
Jenar sama sekali tak kasihan melihat tangisan Lovely di hadapannya. Malah, perempuan itu tersenyum sinis
menatap Lovely seakan yang ia lakukan pada Lovely tidak salah. “Kalau kamu bilang aku egois, terserah Loly. Aku tidak peduli. Asal kamu tahu, aku begini karena memikirkan masa depanku, kebahagiaanku. Kita hidup di dunia ini untuk bahagia bukan. Kalau aku hanya peduli padamu dan tidak peduli dengan hidupku, itu sama saja aku menghancurkan hidupku sendiri. Aku tidak ingin jadi orang bodoh yang memberikan kebahagiaanku padamu yang jelas-jelas akan bahagia dibanding aku.”
Lovely tercengan mendengar ucapan bibi kecilnya sampai ia tak mampu berkata-kata dan hanya menatap Jenar dengan raut wajah sedih. Air matanya pun masih mengalir tanpa henti karena begitu sedihnya dengan Jenar yang ternyata tak pernah menyayanginya, menganggapnya sebagai keluarga. Dadanya bahkan sangat sesak, lebih sesak ketika dirinya diusir pergi dari rumah ini lima tahun lalu.
Di saat yang sama, polisi datang untuk menangkap Jenar. Azil lah yang telah menghubungi polisi itu setelah menemukan Lovely dan Hebat. Semua orang yang melihat kedatangan polisi, kaget tapi yang paling terkejut adalah Jenar yang tidak ingin dipenjara.
“Bu Jenar, Anda ditangkap karena kasus penculikan. Silahkan ikut kami!” Salah satu polisi menyahut yang membuat Jenar semakin takut untuk ikut dengan mereka.
Jenar diam sejenak menatap kedua polisi itu. Begitu juga yang lain-yang membiarkan Jenar ditangkap oleh mereka.
Namun tidak dengan Alister yang tidak sabar melihat Jenar dibawa oleh kedua polisi itu. “Ikutlah dengan mereka Jenar! Itu akan meringankan hukumanmu ketimbang menjadi pembangkang, hanya akan merugikanmu. Lagipula, ibumu sudah ada ditangkap oleh mereka karena menjadi kaki tanganmu.”
Jenar makin syok mendengar ibunya ikut ditangkap oleh mereka. Karena itu, Jenar tidak ingin menurut dengan ikut bersama kedua polisi itu. Tanpa diketahui orang, Jenar mengeluarkan pisau lipat yang memang ia sediakan untuk melindungi dirinya jika nantinya terjadi masalah pada dirinya. Ternyata pisau itu berguna juga untuknya. Dengan cepat, ia berlari mendekati Hebat yang berdiri bersama ibunya, dan dengan cepat pula, ia menarik Hebat sampai berada dalam genggamannya.
“Mama!”
“Hebat!”
Lovely dan Hebat sama-sama berteriak kala Jenar merangkul leher Hebat. Semua orang terkejut ketika Jenar menggenggam erat leher Hebat.
“Jenar, apa yang kau lakukan?” Refleks pun Alister berteriak sembari ingin mendekati Hebat. Namun, ditahan oleh Jenar yang tiba-tiba meletakkan pisau dileher Hebat.
“Jangan berani mendekatiku! Kalau tidak, anak ini akan mati!” Jenar mengancam sembari berjalan menjauhi semua orang, dan tidak ada yang berani mendekati Jenar karena takut Jenar melakukan hal nekat dengan melukai Hebat.
__ADS_1
“Bibi Kecil, lepaskan anakku! Dia nggak tahu apapun. Kalau bibi benci padaku, lukai aku saja. Aku mohon jangan sakiti dia!” Lovely marah pada Jenar tapi melihat anaknya berada dalam ancaman, membuatnya berubah menjadi lemah dan rela mengorbankan dirinya sendiri.
“Huh!” Jenar malah tersenyum sinis, “aku tidak ingin tertipu lagi dengan kalian. Lagipula, aku hanya ingin keluar dari sini tanpa ditangkap polisi. Kalau kalian membiarkanku bebas, aku juga tidak akan melakukan apapun pada Hebat.”
Jenar terus berjalan mundur ke belakang untuk bisa keluar dari sana. Lovely dan Alister pun berjalan pelan mengikuti Jenar.
