
Azil paham dengan situasinya sekarang. Dengan cepat, ia berubah menjadi seperti Alister yang tegas dan berwibawa. Dengan raut wajahnya yang serius, Azil kembali menoleh ke Lovely yang tampak bingung.
"Anda diutus oleh Bu Jenar ya, em maksud saya Jenar." Azil tiba-tiba disuruh menjadi Alister di depan Lovely, tentu masih belum terbiasa meniru kebiasaan Alister.
"Iya Pak." Meski Lovely masih bingung melihat kekasihnya ada di sana tapi Lovely tetap profesional dengan fokus pada Azil yang ia kira sebagai Alister. Dengan sikap sopan, ia menyerahkan dokumen dari tangannya ke Azil kemudian kembali berdiri sopan di depan Azil tanpa sekalipun melirik ke Alister yang sejak tadi memandangnya.
"Berkas penting dari Bu Jenar, Pak," ucap Lovely ketika melihat Azil membuka isi dokumen itu.
"Oke. Ada lagi?" tanya Azil datar melihat Lovely.
"Kalau masalah pekerjaan, nggak ada lagi pak tapi bapak dapat pesan dari Bu Jenar." Ketika masih berada di jalan, Jenar mengirim pesan pada Lovely untuk membantunya menyampaikan pesan darinya.
"Pesan apa?" tanya Azil.
"Katanya Bu Jenar ingin makan siang bareng bapak. Kalau nggak sibuk, Bu Jenar mengajak bapak ketemuan di restoran melati."
Sebelum menanggapi Lovely, Azil melirik Alister lebih dulu tapi Azil tak mendapat respon baik dari Alister. Alister malah membuang muka seolah menyerahkan semua masalah itu padanya.
Azil bingung harus bagaimana tapi ia tidak bisa diam saja di depan Lovely. "Nanti saya yang hubungi Jenar. Kamu sebaiknya pergi saja. Saya mau kerja!"
Azil tak sanggup menghadapi Lovely karena takut ketahuan hingga ia menyuruh wanita itu segera pergi, dan Lovely yang mendengarnya, merasa sedikit kecewa. Sebab, ia mengira bahwa tunangan bibinya itu akan memperlakukannya dengan baik dan sopan tapi nyatanya, pria itu memperlakukannya dengan cara tidak sopan, menyuruhnya segera pergi. Namun Lovely sama sekali tak mempermasalahkannya meski sedikit tak suka dengan sikap pria itu karena ia tahu bahwa tunangan bibinya adalah seorang bos perusahaan ternama. Wajar jika tegas.
Lovely akhirnya memutar tubuhnya, sedangkan Alister langsung menajamkan bola matanya ke Azil karena tidak senang dengan sikap Azil pada Lovely.
Pintu tertutup, dan Lovely sudah ada di luar. "Kayaknya tunangan bibi kecil, tegas dan arogan. Kukira tadi bakal basa-basi dulu sebelum disuruh pulang. Kenyataannya malah langsung disuruh keluar. Tapi ya sudahlah. Mungkin dia begitu karena berada di kantor. Mungkin saja dia baik kalau ketemu di rumah."
__ADS_1
Pintu terbuka, dan Alister berdiri di sana. Lovely yang masih ada di sana terkejut melihat pria itu keluar. "Ali!"
"Ayo keluar bersamaku!" Alister buru-buru menarik tangan Lovely pergi dari sana dengan menggunakan lift direktur yang biasa dipakainya.
Setelah keluar dari lift, beberapa karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan Alister, menyapa Alister dengan membungkuk hormat. Karena tidak ingin Lovely curiga, hingga Alister yang biasa dingin dan tak membalas para karyawannya yang menyapa, tiba-tiba membalas mereka dengan mengangguk tersenyum.
Sikap Alister malah membuat para karyawan itu terkejut. Bahkan ada karyawan yang sampai melotot dan terdiam kaku menatap Alister. Lovely pun ikut heran tapi yang membuatnya heran adalah sikap para karyawan yang syok. Apalagi ketika ada karyawan yang terkejut sampai menjatuhkan dokumen ditangannya.
"Mereka kok aneh," ucap Lovely yang tangannya masih dipegang oleh Alister.
