
Sudah dua minggu lamanya Hebat di rawat di Rumah Sakit. Kini, Lovely bersiap untuk keluar. Levon dan Brey yang ingin menjemput mereka baru saja tiba. Levon segera masuk ke dalam untuk membantu Lovely yang mungkin sedang repot, sedangkan Brey menunggu di parkiran rumah sakit.
Ketika berada di luar, Lovely sedikit kaget melihat ada Brey. Sebab, temannya itu tidak pernah muncul sejak kejadian ulang tahun Jenar. Baru sekarang, Brey muncul.
“Kamu datang juga Brey?” tanya Lovely yang berdiri di samping mobil Levon.
Brey mengangguk. “Aku minta maaf karena baru datang sekarang! Aku dari Surabaya dan baru kemarin dengar kabar Bibi Jen dan Hebat. Aku langsung datang ke rumah dan ketemu sama Levon yang kebetulan mau pergi jemput kamu di rumah sakit. Jadi sekalian aku ikut sama dia.”
“Ooooo begitu!”
“Ayo Naik!” ajak Levon yang sudah masuk lebih dulu ke mobil bersama Hebat.
Mendengar panggilan Levon, membuat Lovely menghentikan percakapannya dan buru-buru masuk ke mobil bersama Brey.
“Tumben banget Alister nggak kelihatan Loly. Selama dua minggu ini kan, dia nggak pernah ninggalin kamu sama Hebat.” Tiba-tiba Levon teringat dengan Alister yang selalu setia menemani adik dan keponakannya di rumah sakit.
“Nggak tahu dan aku nggak mau tahu.”
Levon tersenyum miring menatap Lovely dari cermin kaca tengah mobilnya. “Dari beberapa hari yang lalu, kakak lihat kamu cuek sama Alister. Kamu marah sama Alister karena menganggap penyebab Bibi Jen tiada gara-gara Alister?”
Lovely hanya diam. Bahkan ia memalingkan wajahnya. Tidak ingin bicara dengan kakaknya. Brey yang duduk di depan, melirik Lovely. Tatapannya terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Lovely tapi tertahan karena ada Hebat dan Levon di sana.
Levon kini menghentikan mobilnya di rumah orang tuanya.
"Kok kakak bawa ke sini?" tanya Lovely yang tidak tahu hal itu.
"Ayah dan ibu ingin kamu tinggal bersama mereka."
Lovely tampaknya tidak senang. Karena ia masih tidak nyaman tinggal di sana. Terlebih dirinya akan semakin mengingat tentang kepergian Jenar.
"Harusnya kakak nggak bawa aku kemari karena lusa, aku berencana ke Amerika," ujar Lovely.
__ADS_1
"Karena itu. Kamu tinggal di sini dulu sama Hebat."
"Baiklah." Mau tidak mau, Lovely menuruti permintaan kakaknya meski ia merasa tak nyaman.
Levon pun turun dari mobil lalu menggendong Hebat untuk masuk ke dalam.
"Loly, bisa kita bicara berdua. Sebentar saja!" pinta Brey ketika mereka turun dari mobil.
"Kalian bicaralah! Aku masuk duluan sama Hebat," sahut Levon.
Lovely mengangguk. Lalu mereka beralih ke mobil Brey untuk bicara di sana.
"Sebelum kamu bicara. Aku mau minta maaf lebih dulu karena kejadian di pesta," ujar Lovely.
"Nggak apa-apa. Aku sudah melupakan kejadian itu." Brey tersenyum. Pria itu memang baik.
"Jadi, kamu mau ngomong apa?" tanya Lovely.
Dengan bibir tersenyum, Lovely meraih tangan Brey. "Terima kasih Brey! Kamu akan selalu jadi teman terbaikku."
Brey ikut tersenyum. Lalu dengan lembut, ia memegang kepala Lovely. "Itu saja yang ingin kukatakan. Masuklah!"
Lovely mengangguk kemudian keluar dari mobil.
"Loly!" seru Brey yang membuat Lovely menghentikan langkahnya.
