Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Mengulur Waktu


__ADS_3

Di belakang mobil Jenar, ada mobil Alister yang baru saja tiba. Nyonya Armiyanti yang melihat mereka datang, tentu terkejut. Apalagi ia baru saja mendengar kejahatan Jenar yang menculik anaknya. Buru-buru Nyonya Armiyanti mendatangi suaminya.


"Mas, di luar ada Jenar dan Alister! Kenapa mereka bisa datang bersama? Lalu, Jenar, dia datang kemari. Bukannya dia menculik Loly dan Hebat?" tanya Nyonya Armiyanti yang belum mengerti semua yang terjadi kecuali penjelasan sang pengasuh mengenai Lovely yang diculik.


Ucapan Nyonya Armiyanti, membuat Tuan Arman pun sedikit kaget tapi kemudian ia berusaha untuk tenang agar rencananya tidak dicurigai oleh Jenar.


“Jenar dan Alister datang kemari untuk menikah. Azil sudah memberitahuku tadi. Dan kalian berdua harus bersikap normal. Pura-puralah tidak tahu kalau Loly dan Hebat diculik oleh Jenar. Terutama kamu Levon.” Tuan Arman menunjuk Levon yang masih tampak emosi, “jaga sikapmu! Jangan gegabah di depan bibimu karena ayah dan Alister punya rencana untuk membebaskan Loly, juga menggagalkan keinginan Jenar untuk menikah dengan Alister.”


Levon mengangguk terpaksa. Disaat yang sama, Jenar membuka pintu. Mereka semua yang berada di ruang tengah kembali duduk dengan tenang. Terutama Tuan Arman yang harus bersikap santai seolah tidak tahu apapun.


“Kakak!” panggil Jenar sembari melangkah mendatangi Tuan Arman yang duduk bersandar di sofa sembari menyilang kedua kakinya.


Tuan Arman menoleh melihat Jenar. “Kamu sudah pulang?”


Pertanyaan itu hanya sekedar basa-basi saja. Dan Tuan Arman yang sudah tahu Alister akan datang, pura-pura melihat kea rah Alister dengan pandangan heran. “Ada Nak Alister juga.”


“Kebetulan semua orang ngumpul di sini,” ujar Jenar yang kini berdiri di depan semua orang bersama Alister yang tampak enggan berdekatan dengan Jenar.


Levon dan Nyonya Armiyanti melirik ke Tuan Arman. Tuan Arman langsung memberikan kode dengan mengangguk pelan pada mereka berdua untuk tetap diam. Tuan Arman tidak ingin Jenar curiga hingga detik berikutnya, ia menatap Jenar yang kala itu menarik Alister duduk di depan Tuan Arman.


“Memang ada hal penting apa Jenar? Kamu bahkan datang bersama Alister?” tanya Tuan Arman yang berusaha santai.


“Aku mau kakak menikahkanku dengan Alister hari ini juga.” Jenar tidak ingin berbasa-basi hingga ia langsung mengatakan maksudnya.

__ADS_1


“Menikah?” Tuan Arman pura-pura kaget, “bukannya Alister ingin menikah dengan Loly?” Demi mengulur waktu, Tuan Arman akan melakukan apapun. Termasuk bicara hal yang sudah ia ketahui.


“Alister tidak pernah mau menikahi Loly, Kak. Dia hanya mau menikahiku. Aku sudah jelaskan itu sama kakak tapi Kak Arman tidak percaya padaku dan malah menyuruhku menikah dengan pria lain. Karena kesalapahaman kakak dengan sikap Alister pada Loly, sampai Alister memaksaku untuk menikah hari ini.” Yang dikatakan Jenar, tentu sebuah kebohongan. Alister sampai tersenyum sinis mendengar semua kebohongan Jenar di depan keluarganya.


Tuan Arman beralih melihat Alister. “Benarkah seperti itu Nak Alister? Saya pikir, kamu mau menikahi anak saya tapi ternyata saya yang salah paham dengan maksud Nak Alister di pesta ulang tahun Jenar.”


Alister tidak mengatakan apapun hingga membuat Jenar kesal. Jenar pun menoleh ke Alister dan memberikan kode pada Alister untuk menjawab Tuan Arman.


Dengan terpaksa Alister mengangguk. “Benar. Saya akan menikah dengan Jenar hari ini seperti yang dia katakan.”


