
Mobil Jenar sudah berhasil diangkat ke atas oleh beberapa orang dari pihak kepolisian, juga dari bawahan Alister yang ikut membantu sampai mobil itu berhasil diambil dari jurang. Jurangnya tidak terlalu dalam hingga mereka pun tidak susah mengevakuasi Jenar dan Hebat yang terluka parah. Keduanya pun kini dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Lovely yang duduk menemani anaknya, terus menangis sembari menggenggam tangan Hebat yang terbaring tak sadarkan diri di dalam ambulance yang berjalan menuju rumah sakit. Anak itupun sudah dipasangkan masker oksigen. Dan Lovely tampak begitu khawatir melihat Hebat yang masih kecil ditemukan terluka parah.
Sementara Jenar berada di mobil ambulance yang berada di belakang. Kondisi Jenar lebih parah dibanding Hebat karena ternyata, ia berusaha melindungi Hebat ketika mobil itu jatuh. Polisi yang menemukan mereka, melihat Jenar tengah berada di atas Hebat dengan posisi memeluk anak kecil itu.
Sekitar beberapa menit, mobil ambulance itu sampai di rumah sakit. Empat perawat yang menunggu dua pasiennya, buru-buru membuka pintu mobil ambulance lalu membantu pasien masuk ke rumah sakit. Keduanya ditangani di ruang IGD dengan dokter yang berbeda tentunya. Tapi karena kondisi mereka yang parah hingga mereka buru-buru dioperasi oleh dokter.
Lovely duduk menunggu di luar dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia yang lemas dan gelisah karena memikirkan kondisi anaknya dan juga bibinya, hanya bisa duduk di ruang tunggu sambil sesekali melihat ke ruang operasi.
Alister yang duduk di sebelah Lovely, berusaha menenangkan kegelisahan Lovely dengan mengusap punggung perempuan itu. “Jangan terlalu gelisah dan khawatir! Mereka pasti akan baik-baik saja. Dan seperti namanya, Hebat adalah anak yang sangat hebat. Dia pasti bisa melalui masa kritis ini.”
Sebenarnya, Alister juga sangat takut dan sangat khawatir dengan kondisi anaknya tapi ia berusaha tidak menunjukkannya di depan Lovely yang mungkin akan semakin drop jika melihatnya ikut gelisah.
Lovely tidak mengatakan apapun. Ia masih dalam posisinya yang menunduk dengan kedua tangannya yang masih saling menggenggam.
Disaat yang sama, Tuan Arman dan yang lainnya tiba. Mereka semua mendatangi Lovely dan Alister yang menunggu di ruang operasi.
“Nak Alister!” seru Tuan Arman.
Alister berdiri ketika mendengar seruan Tuan Arman tapi tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi Hebat dan Jenar?” tanya Tuan Arman khawatir.
“Mereka masih ditangani dokter di dalam tapi kata dokter, kondisi Jenar lebih parah dari Hebat. Kepalanya banyak mengeluarkan darah dan pinggangnya terkena pecahan kaca karena melindungi Hebat,” tutur Alister yang terlihat sedih.
Tuan Arman yang mendengar itu, seketika lemas. Nyonya Armiyanti dan Levon dengan cepat menahan Tuan Arman yang nyaris jatuh gara-gara tak bisa menahan tubuh lemasnya. Syok tentunya. Bahkan Tuan Arman yang kini dibantu duduk oleh Levon, tidak mampu bicara lagi.
Semuanya pun diam dengan kekhawatiran mereka. Namun Nyonya Armiyanti yang kasihan melihat Lovely duduk merenung di sana, berjalan pelan mendekati anaknya. Tanpa mengatakan apapun, ia duduk lalu memeluk anaknya dan seketika pula, Lovely mengeluarkan tangisan sedihnya dalam pelukan ibunya.
“Kamu harus kuat Nak. Yakinlah kalau semuanya akan baik-baik saja.” Kali ini, Nyonya Armiyanti ingin terus berada disisi anaknya meski ia merasa hal yang ia lakukan ini sudah sangat terlambat tapi setidaknya ia merasa berguna sebagai ibunya Lovely.
Sekitar empat jam berlalu, operasi selesai dan dokter keluar dari dalam. Semua orang yang menunggu, seketika mendekati dokter itu.
