
Sampai di rumah, Lovely gelisah dan resah gara-gara memikirkan tindakannya yang langsung marah-marah pada Alister di depan ibunya. Lovely tak bisa tenang hingga ia menghubungi Alister tapi Alister tidak mengangkat panggilannya. Oleh sebab itu, Lovely terpaksa mendatangi Alister di apartemen pria itu.
Sampai di apartemen itu, Lovely tak mendapati Alister di sana. Namun, Lovely menunggu lelaki itu datang karena sebelum bertemu dengan Alister, ia tidak akan merasa tenang. Mungkin saja Alister akan datang jika menunggu sebentar di sana.
Jika Lovely tak merasa bersalah atas sikapnya tadi siang, Lovely tidak akan bersedia menunggu di depan apartemen itu seperti orang bodoh.
"Sebenarnya Ali ke mana? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku? Pesanku pun tidak dibalasnya. Apa dia sangat sibuk sampai tidak sempat melihat hapenya?" gumam Lovely yang duduk di depan pintu apartemen.
Menit demi menit berlalu, Alister tidak muncul. Bahkan Lovely sudah menunggu selama setengah jam di sana. Namun, Alister tak kunjung datang hingga akhirnya, Lovely memilih beranjak dari tempatnya. Dengan langkah pelan disertai sedikit rasa kecewa, Lovely masuk ke lift. Namun ketika keluar kembali dari lift itu, Lovely dikejutkan dengan Alister yang berdiri di depan lift.
"Ali!"
"Ternyata aku hampir terlambat datang. Sory, saking sibuknya aku sampai tidak mengangkat panggilanmu dan setelah rapat, aku baru bisa membaca isi pesanmu. Karena takut kamu pergi, aku langsung datang kemari tanpa sempat membalas pesanmu," jelas Alister yang membuat Lovely paham.
"Nggak apa-apa. Aku yang salah karena datang tiba-tiba. Harusnya aku bilang dulu sebelumnya tapi karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu, sampai aku datang ke rumahmu." Lovely pun merasa salah karena tidak mengatakan apapun pada Alister.
"Kalau gitu, kita masuk lagi ke apartemen. Di sana lebih nyaman bicara daripada di sini!" Alister menarik tangan Lovely masuk ke lift dan membawa wanita itu masuk ke apartemennya.
Sebelum bicara, Alister membuatkan minuman dingin untuk Lovely lalu meletakkan minuman itu di atas meja sembari duduk di depan Lovely. "Jadi apa yang ingin kamu katakan, Cinta sayang?"
Salah satu hal yang membuat perasaan Lovely tumbuh untuk Alister adalah perlakuan lembut Alister kepadanya yang selalu memanggilnya 'Cinta Sayang'
Dirinya seakan dianggap ratu oleh pria itu. Terlebih, Alister mendengarkannya selama ini dengan tidak memaksanya lagi.
"Masalah ibumu tadi. Aku ngerasa nggak enak banget sama beliau. Beliau pasti menganggapku wanita kasar dan arogan yang nggak punya sopan santun."
__ADS_1
Alister tersenyum. "Ibuku bukan orang yang selalu berpikiran negatif sama orang. Beliau berpikiran terbuka Cinta. Jadi, selama anaknya menyukai sesuatu, beliau tidak akan menentangnya."
"Begitu ya." Meski Alister sudah menjelaskan mengenai sikap ibunya tapi tetap saja, Lovely merasa tidak enak pada Nyonya Arvita, "ngomong-ngomong, boleh nggak kalau aku mengundang beliau makan siang besok."
"Makan siang?" Alister sedikit kaget mendengar Lovely ingin makan siang bersama ibunya.
"Aku nggak ada maksud apa-apa kok. Aku cuma mau minta maaf aja dengan mengajak beliau makan siang." Lovely tidak ingin Alister salah paham hingga dengan cepat, ia menjelaskan maksudnya.
"Nanti aku kasih tahu. Kalau mama punya waktu besok, aku pasti akan menghubungimu tapi Cinta ...," Alister menjeda kalimatnya dan malah berpindah tempat duduk di sebelah Lovely agar lebih mesra lagi.
"Ada apa?"
"Akhir-akhir ini kamu tidak cuek dan tidak kaku lagi di depanku. Apa kamu sudah bisa menerimaku seutuhnya? Maksudku, kamu tidak membenciku lagi?"