"Aneh kenapa sayang?" tanya Alister yang baru saja keluar dari perusahaannya.
"Mereka kayak terkejut gitu lihat kamu. Bukannya wajar aja kalau kamu tersenyum begitu sama mereka. Aku aja yang senyum sama mereka tadi waktu masuk, mereka biasa-biasa aja." Lovely sama sekali tak merasa curiga dengan Alister. Hanya saja ia bingung dengan sikap para karyawan tadi.
Gombalan Alister malah membuat Lovely tidak tertarik lagi untuk bicara dengan pria itu, bahkan ia melirik kesal ke Alister kemudian memilih masuk ke mobil.
Alister hanya tersenyum, dan dirinya semakin semangat untuk pergi bersama Lovely. Buru-buru Alister masuk ke mobil lalu menyalakan mesin mobilnya. "Mau makan apa?" tanyanya kemudian.
"Terserah."
"Kenapa sih, cewek kalau diajak makan selalu bilang terserah? Apa nggak bisa sebut makanan yang disukainya?" tanya Alister heran dengan hal itu.
Lovely menoleh melihat Alister dengan keningnya yang mengerut. "Berarti bukan cuma aku doang dong cewek yang kamu ajak makan?"
"Jangan cemburu begitu! Aku tidak pernah makan bareng dengan cewek lain. Biasanya aku makan dengan ibu dan adikku. Mereka selalu bilang terserah tapi ujung-ujungnya malah protes karena makanan yang aku pesankan, tidak disukai mereka." Jika bicara dengan Lovely, ada saja hal yang menyenangkan, dan membuat Alister tertarik. Seperti sikap Lovely yang seolah cemburu padanya. Alister sampai tersenyum lagi melihat wanita itu.
__ADS_1
"Aku nggak cemburu kok. Siapa yang cemburu?" Lovely memalingkan wajahnya setelah bicara karena meski membantah tapi ia malah tersenyum di sana gara-gara mendengar ucapan Alister yang tidak pernah makan dengan wanita lain selain dirinya.
Lovely makin haripun makin menerima kehadiran Alister. Bahkan kadang tersenyum malu jika pria itu menggodanya seperti saat ini.
***
Mereka sampai di sebuah restoran yang cukup ramai di sana. Awalnya Alister ingin menyewa restoran itu tapi ia tahu bahwa Lovely pasti tidak akan suka jika hanya berdua di sana.
"Pesanlah yang mau kamu makan!"
Lovely meraih menunya dan mengerutkan kening melihat menu-menu makanan barat yang tidak ia sukai. Namun karena sudah terlanjur bilang terserah hingga ia tidak mengeluh dan terpaksa memilih salad yang pernah ia makan di restoran barat lainnya.
Waktu tinggal di Amerika, Lovely memang jarang makan makanan barat. Ia memasak makanannya sendiri di sana. Meski begitu, Hebat sangat suka makanan di sana.
Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, mereka mengobrol. Alister tampak semangat. Apalagi Lovely sudah mulai menunjukkan sikap baiknya dengan sesekali tersenyum, juga tak bicara ketus lagi.
"Lain kali kita datang makan siang sama Hebat," ucap Alister.
"Bukannya kamu nggak suka kalau ada Hebat?"
"Kapan aku pernah bilang begitu? Aku suka kok kalau anak itu ada. Dia lucu dan menggemaskan," bantah Alister. Ucapan Alister memang jujur. Awalnya ia tidak senang tapi setelah berinteraksi dengan Hebat, ia menjadi suka pada Hebat. Anak itu mudah mengambil hatinya padahal selama ini, jika bertemu dengan anak kecil, ia tidak suka dan benci. Namun Hebat berbeda. Bahkan baru pertama kali bertemu dengan Hebat, ia merasa seolah mengenal anak itu. Ada semacam perasaan rindu dan seolah terikat yang sulit dijelaskan sendiri oleh Alister.
"Kamu memang nggak bilang langsung tapi sikapmu yang bicara."
"Itu karena aku tidak terbiasa dengan anak kecil. Apalagi aku tidak suka dengan anak kecil tapi kalau punya anak sama kamu, aku tidak masalah." Lagi-lagi Alister menggoda Lovely yang membuat wanita itu menghela nafas lelahnya, dan Lovely memilih diam.
__ADS_1