
“Kamu lama sekali datangnya sayang! Aku kira, kamu nggak bakal datang lagi!” kata Jenar dengan senyuman penuh bahagia melihat Alister berdiri di hadapannya.
Alister malah memberi kode pada Azil untuk menyerahkan kado ulang tahun untuk Jenar. Dengan sigap, Azil maju dan memberikan kotak hadiah itu pada Jenar. Jenar mengambilnya tanpa mengurangi senyum diwajahnya.
"Hadiah untukmu."
"Terima kasih!"
Alister hanya mengangguk dan sesekali matanya melirik ke arah Lovely yang tengah berdiri bersama Brey. 'Jadi itu pria yang mau tunangan dengan Cinta. Cih, masih lebih baik dariku.'
"Ayo, kita ke sana! Kamu harus temani aku tiup lilin!" ajak Jenar sembari merangkul lengan Alister dan menariknya ke arah meja kue ulang tahunnya.
Lovely berusaha menghindari kontak mata dengan Alister ketika Alister sudah berada di depannya. Bahkan ia fokus pada Hebat dan juga tersenyum pada Brey yang merangkulnya.
Seketika ekspresi Alister suram. Bahkan tangan kirinya yang tidak dipegang oleh Jenar, mengepal kesal. Rasanya tangan itu ingin memukul wajah Brey yang berani merangkul Lovely. Pria itu terbakar api cemburu.
"Jenar, Alister sekarang sudah datang. Jadi sebaiknya kamu tiup lilinnya lalu potong kue," ujar Tuan Arman.
"Baiklah!" Jenar pun menarik Alister berdiri di sampingnya. Lalu, ia meniup lilin itu dan kembali melihat Alister ketika semua orang bertepuk tangan, memberikannya selamat. Namun senyuman Jenar seketika menghilang kala ia melihat Alister malah memandang Lovely.
"Alister!" Jenar tidak ingin Alister terus memperhatikan Lovely hingga ia memanggil pria itu dengan keras tapi senyumannya kembali tampak diwajahnya.
Alister menoleh dan menatap Jenar dengan ekspresi datarnya. "Ada apa?"
"Hari ini adalah ulang tahunku. Jadi tolong, hanya perhatikan aku. Jangan perhatikan hal lain! Oke!" pinta Jenar dengan suarana yang tetap rendah.
Alister tidak ingin pusing mendengar suara Jenar hingga ia menuruti perempuan itu meski terpaksa. Sementara Levon yang sejak tadi memperhatikan Alister, mendekati Lovely lalu berbisik, "Loly, bukankah dia pria yang pernah berbuat kasar padamu di depan cafe? Apa kamu tahu kalau dia tunangan Bibi Kecil?"
"Aku nggak tahu kalau dia tunangan bibi kecil. Aku baru tahu hal itu, saat bibi mengumumkan acara ulang tahunnya seminggu yang lalu. Sekarang, aku berusaha menjauhi dia Kak!" jelas Lovely yang tampak bersalah di depan Levon.
__ADS_1
Levon menghela nafas panjang sembari menepuk-nepuk bahu Lovely. "Kakak selalu percaya sama kamu Loly. Kamu tidak pernah berbuat jahat sama orang. Terutama pada Bibi Kecil. Jadi, jangan menunjukkan rasa bersalahmu di depan kakak."
Lovely mengangguk. "Terima kasih karena kakak percaya padaku!"
Levon hanya mengangguk tersenyum. Lalu keduanya fokus melihat Jenar yang sedang memotong kue ulang tahunnya. Potongan pertama, Jenar berikan pada Alister karena begitu bahagia melihat Alister datang pertama kali ke pesta ulang tahunnya.
"Alister, hari ini adalah hari yang bahagia untukku karena bisa melihatmu di sini. Kamu adalah kado terindah di pesta ulang tahunku ini." Saking bahagianya, sampai Jenar mengucapkan kalimat romantis itu di depan Alister yang malah tampak datar.
Jenar merasa belum puas mengungkapkan kebahagiaannya hingga tanpa mengatakan apapun, ia mencium pipi Alister. Alister kaget tapi Alister tidak marah ataupun mendorong Jenar menjauh darinya.
