
Dengan ribuan pertanyaan dibenaknya mengenai ucapan Pak Qomar serta rasa penasaran yang menggebu-gebu, Lovely membunyikan bel apartemen Alister. Raut wajahnya tampakĀ begitu serius. Bahkan perasaannya yang baik-baik saja, kini berubah menjadi emosi. Namun Lovely berusaha tahan karena tidak ingin marah sebelum mendengarkan penjelasan Alister.
Pintu itu terbuka. Alister sedikit kaget melihat Lovely berdiri di hadapannya karena sebelumnya Lovely tidak bilang jika ingin datang ke rumahnya.
"Cinta! Kau di sini?" Pertanyaan bodoh yang jelas jawabannya, terlontar begitu saja dari bibir Alister. Namun kemudian, ia mengajak perempuan itu masuk ke apartemennya. "Ayo masuk dulu ke dalam!"
"Alister!" Lovely menyahut dengan suara pelan ketika Alister membalikkan badan untuk masuk ke dalam.
Alister kaget mendengar namanya disebut oleh Lovely, dan ia tampak bingung sampai Alister kembali membalikkan badannya berhadapan dengan Lovely. Ia menatap Lovely dengan kening mengerut.
"Alister! Itu namamu kan?" tanya Lovely dengan jelas, dan tatapannya dingin menatap Alister.
Hal itu membuat Alister terkejut. Namun, Alister tidak segera mengakuinya. "Apa maksudmu Cinta?"
Lovely tercengan, bahkan tersenyum miring melihat Alister malah pura-pura tidak tahu di hadapannya. "Aku bertemu dengan Pak Qomar di bawah. Dia mengatakan siapa kamu? Kamu jangan pura-pura bodoh lagi. Karena aku sudah tahu kalau kamu adalah Alister, tunangan Bibi Jenar."
"Cinta, dengarkan aku ...,"
"Nggak. Kamu yang harus dengarkan aku Tuan Alister," ujar Lovely yang memotong ucapan Alister.
Alister pun diam.
"Sejak awal, kamu sudah tahu kalau aku adalah keponakan Bibi Jenar tapi kamu masih mendekatiku. Sekarang aku ingin tahu, alasan kamu mendekatiku padahal kamu tahu siapa aku. Apa kau melakukannya karena hanya ingin bersenang-senang denganku?"
"Tidak Cinta. Aku hanya ingin dekat denganmu saja," bantah Alister.
Lovely tersenyum getir dengan tatapannya yang seolah mendengar sebuah lelucon. "Hanya ingin dekat? Mustahil kamu mendekatiku kalau hanya ingin dekat denganku. Mustahil kau tidak punya alasan. Apa karena aku perempuan yang tidur bersamamu, lima tahun lalu?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku sudah bilang, kalau aku tahu semuanya Alister."
__ADS_1
Di saat Lovely bicara, ia tak sengaja melihat seorang perempuan muda keluar dari kamar Alister. Perempuan itu hanya memakai kemeja pria yang menunjukkan keseksiannya. Itu membuat Lovely menganggap bahwa perempuan itu, teman tidur Alister. Lovely semakin marah dan benci pada Alister.
"Sungguh, aku bodoh karena percaya pada laki-laki bajingan sepertimu. Ternyata kau mendekatiku karena menganggap aku murahan. Sama seperti perempuan lain yang bisa kau pakai kapan pun kamu mau," lanjutnya lagi.
Alister diam saja. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Lovely. Dirinya sudah terpojok di depan perempuan itu.
"Kau tahu Alister. Tipuanmu itu membuatku sadar bahwa kau laki-laki rendahan yang hanya peduli pada hasrat dan nafsumu. Kau tidak peduli bagaimana perasaan seorang wanita yang kau tipu Alister."
Alister masih diam di sana karena apa yang dikatakan Lovely benar adanya. Hal itu menguatkan keyakinan Lovely bahwa Alister memang sengaja mendekatinya untuk mempermainkannya.
Dengan penuh amarah dan mata berkaca-kaca, Lovely berbalik pergi.
Seseorang yang berada di dalam mendekati Alister yang masih berdiri di depan pintu. Orang itu adalah Alezar, teman Alister sekaligus sepupunya yang datang berkunjung bersama kekasihnya.
"Al, kayaknya wanitamu salah paham. Kenapa kau tidak pergi jelaskan padanya?" ujar Alezar.