"Nanti kalau kamu mau ke bandara. Telfon aku ya. Biar aku yang antar kamu," ujar Brey lagi.
Lovely mengangguk tersenyum pada Brey. Kemudian ia masuk ke rumahnya. Ternyata di dalam, Tuan Arman dan Nyonya Armiyanti menunggu Lovely di ruang tamu.
Tuan Arman berdiri ketika Lovely masuk. "Loly, kemari. Ayah mau bicara padamu."
__ADS_1
Lovely pun berjalan mendatangi ayahnya dan duduk di depan mereka.
"Apa ayah dan ibu mau bicara tentang kepergian ku ke Amerika?" tanya Lovely.
Tuan Arman mengangguk. "Ayah tahu kalau kamu ingin pergi karena merasa tidak nyaman di sini. Dan itu semua karena ayah yang terlalu terobsesi dengan nama baik keluarga kita, juga dengan harta dan tahta yang bisa hilang kapan saja seperti ayah kehilangan Jenar. Loly, ayah tidak mau kehilangan orang yang berharga untuk ayah. Karena itu, bisakah kamu tinggal di sini bersama kami."
Lovely tidak mengatakan apapun. Ia malah menundukkan kepalanya.
"Setelah Jenar pergi, ayah sadar kalau ayah sudah banyak melakukan kesalahan Loly. Termasuk banyak melukaimu di masa lalu. Karena itu, biarkan ayah dan ibumu menjaga Hebat, juga kamu sampai kamu menikah walau menurutmu ini sudah terlambat," lanjut Tuan Arman yang menyesali semuanya. Dirinya sadar setelah Jenar berbuat jahat sampai kehilangan nyawa.
"Aku tidak ingin menikah dengan Alister," balas Lovely yang kini menatap ayahnya.
"Ayah bilang begitu bukan karena ingin memaksa mu menikah. Ayah tidak lagi memaksamu. Lakukan saja yang ingin kamu lakukan. Yang ayah harapkan adalah kamu tetap di sini bersama kami."
Lovely kembali diam tapi ia memikirkan semua ucapan ayahnya.
"Loly, ibu juga minta maaf karena selama ini tidak peduli padamu," sahut Nyonya Armiyanti.
Lovely tersenyum menatap kedua orang tuanya. "Ibu dan ayah nggak perlu minta maaf. Aku sudah maafkan. Dan masalah aku pergi ke Amerika, aku tetap akan pergi tapi ayah dan ibu tidak perlu khawatir karena aku akan kembali ke sini. Aku di sana untuk menenangkan diri dan kembali setelah aku merasa sudah tenang. Semua yang terjadi ini sungguh buat aku sedih dan rasanya dadaku sesak. Rasanya aku tidak bisa bernafas mengingat bibi kecil tiada karena aku."
Tuan Arman menghela nafas lelah mendengar Lovely yang ingin tetap pergi tapi ia tidak ingin memaksa anaknya. "Baiklah. Ayah dukung apapun keputusan kamu tapi kamu harus janji untuk kembali lagi kemari."
Lovely mengangguk. Disaat yang sama, bel rumah Tuan Arman berbunyi. Pembantu membuka pintunya dan ada Alister di depan. Pembantu rumah itu mempersilahkan Alister masuk ketika Alister mengatakan ingin melihat Lovely dan Hebat.
Lovely yang duduk di ruang tamu bersama orang tuanya pun mendatangi Alister.
"Mau ketemu Hebat?" tanya Lovely, dan Alister mengangguk.
Lovely pun membawa Alister ke kamar Hebat setelah izin pada orang tua Lovely. Dulu, Alister tak terlalu peduli bagaimana sikapnya di depan Tuan Arman. Namun sekarang berbeda. Ia lebih sopan pada mereka.
Alister yang mengekori Lovely, mengulas senyum bahagianya karena mengira Lovely sudah mulai baik kembali padanya yang mengizinkannya masuk bertemu dengan Hebat.
__ADS_1
"Hebat, Om Ali datang!"