
Lovely dan Hebat yang tengah duduk menunggu di dalam, terkejut ketika mereka melihat sebagian lampu di ruangan itu mati dan disaat yang sama, pintu ruangan itu terbuka. Ada Alister yang berdiri dengan setelan jas hitamnya dan dengan dasi kupu-kupunya. Pria itu berdiri dibawah lampu yang menyorotnya langsung. Lovely yang terkejut, refleks berdiri menatap Alister yang melangkah pelan ke arahnya. Lovely bingung melihat Alister. Terlebih ketika melihat senyuman Alister mengarah kepadanya.
'Sebenarnya dia mau apa?'
Alister yang kini berdiri di depan Lovely, tidak ingin berbasa-basi. "Cinta, menikahlah denganku!"
Lovely yang mendengar itu, syok. Mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna melihat Alister. Bahkan Lovely hanya diam, seketika tak bisa bicara. Meski melihat pakaian formal Alister seperti ingin ke pesta tapi Lovely sama sekali tak punya pikiran jika pria itu akan melamarnya. Alister pun tidak pernah menyangka dirinya akan berbuat seperti ini terhadap perempuan. Bahkan ia hanya ingin melamar Lovely dengan sederhana dan biasa saja tapi ibu dan adiknya memaksa dirinya berpakaian formal, serta memesan tempat lamaran mewah untuk melamar Lovely.
Karena mendengar desakan ibunya hingga Alister menuruti keinginan ibunya dengan memesan tempat mewah serta memakai setelan jas pesta.
"Cinta, apa kamu dengar omonganku?" tanya Alister dengan kening mengerut melihat Lovely.
Lovely masih bingung sampai ia menggeleng lalu kemudian mengangguk lagi. Hal itu malah membuat Alister ikutan bingung.
"Kamu sebenarnya dengar atau tidak?" tanya Alister kembali.
"De-dengar yang mana?" Lovely bahkan bicara gagap dan juga canggung melihat Alister.
Hebat yang berdiri di sebelah ibunya, menarik jari kelingking ibunya sampai Lovely menoleh kearahnya. "Cinta, menikahlah denganku! Om Ali bilang begitu Ma!"
Karena kesal, Hebat menggantikan Alister mengulang kalimatnya dengan begitu jelas. Lovely yang mendengar makin kaget. Ia kembali melihat Alister.
"Apa ini rencana kamu yang sebenarnya? Menikahiku supaya bisa jadi ayahnya Hebat!"
__ADS_1
Alister menghela nafas pelan diserta dengan raut wajahnya yang kesal tapi ia berusaha tetap tenang dengan memaksakan dirinya tersenyum di depan Lovely. "Rencanaku memang ingin menikahimu Cinta. Karena daripada kita berada di pengadilan, memperebutkan hak asuh Hebat, lebih baik kita menikah saja. Menjadi suami istri yang nyata dan bareng-bareng ngurus anak kita."
Lovely tersenyum miring, melihat Alister. "Aku gak nyangka kalau kamu menggunakan pernikahan untuk membuatku tunduk sama kamu."
Alister selalu berusaha untuk mengalah pada Lovely tapi mendengar ucapan Lovely yang lagi-lagi salah mengartikan maksudnya, membuatnya kesal. Pria itu dengan kesal, menarik tangan kanan Lovely lalu memasukkan cincin lamarannya secara paksa di sana.
"Alister, kamu ...,"
Lovely menghentikan kalimatnya ketika Alister tiba-tiba saja menariknya sampai menempel ke tubuhnya. Lovely berusaha melepaskan tangan Alister yang merangkul erat pinggangnya tapi kekuatan Alister lebih besar darinya hingga ia sulit melepaskan diri dari Alister.
"Lepas! Kamu nggak lihat di sini ada Hebat. Kamu jangan macam-macam ya!" kata Lovely dengan suaranya yang rendah karena tidak ingin didengar oleh Hebat.
