
Pria yang duduk di depan Lovely saat ini adalah Alister. Lovely dibuat heran oleh pria call boynya yang ada di hadapannya. Dan karena heran, ia sampai melihat ke kiri dan ke kanan, mencari tamu lain yang mungkin diajak bicara oleh pria itu tapi di sana hanya ia yang duduk sendiri.
"Anda bicara sama saya?" tanyanya kemudian.
"Aku duduk di depanmu. Kalau tidak bicara padamu lalu aku bicara sama siapa lagi," ujar Alister.
Mendengar ucapan Alister, membuat Lovely mengerti maksud kedatangan pria itu tapi ia sama sekali tidak curiga jika pria itu sengaja datang mencarinya. Ia malah mengira pria itu tak sengaja melihatnya di tempat ini hingga mendekatinya. Sambil menghela nafas lelahnya, Lovely mengeluarkan uang dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja, dan menyodorkan uang itu pada Alister.
"Satu juta. Apa itu cukup?"
Alister tercengan melihat uang pecahan seratus di depannya. Lalu detik berikutnya, ia tertawa kecil, menertawakan wanita itu memberikannya uang. Jujur, ini pertama kali dalam hidupnya ada seorang wanita memberikannya uang, dan uang itu adalah uang bayaran karena tidur dengannya. Biasanya dia lah yang memberikan uang pada wanita jika selesai tidur.
"Kenapa? Apa uangnya tidak cukup?" tanya Lovely.
Alister masih diam. Seharusnya ia marah pada Lovely yang menganggapnya pria panggilan tapi entah kenapa ini malah menarik untuknya? Lalu kenapa tidak dia teruskan saja permainan menarik ini?
'Pria tampan yang diinginkan semua wanita malah dihargai satu juta. Ah tidak, dia sudah memberikanku lima ratus ribu. Berarti hargaku hanya satu juta setengah dimata wanita ini. Sungguh mengejutkan,' batin Alister.
"Kalau Anda tidak mau mengambil uangnya karena merasa tidak cukup. Tidak masalah. Saya bakal tambahkan lima ratus lagi tapi kalau Anda minta lagi, saya tidak bisa memberikannya. Bagi saya bayaran segitu sudah cukup untuk Anda bahkan menurut saya mahal kalau dibandingkan waktu yang kita habiskan," ucap Lovely yang semakin membuat Alister terkejut.
"Dua juta!?" Seketika pria itu tertawa kecil, menertawakan dirinya yang dihargai dua juta rupiah.
Lovely mengerutkan keningnya melihat pria itu tertawa tapi ia diam saja. Detik berikutnya, Alister berhenti menertawakan dirinya. Ia beralih melihat Lovely yang tampak serius melihatnya.
"Jangan tersinggung Nona Cinta! Aku tertawa karena begitu bahagia dapat uang sebanyak ini. Dan kalau Anda merasa ini mahal, bagaimana kalau aku melayanimu lagi untuk semalam."
"Nggak perlu. Saya sudah nggak butuh untuk dilayani. Lebih baik Anda cari pelanggan lain," ucap Lovely menolak.
__ADS_1
Tiba-tiba Alister berdiri dengan kedua tangannya bertumpu di atas meja dan ia memajukan tubuhnya hingga wajahnya berada dekat di depan wajah Lovely.
Lovely sampai kaget dan matanya membulat sempurna melihat Alister tapi ia diam karena terlalu kaget melihat Alister begitu dekat dengan wajahnya.
"Setelah malam itu, aku jadi tidak bisa melayani pelanggan lain selain dirimu Nona Cinta." Alister bicara sembari menatap bibir merah Lovely, tatapannya seolah ingin mencium bibir merah mereka milik Lovely.
"Itu urusan Anda bukan urusan saya. Lagipula saya tidak suka tidur dengan pria yang sama." Jujur Lovely mengakui wajah tampan pria ini tapi jika hanya ingin tidur untuk bersenang-senang, ia tidak akan pernah mau. Kejadian di bar itu hanya karena emosi saja, juga karena ingin mengacaukan rencana Ridwan dan ayahnya, bukan untuk bersenang-senang.