Lovely tidak segera menjawab. Ia malah terlihat gelisah dengan tangannya saling meremas. Mau jujur tentang perasaannya tapi ia malu. Tidak jujur, rasanya itu membuat dirinya terbebani sendiri.
Lovely yang malu terpaksa mengangkat wajahnya menatap Alister. "Sama sekali nggak. Hanya saja, aku belum terbiasa berhubungan dengan laki-laki. Kamu adalah laki-laki pertama yang berhubungan denganku. Jadi, aku tidak terbiasa menghadapimu.
Alister mendekatkan wajahnya ke wajah Lovely lalu dengan lembut, ia mencubit dagu perempuan itu. "Kalau begitu, kamu harus biasakan menghadapiku yang begini karena selamanya aku akan selalu menempel padamu."
Kali ini, Lovely tidak menghindari Alister lagi. Bahkan ia menutup matanya, berharap bahwa laki-laki di depannya itu, mencium bibirnya. Alister tahu yang diinginkan Lovely hingga ia tersenyum menatap perempuan itu, tapi ia tidak ingin menyentuh Lovely sebelum meminta izin.
"Apa sekarang aku boleh menciummu?"
Mendengar pertanyaan Alister, membuat Lovely kembali membuka matanya. "Kamu minta izin?"
__ADS_1
"Tentu saja karena kamu tidak suka kalau aku langsung melakukannya."
Lovely semakin jatuh cinta pada Alister yang ternyata memikirkan perasaannya, dan tanpa pikir panjang lagi, Lovely mengangguk, mengiyakan permintaan Alister. Dengan perasaan senang, Alister langsung mendaratkan bibirnya di bibir Lovely.
Dengan lama, Alister mencium kekasihnya, menyatukan bibirnya, dan lidahnya ke mulut Lovely yang merespon baik sentuhannya itu. Sambil mencium, tangan Alister menjelajah ke mana-mana. Bahkan tangan itu kini memasuki area dada Lovely.
Seketika Lovely terkejut kala Alister meremas dadanya hingga ia mendorong laki-laki itu. "Ali!"
Alister sadar dengan sesuatu yang ia lakukan, dan itu membuatnya merasa tak enak hati pada Lovely. "Sory, aku terbawa suasana."
Lovely tak ingin membuat Alister kecewa hingga ia langsung mengalungkan tangannya dileher Alister kemudian mencium pria itu dengan agresif. Alister sampai terkejut dibuatnya. Namun, Alister ikut membalas sikap agresif Lovely dengan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya sembari terus mencium bibirnya. Gairah liar pun seketika muncul dalam diri Alister. Dengan lembut, ia menggendong Lovely masuk ke kamar dan membaringkan perempuan itu di sana tanpa sekalipun melepaskan sentuhan bibirnya.
Namun, tiba-tiba Alister menghentikan sikap agresifnya dengan beralih menatap Lovely yang tampak bergairah di depannya. "Apa kamu benar-benar tidak masalah kalau aku melakukannya?"
Lovely terdiam sejenak menatap Alister tapi detik berikutnya ia mengangguk. "Aku sudah menerimamu seutuhnya."
Alister tersenyum puas mendengar jawaban Lovely. Dengan pelan, ia mendekatkan bibirnya di telinga Lovely kamudian berbisik lembut, "kalau begitu, aku akan melakukannya pelan-pelan. Setiap kali menyentuhmu, kau hanya akan berteriak bahagia sayang."
Lovely malu mendengar ucapan Alister hingga perempuan itu memalingkan wajah malunya ke arah lain. Namun Alister yang ingin terus memandang wajah Lovely, menarik kembali wajah itu hingga berhadapan dengan wajahnya. "Lihat aku, supaya kamu tahu bahwa laki-laki yang bersamamu hari ini adalah aku."
Meski malu, Lovely tetap harus menatap wajah Alister. Dan Alister yang tidak tahan, kembali menggerakkan tangannya menyentuh dada Lovely. Namun matanya yang penuh gairah, masih menatap Lovely yang mulai mendesah karena sentuhannya.
"Ali!"
"Jangan Ali! Panggil aku sayang!"
__ADS_1
"Sayang, ah!" Lovely menurut saja, bahkan matanya terus memandang Alister yang berekspresi liar di depannya.