Alister pun tidak ingin anaknya mendengar suaranya hingga ia mendekatkan bibirnya ditelinga Lovely kemudian berbisik, "kamu berani melepaskan cincin pemberianku, kamu akan tahu akibatnya."
"Kalau kamu berani menolakku, aku akan langsung mengajukan hak asuh Hebat ke pengadilan. Dan setelah aku mengambil hak asuh Hebat, aku tidak akan pernah mengizinkanmu melihatnya seumur hidupmu." Ancaman Alister hanya untuk menggertak Lovely karena sebenarnya, ia tidak akan pernah mau melakukan hal itu meski Lovely menolaknya. Dan ancamannya itu berhasil menakuti Lovely hingga Lovely membiarkan cincin itu tersemat dijari manisnya, bahkan ia diam saja dan tak berniat membalas kata-kata Alister.
Alister yang melihat sikap diamnya Lovely, tersenyum puas. Namun ia menyembunyikan senyumnya dengan memalingkan wajahnya ke arah Hebat yang sejak tadi memperhatikan mereka.
Alister pun berjongkok di depan Hebat. "Hebat, kamu senang nggak kalau Om Ali jadi papa kamu?"
Hebat mengangguk tapi tidak bicara.
Alister memegang kepala Hebat dan mengelus rambutnya sambil berkata, "Hebat, sebenarnya, Om Ali ini memang papa kamu. Papa kandungnya Hebat. Selama ini papa nggak muncul di depan kamu lebih awal karena papa nggak tahu kalau kamu ada di dunia ini. Papa minta maaf karena terlalu bodoh, tidak menyadari kehadiranmu Nak. Karena itu, papa mau menebusnya dengan terus berada disisimu! Papa akan kasih apapun yang kamu inginkan. Kasih sayang, cinta dan keluarga bahagia. Papa akan kasih semuanya untuk kamu dan mama kamu."
__ADS_1
Seketika pula Hebat menangis tapi karena ia malu, ia menundukkan wajahnya. Alister yang melihat itu, lantas menarik anaknya ke dalam pelukannya. "Jangan menangis sayang! Papa di sini!"
Lovely ikut sedih melihat anaknya menangis dipelukan Alister. Meski ia tidak senang dengan Alister tapi ia seorang ibu yang tidak tega melihat anaknya menangis dalam pelukan ayahnya. Lovely tahu bahwa anaknya itu merindukan sosok seorang ayah dan itu membuatnya sedikit luluh dengan lamaran Alister yang sebenarnya terpaksa ia terima demi berdamai.
Disaat yang sama, semua keluarga masuk ke ruangan itu. Lovely terkejut melihat kedatangan mereka dan itu membuat makin kesal pada Alister yang benar-benar
Namun, Nyonya Arvita dan Iren bingung melihat ekspresi Lovely yang tampak tidak senang. Padahal perempuan yang habis dilamar pasti akan tersenyum senang.
"Azil, kamu yakin lamaran Alister diterima," bisik Nyonya Arvita yang tidak langsung mendekati Alister dan Lovely.
"Yakin nyonya!"
"Terus kenapa wajah Lovely kesal begitu?" tanya Nyonya Arvita sembari melirik Lovely.
Azil ikut melihat ke sana dan dengan santainya menjawab. "Sepertinya karena terpaksa nyonya."
"Terpaksa? Astaga! Apa Alister mengancam Lovely supaya menerima lamarannya?"
"Mungkin saja soalnya Tuan Alister sempat bilang sama saya kalau apapun yang terjadi, beliau akan buat Nona Lovely menerima lamarannya," jelas Azil.
"Padahal saya suruh dia untuk bersabar sampai wanita itu bersedia menikah tanpa ada tekanan." Nyonya Arvita mengenal tabiat anaknya yang memang suka memaksa tapi ia tetap menggeleng melihat Alister.
Belum tamat....😂😁
__ADS_1