
Lovely sampai di rumah. Setelah membayar ongkos taksinya, ia buru-buru masuk karena mengkhawatirkan anaknya. Meski sebenarnya ia percaya pada Jenar dan ibunya tapi nalurinya sebagai seorang ibu yang tidak pernah meninggalkan anaknya sehari semalam, membuatnya khawatir akan emosi Hebat yang bisa saja menangis keras, dan ia tahu ayahnya tidak menyukai Hebat.
Di dalam, sudah ada Tuan Arman duduk di ruang tengah bersama Nyonya Armiyanti. Lovely mendatangi mereka setelah diberitahu oleh pembantu yang menyambutnya tadi, untuk datang menemui kedua orang tuanya di ruang tengah. Sebenarnya ia tidak tenang sebelum bertemu dengan Hebat tapi keperluan orang tuanya lebih mendesak hingga tetap datang, dan Lovely tahu bahwa mereka pasti ingin membahas masalah Ridwan.
Lovely kini berdiri di depan kedua orang tuanya, dan ia langsung menyapa kedua orang tuanya yang saat itu berdiri melihatnya. "Ayah, ibu!"
Plak!
Tuan Arman malah langsung menampar keras wajah Lovely hingga Lovely mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. "Anak tidak diuntung. Setelah masalah yang kau buat lima tahun lalu, sampai mempermalukan aku. Kau malah bikin masalah lagi. Padahal aku menjodohkanmu dengan Ridwan untuk memperbaiki masa depanmu. Sekarang lihatlah akibat kelakuan kotormu. Ridwan tidak mau menikah denganmu lagi."
"Dia memang tidak cocok untukku. Dia laki-laki kurang ajar, Yah!" kata Lovely.
"Bukan dia yang kurang ajar tapi kamu, Lovely. Ridwan sudah menceritakan semuanya pada ayah dan ibu. Kamu pergi dengan dia ke bar, dan di bar kamu malah bersama laki-laki lain. Sekarang ayah sangat malu pada orang tua Ridwan."
Lovely marah dengan ayahnya yang malah membela Ridwan padahal ia sudah bilang jika Ridwan pria kurang ajar tapi ia menahan amarahnya dengan mengepal kedua tangannya.
"Mas Arman! Sudah, jangan marahi Lovely lagi. Mungkin Ridwan memang tidak cocok untuk Lovely. Lebih baik kita carikan yang lain," sahut Nyonya Armiyanti.
Lovely makin marah dengan orang tuanya. Terutama ibunya yang ternyata masih belum berubah. Lebih mendukung apapun keputusan Tuan Arman ketimbang memikirkan perasaan anaknya sendiri. "Aku nggak nyangka, ayah dan ibu memanggilku pulang ke Indonesia demi rencana kalian menikahkan aku dengan pilihan kalian. Terutama ibu yang sengaja bohong sama aku."
Nyonya Armiyanti diam, dan ada rasa bersalah yang tampak diwajahnya setelah mendengar ucapan Lovely. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ia tidak pernah membela Lovely jika dimarahi oleh ayahnya. Kelemahannya sebagai seorang istri Tuan Arman yang tempramen hingga membuatnya tak bisa menjadi seorang ibu yang diinginkan Lovely. Sungguh, ia tidak berdaya dihadapan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Ini juga bukan keuntungan kami tapi demi kebaikanmu, Lovely. Sebagai orang tua yang menginginkan masa depan terbaik untuk anaknya, tentu kami harus melakukan apa saja agar kelak, kamu tidak diremehkan orang lain. Jadi, jangan salahkan orang tuamu! Dan berhentilah terlalu fokus pada anak harammu itu. Anak itu hanya bawa kesialan untuk masa depanmu. Mengerti!" sahut Tuan Arman marah.
Lovely malah tercengan mendengar ucapan ayahnya yang menghina cucunya sendiri. "Hebat cucu ayah sendiri. Kenapa harus menyalahkan dia bahkan menghinanya? Dia nggak tahu apa-apa. Dia hanya tahu, kalau dia punya keluarga yang akan menyayangi dia."
"Ayah ngomong kenyataan Lovely."
"Kak Arman!" seru Jenar yang berjalan mendekati mereka, "Kak Arman, jangan memarahi Lovely terus! Dia baru sampai kemarin dan tiba-tiba dipaksa datang ketemu seseorang yang sama sekali nggak dia kenal. Wajarlah kalau dia berontak. Lebih baik, kita kasih Lovely waktu dulu untuk tenang. Biarkan dia istirahat Kak!"
Tuan Arman akhirnya duduk kembali di tempatnya tapi ia diam memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin melihat Lovely.
Jenar yang melihat itu segera menyuruh Lovely pergi. "Hebat mencarimu. Pergilah! Dia ada di kamarmu!"