“Bagaimana kondisi anak saya dan juga bibi saya Dok?” tanya Lovely.
“Kondisi anaknya masih dalam keadaan kritis tapi operasinya berjalan lancar. Sayangnya untuk pasien satunya, kami tidak bisa menyelamatkannya. Pasien kehilangan banyak darah. Kepalanya terluka parah dan operasi tidak bisa menyelamatkannya. Kami sudah berusaha semampunya tapi tuhan berkehendak lain.”
Penjelasan dokter itu membuat semua orang terkejut, tak menyangka bahwa dokter tidak bisa menyelamatkan Jenar. Lovely langsung terduduk lemas di sana, sedangkan Tuan Arman mengusap seluruh wajahnya yang merasa sedih kehilangan Jenar. Walau bagaimanapun, Jenar adalah adiknya. Tentu ada perasaan sedih mendengar adiknya telah tiada.
Begitu juga dengan Levon yang tidak mengharapkan kematian bibinya. Ia hanya berharap Jenar dipenjara sebagai hukuman atas perbuatannya.
__ADS_1
Dokter itu masih bicara dengan Alister dan Levon mengenai Jenar. Lovely sudah tidak sanggup mendengarkannya lagi. Ia duduk diam dengan raut wajah sedih bercampur penyesalan yang tiba-tiba muncul dihatinya. Penyesalan dirinya yang seharusnya tidak kembali ke Indonesia. Dengan begitu, kejadian ini tidak akan terjadi. Ia dan anaknya bisa hidup bahagia di luar negri, dan bibinya pun bisa hidup bahagia dengan pernikahannya tentunya.
Setengah jam berlalu, Hebat dipindahkan ke ruang ICU, sedangkan jenazah Jenar dibawa pulang oleh Tuan Arman dan istrinya.
“Kalau kamu mau antar kepergian bibimu untuk yang terakhir kali, pergi saja. Biar aku yang jaga Hebat di sini!” ujar Alister yang berada di ruang ICU bersama Lovely.
Lovely tidak mengatakan apapun. Matanya tetap memandang Hebat yang terbaring dengan bantuan masker oksigen.
“Cinta!”
Lovely masih tak menyahut. Perempuan itu malah mengeluarkan air matanya tapi ia segera memalingkan wajahnya sembari mengusap cepat air mata itu dari pipinya.
“Aku tahu kamu terpukul karena kepergian Jenar tapi jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin ini memang sudah jalannya, sudah takdir.” Melihat sikap diam Lovely, membuat Alister mengerti bahwa Lovely pasti merasa bersalah dan juga terpukul sehingga tidak berani mengantar kepergian Jenar.
Lovely akhirnya menoleh melihat Alister tapi pandangannya terlihat tidak senang pada Alister. “Mungkin memang takdir tapi karena kesalahanku juga, sampai bibi meninggal dan Hebat jadi begini. Kalau saja, aku tidak egois, dan lebih peduli lagi dengan bibi. Ini semua tidak akan terjadi. Dan yang paling kusesalkan adalah, aku tidak pergi dari sini. Hebat sudah berapa kali minta kembali ke Amerika tapi aku mengabaikannya. Kalau aku mendengarkannya, kejadian ini tidak akan terjadi.”
Alister tidak terima perkataan Lovely tapi ia tidak ingin berdebat disaat Hebat tengah dalam kondisi kritis. Ia memilih mengalah. “Kamu butuh waktu sendiri. Aku tidak akan ganggu tapi aku tetap menunggu di luar. Kalau butuh sesuatu, kau panggil aku saja.”
Alister akhirnya keluar dari ruangan itu, dan Lovely tidak mempedulikan hal itu. Ia malah tenang melihat pria itu menjauh darinya. Namun ketika pintu tertutup, Lovely mengeluarkan air matanya yang berusaha ia tahan.
__ADS_1
“Hebat, bangun ya Nak. Mama janji kalau Hebat bangun, Mama bakal turuti Hebat untuk kembali ke Amerika. Hebat senang dengarnya kan.” Lovely memegang tangan anaknya dan menundukkan wajahnya yang menangis tersedu-sedu di sana.