Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Kejutan Untuk Menarik Hatimu


__ADS_3

"Kayaknya makananmu menarik. Boleh cobain dong!" Sebenarnya Alister tidak suka makan salad tapi karena suka menggoda Lovely dan ingin disuapi oleh Lovely hingga ia ingin mencobanya.


"Kamu mau?" tanya Lovely memastikan.


Alister mengangguk.


"Suapi aku," pinta Alister lalu membuka mulutnya lebar-lebar di depan Lovely. Lovely tampak malu. Bahkan ia melihat ke sebelah kiri dan kanan, memastikan orang tak melihat kelakuan Alister. Namun, Lovely tak menolak permintaan Alister yang mungkin akan membuat Alister malu jika ia tidak menyuapi laki-laki itu. Akhirnya dengan terpaksa, Lovely mengulurkan garpunya, memasukkan makanan itu ke mulut Alister.


Alister menguyah sembari tersenyum menatap Lovely. Matanya yang menggoda, tak mengalihkan pandangannya dari Lovely.


"Makan saja makananmu. Jangan melihatku terus!" Sebelum-sebelumnya, Lovely tidak merasa canggung ataupun salah tingkah dengan Alister yang menggodanya dengan tatapan. Hari ini, entah kenapa, Lovely malah malu dan salah tingkah melihat pria itu terus menatapnya.


Alister tidak mengatapan apapun tapi ia tersenyum. Lalu tiba-tiba saja, ia mengulurkan tangannya menyentuh bibir Lovely dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.


Deg!


Debaran jantung Lovely seketika terdengar. Lovely tampak terkejut karena sikap Alister yang tiba-tiba menyentuh bibirnya sampai Lovely pun terdiam kaku.


Makanan yang masuk ke mulutnya pun, sulit ia telan karena tindakan Alister. Padahal tindakan itu hanyalah tindakan sederhana saja tapi dianggap luar biasa oleh Lovely yang tidak pernah menjalin cinta dengan pria manapun.


Sambil menatap Lovely, Alister menjilat ibu jarinya yang tadi menyentuh bibir Lovely. Hal itu semakin membuat Lovely canggung sampai Lovely berhenti makan dan malah memalingkan wajah malunya ke arah lain.


"Tidak makan lagi?" tanya Alister.


"Bagaimana aku bisa makan kalau ada orang yang terus mengganggu?" balas Lovely dengan bibir cemberut, dan ia masih tak mau memandang Alister.


"Memang apa yang sudah kulakukan padamu? Apa aku menciummu? Atau aku membuka seluruh pakaianmu?"


Seketika Lovely menoleh melihat Alister dan refleks berteriak, "Ali!"

__ADS_1


"Aku bercanda. Makanlah baru kita pergi. Aku mau menunjukkan sesuatu besar padamu setelah dari sini!"


Lovely menghela nafas pelan-pelan lalu membuangnya. Setelah itu, ia kembali makan bersama Alister yang juga ikut lanjut makan tapi Alister sesekali melirik Lovely dengan senyuman tipisnya.


Menit kemudian, mereka selesai makan dan meninggalkan restoran. Alister membawa Lovely ke gedung apartemen miliknya.


Sambil turun dari mobil, Lovely menatap depan gedung apartemen mewah itu. Keningnya mengerut karena heran dan penasaran pada Alister yang tiba-tiba membawanya ke sana. "Kamu ngapain bawa aku ke tempat kayak gini? Kamu mau berbuat macam-macam ya? Aku kan, sudah ...,"


Alister langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Lovely, menutup mulut Lovely agar tidak melanjutkan kata-katanya. "Jangan berpikiran buruk terus padaku sayang! Aku memang pria yang berhasrat tinggi tapi aku tidak serendah itu."


"Lalu alasannya kemari karena apa?" tanya Lovely penasaran.


"Ayo! Kita masuk dulu ke dalam!" Alister pun menarik tangan Lovely masuk ke dalam gedung apartemen. Mereka masuk ke lift menuju lantai lima apartemen itu.


Meski Alister sudah mengatakan tidak akan melakukan sesuatu, tapi Lovely tetap merasa takut pada pria itu. Jantungnya sampai berdebar-debar melihat Alister berdiri di sampingnya sembari memegang tangannya dengan erat seolah dirinya akan kabur jika tangan itu dilepas.


Alister malah biasa saja. Bahkan tampangnya yang datar, berjalan keluar dari lift itu sembari menarik Lovely.