Alister malah tersenyum lalu kembali duduk di tempatnya. Dan raut wajahnya seketika berubah datar.
"Kau bilang tidak suka tidur dengan pria yang sama. Bagaimana kalau kau mengubahnya menjadi suka hanya untukku?"
Lovely kesal mendengar ucapan Alister yang seolah memaksanya. "Saya tidak ingin bicara lagi dengan Anda. Jadi lebih baik Anda pergi. Apalagi saya sedang menunggu seseorang. Akan jadi masalah untuk saya kalau Anda tetap di sini!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau pergi?" kata Alister dengan tampangnya yang angkuh.
"Kalau Anda tidak jadi datang, harusnya Anda bilang sama saya. Ayah saya kan, sudah kasih nomor saya pada Anda." Lovely bicara sembari melirik Alister yang menatapnya terus. Lalu fokus lagi dengan lawan bicaranya.
"Saya minta maaf Nona Lovely! Dan saya juga minta maaf karena tidak bisa bertunangan dengan Anda. Saya sudah kasih tahu sama Tuan Arman tentang pembatalan ini," jelas pria dibalik telfon.
Lovely sungguh kesal. Bukan karena rencana perjodohannya yang kedua ini gagal melainkan karena pria itu tidak menghubunginya dan malah membuatnya menunggu seperti orang bodoh.
Sementara Alister yang melihat ekspresi kesal Lovely gara-gara pria dibalik telfon, tersenyum miring dengan tatapannya yang licik.
Nafas kasar berhasil lolos dari mulut Lovely setelah panggilannya berakhir. Dan detik berikutnya ia berdiri dari tempatnya tanpa peduli dengan Alister seolah pria itu tak ada di hadapannya.
"Tunggu! Apa kau melupakanku lagi?" sahut Alister yang berhasil membuat Lovely menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Teman saya tidak jadi datang, jadi untuk apa saya masih di sini. Lebih baik saya pergi," kata Lovely ketus.
Alister berdiri kemudian melangkah mendekati Lovely. Dan kini jaraknya begitu dekat dengan Lovely yang menatapnya tajam.
"Sebelum pergi, kau harus menjawab permintaanku tadi Nona Cinta."
"Bukannya sudah jelas yang kukatakan tadi?"
Alister malah memegang dagu Lovely dan menatap bibir wanita itu tapi kini ia menunjukkan ekspresi datar. "Itu bukan jawaban tapi penolakan. Dan kalau kau tidak menjawab ku maka aku akan mengikuti kemanapun kau pergi sekarang."
"Jawaban apa yang Anda inginkan? Apa tidur dengan saya untuk semalam, begitu?"
Alister kembali menyingkirkan tangannya dari dagu Lovely lalu menjawab, "sepuluh menit lalu aku menginkan itu tapi sekarang sudah tidak menarik. Yang kuinginkan sekarang adalah kau menjadi pacarku."
Pria ini sungguh gila, memintanya tidur dan sekarang memintanya menjadi kekasihnya. Pria itu gila, ia juga bisa jadi gila dengan permintaannya yang tidak masuk akal bagi pria tidak mampu seperti pria di hadapannya ini. "Oke. Saya akan jadi pacar Anda tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
Lovely tersenyum smirk dengan tatapan licik melihat Alister. "Kalau Anda bisa membalaskan dendam saya pada Pak Qomar, saya akan jadi kekasih Anda."
Alister sedikit kaget mendengar permintaan Lovely tapi tidak membuatnya menolak keinginan wanita itu. "Kau ingin aku melakukan apa padanya?"
"Terserah. Asal orang itu hancur!" kata Lovely.
"Baiklah. Sesuai keinginanmu Nona Cinta," ucap Alister dengan tampangnya yang percaya diri.
'Huh, kata-katanya kayak bisa aja hancurin orang seperti Pak Qomar. Uang aja dia nggak punya,' batin Lovely yang menganggap Alister pria biasa yang tidak punya kekuasaan. Pria panggilan seperti dia mana mungkin bisa menghancurkan orang. Makanya Lovely mengajukan syarat seperti itu. Bukan karena menguji Alister tapi untuk menyingkirkan pria itu darinya.
__ADS_1