Jenar tidak ingin membuang-buang waktunya dengan duduk diam di sana hingga ia berdiri dari tempat duduknya. “Aku sudah siapkan baju kebaya pengantin untuk ijab kabulnya Kak. Aku juga udah undang penghulu datang kemari. Sebentar lagi penghulu itu akan datang. Sambil tunggu dia datang, aku akan ganti baju di kamar.”


Jenar berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua untuk berganti pakaian di kamarnya. Tuan Arman terus melihat adiknya sampai adiknya itu tidak terlihat. Baru setelah itu, ia punya kesempatan untuk mengajak Alister bicara.


“Alister, saya perlu bicara sama kamu.”


Tuan Arman berpindah tempat ke sebelah Alister agar bisa bicara tanpa didengar oleh Jenar. “Bagaimana dengan anak saya? Apa dia baik-baik saja?”


Sejujurnya, Tuan Arman menyayangi Lovely. Hanya saja, Tuan Arman terobsesi pada kehormatan dan jabatan. Ia sangat menginginkan keluarganya dipandang hormat dan dihargai oleh semua orang. Maka dari itu, ia ingin anak-anaknya mendapatkan yang terbaik di atas yang terbaik. Dan dari penilaiannya selama ini, Alister lah yang pantas menjadi bagian darimkeluarganya karena Alister merupakan pengusaha yang disegani di Jakarta, juga di Asia hingga ia sangat terobsesi menjadikan pria itu bagian dari keluarganya.


“Dia baik-baik saja. Karena itu, saya mengikuti keinginan Jenar agar Lovely dan Hebat tetap aman di sana. Dan Pak Arman harus tetap bantu saya untuk mengulur waktu sampai Azil berhasil menemukan mereka. Kalau tidak, saya akan berakhir menikah dengan Jenar. Saya sudah janji pada Lovely untuk tidak menyakitinya lagi tapi saya juga harus membuatnya tetap aman.”


Alister masih ingin bicara tapi Jenar tiba-tiba terlihat menuruni tangga hingga Alister memberitahu pada Tuan Arman untuk kembali ke tempatnya. Tuan Arman yang juga masih ingin bicara, buru-buru kembali ke tempatnya. Levon yang mendengar semuanya, mengepal kedua tangannya karena begitu marah pada Jenar.

__ADS_1


Nyonya Armiyanti memegang tangan anaknya ketika ia menyadari ekspresi Levon yang marah. “Tetap tenang Nak. Kita harus sabar sampai adikmu ditemukan.”


Levon mengangguk.


Jenar langsung berjalan ke arah pintu ketika ia mendengar suara bel karena ia yakin bahwa yang datang adalah penghulunya. Dengan raut wajah tersenyum, Jenar mempersilahkan penghulu itu masuk ke dalam dan mendatangi semua orang di ruang tengah.


“Kak, penghulunya sudah datang!”


Tuan Arman sedikit kaget melihat penghulunya tiba, karena ia tidak tahu harus bagaimana untuk mengulur waktu. Levon yang melihat ayahnya kebingungan, berdiri dan langsung menatap Jenar.


“Bibi cuma bawa penghulu. Lalu, saksinya siapa?”


Jenar masih tampak tersenyum. “Kan, ada kamu Lev. Kamu aja yang jadi saksi nikahnya.”


“Aku tidak mau jadi saksinya.” Levon bisa saja menjadi saksi nikahnya tapi demi mengulur waktu, ia menolak untuk menjadi saksinya.


Jenar mengerutkan keningnya. “Kenapa?”


“Aku ini cuma keponakan bibi, nggak bisa jadi saksi. Kalau aku jadi saksi, pernikahan bibi dengan Alister, tidak akan sah.”


Jenar yang tidak tahu apapun mengenai hal itu, menoleh melihat Tuan Arman. “Levon memang nggak bisa jadi saksi Kak?”


Levon melirik ayahnya dan memberikan kode untuk berbohong. Tuan Arman tentu menuruti rencana anaknya. “Lebih baik kamu cari saksi yang pantas, Jenar.”

__ADS_1


“Begini Pak, Bu. Sebenarnya untuk menjadi saksi nikah …,”


“Tunggu sebentar!” Alister tidak ingin kebohongan Levon diketahui setelah mendengar penjelasan si penghulu hingga Alister ikut menyahut.


__ADS_2