"Terima kasih Bibi Kecil!" Memang hanya Jenar saja yang selalu membelanya, dan mengerti perasaannya saat ini. Ketika Lovely meninggalkan ruangan itu, Jenar mencoba bicara dengan Tuan Arman untuk menenangkan emosi Tuan Arman sekaligus membujuk kakaknya agar tidak menyalahkan Lovely terus yang sengaja menggagalkan perjodohannya.
Alister berada di kediamannya. Ia baru saja pulang dari kantor dan kini tengah sibuk melepas pakaian kantornya tapi pikirannya saat ini tertuju pada wanita semalam.
"Wanita itu malah meninggalkanku tadi pagi di kamar bar. Sepertinya dia memang hobi kabur-kaburan." Dari sejak pagi ketika Alister meninggalkan bar dan pulang ke rumah hingga ke kantor, ia selalu teringat Lovely bahkan ia tak fokus bekerja
Disaat yang sama, Azil masuk dan pria itu langsung menyodorkan sebuah map coklat pada Alister yang baru saja selesai memakai jas luarnya.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Alister sembari meraih map itu dari Azil.
__ADS_1
"Sudah tuan. Silahkan dilihat!"
Alister membukanya dan membaca semua isi map terkait informasi tentang wanita yang tidur dengannya semalam. Setelah membaca semua informasinya, Alister menerbitkan senyumannya lalu berkata, "Akhirnya aku menemukanmu."
"Apa dia benar-benar wanita di malam itu, Tuan?" tanya Azil penasaran.
"Aku yakin itu dia. Aku bisa mengenali aroma tubuhnya. Takdir memang suka mempermainkan orang. Dulu aku mencarinya ke mana-mana tapi tidak menemukannya, sekarang setelah berhenti mencarinya, dia malah datang sendiri padaku." Setelah bicara, Alister mengambil sebuah kertas memo dari kantong celananya yang baru saja ia masukkan. Senyuman tampak diwajahnya ketika melihat pesan memo yang ditinggalkan Lovely.
Dulu, Alister memang susah menemukan Lovely karena ia tidak tahu seperti apa rupa teman tidurnya. Ia hanya hafal poster tubuhnya serta aroma tubuhnya yang tidak akan pernah bisa ia temukan diperempuan mana pun yang sudah ia tiduri selama lima tahun ini.
"Tapi ini buat saya aneh, Tuan! Saya ingat, Pak Qomar bilang kalau wanita itu, wanita panggilan yang baru masuk. Dan dia juga bilang kalau wanita itu hidup sebatang kara. Dia membutuhkan uang sampai menjual tubuhnya dan menjadi wanita panggilan. Dulu, saya dan Pak Qomar susah mendapatkan informasinya. Tapi setelah tuan melihatnya dan menyuruh saya mencari informasinya, benar-benar sangat berbeda dengan informasi yang dulu kita dapatkan dari Pak Qomar. Wanita itu putri sulung Tuan Arman yang tinggal di Amerika. Baru-baru ini kembali dari Amerika karena perintah Tuan Arman yang ingin menjodohkan putrinya dengan anak kenalannya. Dan berdasarkan reputasi Nona Lovely yang dikenal baik dan sopan, dia tidak mungkin menjadi wanita panggilan demi uang. Rasanya itu sungguh aneh!"
Lima tahun lalu, Alister memang hanya mendapat informasi dari Tuan Qomar karena hanya Tuan Qomar lah yang bisa membawanya bertemu dengan Lovely tapi saat ini berbeda. Azil mudah mendapatkan informasi tentang Lovely karena ia tahu siapa Ridwan. Ia mencari informasi Lovely dari seorang Ridwan.
"Qomar pasti berbohong padaku atau orang yang mengenalkan dia lah yang berbohong. Aku akan memberikan si Qomar pelajaran karena membohongiku tapi sebelum itu, aku mau, kau mencari kegiatan wanita ini. Dia masih punya hutang uang padaku." Alister bicara sembari menatap memo yang ditulis Lovely kepadanya.
"Baik tuan. Tuan tenang saja. Setelah kita berhasil tahu siapa dia. Masalah lain akan mudah bagi saya," kata Azil percaya diri.
Alister kembali melihat memo dari Lovely. "Beraninya dia menganggapku Call Boy. Bahkan memberiku uang lima ratus ribu."
"Itu memang tidak pantas. Apa tuan mau mengembalikan uangnya dan membuatnya tahu bahwa dia sudah menghina tuan?"
__ADS_1
"Tidak. Aku malah mau meminta uang bayarannya lagi. Lima ratus ini tidak sebanding dengan tubuhnya yang setiap hari kujaga."