"Untuk apa aku menjelaskan padanya? Dia bukan wanitaku. Dia sama seperti perempuan lain yang datang untuk tidur denganku. Aku hanya bersenang-senang dengannya."
Alister berbalik ketika Alezar memberikannya kode untuk berbalik dan ia seketika menerima tamparan dari Lovely.
"Laki-laki bajingan. Ternyata maksudmu hanya ingin bersenang-senang. Huh, kau sungguh rendahan Alister."
Setelah mengatakan itu, Lovely melempar kalung ke wajah Alister. "Aku kembalikan barangmu. Aku tidak Sudi menyimpan barang darimu. Mahal tapi murahan."
Alister tercengan mendengar semua ucapan Lovely. Ia mengusap pipi bekas tamparannya sembari menatap kepergian Lovely.
Alezar memegang bahu Alister sembari tersenyum menertawakan temannya.
"Dahsyat," ucap Alezar menggeleng-geleng, "dia wanita pertama yang berani menamparmu. Kenapa kau tidak nikahi saja dia?"
Alister melirik tajam Alezar lalu melangkah masuk ke dalam dengan perasaan kesal karena ditampar oleh Lovely tapi tak bisa melakukan apapun. Terlebih ia merasa seolah dipermalukan oleh Lovely yang mengatakan banyak hal tak pantas untuknya. "Sialan!"
__ADS_1
Di parkiran, Lovely duduk di dalam mobilnya. Di sana, ia memegang stir mobilnya dengan kepala menunduk. Ia menangis keras karena kecewa, sedih dan sakit hati pada Alister yang ternyata hanya bermain-main dengannya. Padahal hatinya sudah sepenuhnya ia berikan pada Alister. Nyatanya itu malah membuatnya semakin patah hati sedalam-dalamnya.
Beberapa menit kemudian, Lovely berhenti menangis. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya lalu memperbaiki riasannya agar orang di rumahnya tidak bertanya-tanya. Namun ketika mobil melaju pergi, Lovely kembali mengeluarkan air matanya. Rasa sakitnya pada Alister, sungguh mengguncang hati dan perasaannya.
Sampai di rumah, Lovely langsung masuk ke kamarnya. Bahkan ia tidak menoleh ketika Levon memanggilnya. Levon khawatir hingga ia melangkah menyusul Lovely yang menaiki tangga.
"Loly, kakak panggil kamu nggak dengar. Di ruang tamu ada Brey tungguin kamu. Kamu temuin gih!"
"Aku capek kak. Bilangin maafku sama dia karena nggak bisa temuin dia dulu." Lovely tidak menatap kakaknya ketika bicara, ia hanya melirik saja karena tidak ingin Levon melihat air matanya.
"Kamu sakit?"
"Aku sakit kepala. Butuh istirahat sebentar." Lovely kembali melangkah setelah menjawab Levon.
Di kamar, Lovely langsung menutup rapat-rapat kamarnya lalu duduk bersandar di pintu kamarnya yang tertutup. Di sana, ia lanjut menangis bahkan memegang dadanya yang terasa sesak.
Pertama kalinya ia merasakan sakitnya patah hati. Ternyata patah hati sesakit ini hingga membuatnya sulit bernafas.
"Aku bodoh banget. Aku harusnya nggak mudah terbuai sama pria bajingan kayak dia. Dia mendekatiku hanya untuk menjadikanku pemuas nafsu. Bodoh banget kamu Loly," umpat Loly pada dirinya sendiri.
Sementara Alister yang berada di apartemennya, malah minum-minum. Setelah melihat kepergian Lovely, pikirannya menjadi kacau tapi ia tidak mengatakan apapun pada Alezar yang menemaninya minum.
"Kalau cinta, jangan disia-siakan! Di dunia yang modern ini, sulit mendapatkan wanita yang tulus mencintai kita. Sekalinya dapat, bakal dapat ujian yang buat kita nyerah begitu aja. Contohnya kamu."
Alister tidak mengatakan apapun tapi ia menghela nafas kasar sembari mengangkat wajahnya ke atas.
"Kejarlah dia! Lupakan gengsimu!" kata Alezar.
"Aku hanya bersenang-senang. Aku tidak mencintainya!"
"Kau masih cinta sama masa lalumu? Sadarlah Al, dia wanita yang tidak peduli dengan cintamu!"
__ADS_1
Alister tidak mengatakan apapun. Ia malah meneguk habis alkoholnya.