hingga ia tetap di sana dengan secangkir kopi yang baru saja ia pesan. Azil yang menunggu di mobil, mendatangi Alister. Pria itu langsung membungkuk hormat di depan Alister yang duduk bersandar di kursi sembari menikmati kopinya.


"Tuan, Nona Lovely adalah keponakan Nona Jenar. Rasanya tidak baik kalau tuan mendekatinya."


Alister langsung menatap tajam asistennya. "Sejak kapan kau peduli dengan orang lain?"


"Saya bicara begitu bukan karena saya peduli dengan Nona Lovely tapi saya peduli dengan reputasi tuan dimata Nona Jenar. Kalau Nona Jenar tahu, dia pasti menganggap tuan pria tidak bermoral yang menggoda keponakannya," jelas Azil.


"Aku menyukai Cinta. Peduli amat tentang pendapat Jenar. Lagipula, aku cuma ingin bersenang-senang dengan Cinta. Setelah bosan, aku akan meninggalkannya seperti wanita yang lain." Alister tidak percaya pada cinta seorang wanita. Ia menganggap di dunia ini tidak ada wanita yang tulus mencintainya. Mereka hanya menginginkan uangnya. Pemikiran itu ada setelah ia ditinggalkan oleh wanita yang dulu sangat dicintainya. Terlebih, wanita yang tidur dengannya memang hanya membutuhkan uangnya saja. Mereka akan pergi setelah ia memberikan uang yang mereka butuhkan.


Azil pun diam.


Sementara Lovely masih berada di taksi untuk kembali ke rumah. Namun Lovely terganggu dengan pria tadi. Ia memikirkan tentang syarat yang ia berikan pada pria itu. Entah kenapa, perasaannya malah tidak tenang setelah memikirkan kembali kata-kata Alister yang bersedia menerima syaratnya. Apalagi ekspresi Alister saat itu, terlihat begitu percaya diri seolah hal itu mudah dilakukan olehnya.


'Perasaanku benar-benar nggak tenang. Aku kayak menjerumuskan diriku sendiri. Apa benar yang kulakukan tadi tidak menimbulkan masalah untukku? Ya tuhan! Semoga aja tindakanku yang minta syarat pada laki-laki itu, tidak merugikanku!' Lovely sungguh terganggu dengan laki-laki yang namanya saja ia tidak tahu. Entahlah, perasaannya tiba-tiba saja tidak tenang ketika memikirkan kembali semua kata-kata Alister yang penuh percaya diri. Karena sungguh, ia mengajukan syarat pada pria asing itu demi menyingkirkan pria itu darinya. Tentu itu sebuah tindakan yang benar untuk dirinya yang tidak ingin berhubungan lagi dengan pria yang asal usulnya saja tidak jelas untuknya.


"Mbak, sudah sampai!"


Suara Pak Supir, membangunkan Lovely dari lamunannya memikirkan pria itu. Ia memberikan ongkos taksinya kemudian segera turun dari mobil. Ia masuk ke rumah dengan pikirannya yang masih tertuju pada Alister.


"Loly!" seru Tuan Arman yang ternyata menunggu Lovely di ruang tengah.

__ADS_1


Lovely yang sudah berada di depan tangga, memutar tubuhnya melihat ayahnya berdiri di ruang tengah. Sambil menghela nafas lelah, ia melangkah mendekati Tuan Arman yang sudah duduk kembali di sofa.


"Ada apa Yah?" Lovely tahu bahwa ayahnya itu pasti ingin bicara mengenai pertemuannya dengan laki-laki kedua yang dipilih oleh ayahnya tapi ia tetap bertanya hanya untuk memastikannya saja.


"Hari ini kau bikin masalah lagi sampai pria itu menghubungi ayah. Dia bilang tidak mau lagi bertemu denganmu. Ayah yakin kau sudah bikin masalah lagi. Apa kau belum puas bikin masalah di keluarga ini hah? Kau benar-benar anak sial. Diberikan masa depan bagus, kau malah merusaknya."