“Aku bilang, jangan mendekat! Kalau tidak, dia akan terluka!”
“Mama!” Hebat berteriak saat pisau itu mengiris sedikit kulitnya.
Lovely ketakutan melihat luka kecil di leher anaknya hingga ia seketika menghentikan langkahnya. “Aku akan diam di sini. Aku diam bibi.”
Lalu, Lovely melihat semua orang dengan ekspresi panik. “Semuanya, tolong! Biarkan bibi pergi dari sini. Jangan ada yang bergerak!”
Alister bersama Azil tidak tinggal diam. Mereka berdua buru-buru mengambil mobil lalu mengikuti Jenar. Lovely ingin tahu keadaan anaknya hingga ia ikut dengan mereka. Levon yang tidak ketinggalan, ikut bersama kedua polisi itu untuk mengejar Jenar.
“Alister, cepat!” titah Lovely yang begitu khawatir dengan anaknya.
Alister pun mempercepat laju kendaraannya mengejar mobil Jenar yang juga dalam kecepatan tinggi. Mobil polisi berada di belakang Alister bersama dengan mobil Levon. Mereka melakukan aksi kejar-kejaran. Terlebih dengan suara mobil polisi yang menarik perhatian semua orang.
Jenar yang melihat mobil mereka mengejar, makin ketakutan hingga ia menambah lagi kecepatan mobilnya. Sesekali ia melihat keadaan di belakang hingga ia tidak fokus melihat ke depan. Apalagi ada Hebat yang berusaha bebas darinya dengan mendorong tangannya yang menyetir.
“Hebat, diamlah!” teriak Jenar pada Hebat yang menangis keras.
Hebat semakin menangis sembari berteriak memanggil ibunya. Jenar tidak mempedulikan anak itu. Ia fokus melihat belakang. Karena itu juga, ia tidak fokus ke depan hingga tak melihat ada truk yang berhenti di depan.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga, Jenar menekan rem tapi itu tidak berguna hingga ia memutar stik mobilnya ke sebelah kiri. Namun karena kecepatan mobilnya terlalu tinggi, membuatnya tak bisa mengendalikan mobilnya dan mengakibatkan mobilnya itu jatuh ke jurang.
Mobil Alister yang ada di belakang, berhenti. Alister dan Lovely segera berlari mendekati tempat kejadian. Mobil yang jatuh ke jurang itu, terbalik. Lovely histeris melihat mobil bibinya berada di sana.
“Hebat! Aaaaaaaa!” Lovely bahkan ingin turun ke sana untuk melihat anaknya. Namun ditahan oleh Alister.
“Hebat, aaaaaa, tidaaak. Anakku!”
Disaat yang sama, mobil polisi dan mobil Levon datang. Kedua polisi itu segera melakukan tindakan sebelum mobil itu meledak di sana.
“Jurangnya tidak dalam. Kami akan turun ke bawah dan memastikan mereka baik-baik saja. Bapak ibu di sini saja!” kata salah satu polisi.
“Saya ikut. Saya mau lihat anak saya Pak. Hiks, hiks, hiks!” Lovely tidak bisa sabar. Ia ingin segera melihat anaknya dan memeluknya.
“Tidak Bu. Anda tidak boleh turun. Percayakanlah pada kami!”
“Saya mohon Pak!” kata Lovely memohon.
Alister kasihan melihat Lovely menangis sembari memohon pada kedua polisi itu hingga ia menarik Lovely ke arahnya. “Biar aku saja yang turun. Hebat juga anakku. Kau pasti lebih percaya padaku kan?”
Mendengar itu, membuat Lovely akhirnya mengalah. Alister melihat ke arah polisi kemudian mengangguk. Kedua polisi itu setuju dengan Alister. Lalu mereka pun turun ke bawah. Sementara Azil, Levon menunggu bantuan datang dari pihak polisi yang lain.
Lovely hanya fokus melihat ke jurang, mencari keberadaan anaknya. “Hebat, mama mohon. Jangan terluka Nak! Tuhan, tolong selamatkan anakku! Selamatkan mereka!”
Levon yang mendengar suara adiknya berdoa, lantas menarik Lovely ke dalam pelukannya. “Hebat dan bibi kecil pasti selamat, Loly. Jangan takut dan tetaplah tenang!”
__ADS_1