Alister yang tengah membuka pintu apartemennya mengangguk tersenyum pada Lovely.


"Sama siapa?" Lovely bertanya lagi ketika ia dan Alister melangkah masuk ke dalam.


"Duduklah dengan nyaman!" Pria itu tak menjawab, malah menyuruh Lovely duduk. Kemudian Alister berjalan ke dapur yang jaraknya tak jauh dari tempat Lovely duduk dan tidak ada tembok pembatas di sana hingga mereka bisa saling melihat.


"Aku tinggal sendiri di sini." Barulah Alister menjawab ketika dirinya sibuk menuangkan jus yang baru saja ia keluarkan dari kulkas ke dalam gelas.


Lovely hanya tersenyum tapi ia berdiri dari tempatnya dan malah mendatangi Alister di dapur. Wanita itu duduk di sebuah kursi depan meja dapur yang membatasi antara dirinya dengan Alister. Dan karena Alister melihat Lovely sudah di depannya, hingga ia langsung menghidangkan jus itu ke Lovely.


"Aku tidak menyangka kalau kamu tinggal sendiri di sini. Kupikir, kamu tinggal bersama keluarga besarmu."

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Alister yang duduk di depan Lovely.


"Biasanya orang kaya seperti itu kan."


"Tidak semuanya. Sebagian malah lebih senang tinggal sendiri. Contohnya aku. Aku lebih senang kalau sendiri tanpa ditemani keluarga. Karena dengan begitu, aku bisa bebas membawamu kemari. Kau juga bisa bebas ke tempat ini kapanpun kau mau. Pintu rumahku selalu terbuka lebar," ucap Alister yang membuat bibir Lovely tersenyum.


"Jadi yang mau kamu tunjukkan padaku adalah rumahmu ini?" tanya Lovely menagih ucapan Alister.


Mendengar ucapan Lovely, membuat Alister sadar bahwa hal penting yang ingin ia lakukan, belum ia tunjukkan pada Lovely. Tanpa mengatakan apapun, ia membuka kulkas yang ada di belakangnya dan mengeluarkan sebuah kue ulang tahun untuk wanita itu. Kue itu diletakkan Alister di depan Lovely lalu menyalakan lilinnya di sana.


"Selamat ulang tahun!"


Lovely terkejut melihat pria itu memberikannya kue ulang tahun yang tidak pernah diberikan oleh keluarganya sendiri selama enam tahun ini. Bahkan tanpa sadar Lovely meneteskan air matanya setelah mendengar ucapan ulang tahun dari Alister. Ia begitu terharu karena selama ini pun, ia tak menerima ucapan ulang tahun dari siapapun. Selama enam tahun, Lovely hanya mengingat bagaimana penderitaannya dan perjuangannya di negara orang. Sama sekali tak ada ingatan menyenangkan dari keluarganya.


"Terima kasih!"


"Kau menangis?" tanya Alister sembari mengulurkan jemarinya dan mengahapus air mata Lovely.


Lovely belum terbiasa diperlakukan seperti itu hingga ia menghindar lalu segera menghapus air matanya. "Ini karena aku senang mendengar orang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku memang begini kalau ada teman yang perhatian padaku."


Meski Lovely tidak menjelaskan secara detail alasannya menangis tapi Alister bisa menebak bahwa Lovely begitu karena terharu, dan Alister pun bisa tahu bahwa Lovely kekurangan kasih sayang dari keluarganya.


"Syukurlah kalau kamu senang dengan kejutanku ini."


"Jadi ini yang mau kamu tunjukkan?" tanya Lovely yang sudah merasa tenang.


Alister mengangguk tersenyum. "Kejutan ini untuk menarik hatimu supaya menyukaiku."


"Oooo begitu tapi sayangnya kamu tidak berhasil. Hatiku sama sekali belum tergerak melihat tindakanmu." Lovely berdalih karena sejujurnya, ia sudah menerima Alister dan mulai memiliki rasa pada pria itu.

__ADS_1


Seketika Alister menghela nafas panjang. Raut wajahnya pun tampak kecewa.


Namun kemudian, Alister tersenyum menggoda melihat Lovely. Bahkan ia memajukan wajahnya ke depan wajah wanita itu. "Sayang sekali ya kalau begitu tapi aku tidak akan menyerah untuk membuatmu datang kepadaku."


__ADS_2