Lovely sudah terbiasa sejak kecil untuk mendengarkan orang tuanya bicara hingga setelah selesai, barulah ia membalas perkataan orang tuanya. "Pria itu membatalkan pertemuan kita tadi, bukanlah salahku. Aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Bahkan aku menunggunya lama di restoran dan kalau saja aku tidak menghubungi pria itu lebih dulu, aku pasti masih menunggunya di restoran. Dia tidak kasih tahu kalau dia tidak jadi datang."


Tuan Arman duduk kembali di sofa lalu mengeluarkan nafas lelahnya. Ia sudah lelah bicara dengan Lovely hingga menyuruh Lovely pergi dengan menggerakkan tangannya. Lovely pergi setelah membungkuk hormat pada ayahnya. Ia menaiki tangga dengan langkah cepat untuk menemui Hebat yang katanya ditemani oleh pengasuhnya.


"Hebat!" seru Lovely ketika membuka pintu.


"Mama!" Hebat ikut berseru mendengar suara ibunya. Ia yang duduk bermain bersama sang pengasuh, segera berdiri menghampiri ibunya.


"Mama kangen banget sama Hebat," ucap Lovely lalu mendaratkan kecupan dipipi Hebat.


"Hebat juga kangen sama mama. Hebat pengen sama mama terus."


Lovely tersenyum melihat anaknya. "Hari ini mama akan main sampai puas sama Hebat."


"Yeeeee!" Hebat begitu senang mendengar ibunya menemani main lagi sampai anak itu bersorak, karena jujur ia tidak senang ditemani bermain oleh orang lain.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita main di taman?"


"Mama mau main apa?" tanya Hebat penasaran.


"Kalau mama, terserah Hebat aja deh."


"Emmm." Hebat berpikir lalu bertanya, "bagaimana kalau kita main petak umpet Ma?" Anak itu bicara begitu antusias tapi seketika ekspresinya berubah kecewa.


"Kenapa sayang?" tanya Lovely.


"Hebat baru ingat kalau tidak ada Nyonya Margaret dan Miss Briella yang temani Hebat main."


"Kan ada mama sayang."


"Nggak seru kalau cuma berdua."


"Bagaimana kalau mama ajak semua orang main, Hebat mau nggak?" tanya Lovely.


Muka Hebat yang tadinya kecewa kembali berubah ceria. "Mau Ma."


"Oke. Sekarang kita turun ke bawah dulu!" Lovely pun mengajak Hebat dan juga pengasuh anaknya ke taman. Dan ketika berada di bawah, Lovely juga mengajak seorang pembantu untuk menemani anaknya bermain. Karena kehadiran mereka lah, membuat Hebat senang. Ditambah Nyonya Armiyanti mengajukan diri untuk ikut bermain. Hal itu beliau lakukan demi mendekatkan dirinya pada cucunya. Kali ini ia ingin menebus kesalahannya pada Lovely dan Hebat yang tidak pernah ada selama lima tahun ini.

__ADS_1


Di rumah Alister, pria itu baru saja masuk ke kamarnya dan langsung meletakkan uang yang diberikan Lovely ke sebuah kotak berwarna coklat. Di kotak itu juga ada memo dan uang pertama yang diberikan Lovely. Rasanya sayang jika Alister membuang memo dari Lovely atau memakai uang wanita itu. Ia lebih suka menyimpannya seperti benda bersejarah. Saat ingin menutup kotak itu, Alister kembali teringat tentang Lovely.


"Aku baru bertemu wanita bodoh seperti majikanmu. Bicaranya sedikit tegas tapi dia tidak tahu apa-apa. Masih lugu. Dan penampilannya yang sederhana malah kelihatan menggemaskan. Dia sungguh wanita mempesona. Sayang kalau aku melepaskannya begitu saja." Pria itu berbicara sembari menatap uang di dalam kotak coklat itu. Lalu disaat yang sama, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Jenar masuk. Wanita itu mengajaknya makan malam tapi Alister malah menolaknya dengan alasan ingin istirahat.


__ADS_2