Lovely yang melihat adegan itu, memalingkan wajahnya. Meski bibir dan hatinya sudah menegaskan bahwa ia tidak akan mempedulikan Alister lagi dan akan menganggap bahwa ia tidak mengenal Alister tapi jujur, ia masih punya perasaan cinta yang masih tersisa sehingga melihat kemesraan mereka, membuat denyut jantungnya terasa sesak.
Brey memperhatikan Lovely yang memalingkan wajahnya, dan ia tahu dari ekspresi Lovely yang tidak senang melihat kemesraan mereka. Namun, pria tidak mengatakan apapun. Brey malah menggenggam erat tangan Lovely yang membuat Lovely menoleh ke arahnya.
"Brey, kenapa?"
"Bagaimana kalau kita ke ruang istirahat aja? Aku pengen istirahat di sana!" kata Lovely.
"Sebentar lagi pengumuman pernikahan kita. Kita akan ke sana setelah tukar cincin," jelas Brey.
"Baiklah." Lovely tidak tahan tinggal di sana tapi ia tetap stay setelah mendengar ucapan Brey.
Sejam berlalu setelah Jenar membagikan semua kue ulang tahunnya serta souvenirnya, kini waktu tukar cincin Lovely dan Brey sekaligus pengumuman pernikahan mereka.
Tuan Arman bersama istrinya dan juga Jenar berdiri berdampingan di depan para tamu untuk mengumumkan pernikahan Lovely dan Brey.
"Semuanya, tolong dengarkan saya! Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk keluarga kami karena kami bukan hanya mengadakan ulang tahun Jenar tapi acara pertunangan anak perempuan saya, Lovely Gundawan."
Para tamu yang mendengar itu, terkejut karena sebelumnya mereka tidak diberitahu mengenai pertunangan putri Tuan Arman. Mereka saling berbisik dengan rasa penasaran mereka tentang anak Tuan Arman yang belum pernah diperkenalkan di depan umum. Namun detik berikutnya, mereka ke depan melihat Tuan Arman kala Tuan Arman memanggil Lovely dan Brey mendekat ke depan.
__ADS_1
"Mohon maaf, sebelumnya karena acara ulang tahun Jenar kami satukan dengan pertunangan mereka karena keluarga Brey sebenarnya tidak ingin mengadakan pertunangan. Mereka ingin langsung melaksanakan pernikahan mereka. Alasannya karena keluarga Brey, tidak punya adat seperti itu, dan hari ini mereka akan tukar cincin terlebih dulu," jelas Tuan Arman yang membuat semua orang akhirnya paham.
Setelah bicara, Tuan Arman menyuruh Brey dan Lovely tukar cincin di sana. Mereka disaksikan semua orang, bahkan bertepuk tangan bahagia ketika Lovely dan Brey selesai tukar cincin. Kecuali Alister yang memandang mereka dengan penuh amarah dan rasa cemburu.
"Selamat ya Loly! Bibi Kecil sangat bahagia lihat kamu sudah tunangan dengan laki-laki yang kamu sukai," ujar Jenar sembari tersenyum serta mengelus pipi Lovely. Tuan Arman, Levon dan ibunya pun ikut memberikan selamat bahagia untuk Lovely.
Lovely tersenyum seolah dirinya bahagia tapi hatinya sama sekali tidak bahagia. Padahal, ia berusaha untuk menikmati acaranya ini.
Para tamu juga, bergantian memberikan selamat pada Lovely. Hanya Alister yang tetap berdiri di tempatnya, tanpa ada niat seklipun mendatangi Lovely untuk memberikan selamat. Bahkan ia mengabaikan Azil yang menyuruhnya untuk sekedar menyapa di sana.
Selesai menyapa tamu yang memberikannya selamat, Lovely izin pada orang tuanya untuk istirahat. Ia tidak punya kepentingan lagi di sana karena acaranya sudah selesai. Hanya Jenar yang tengah sibuk menyambut tamu yang memberikannya selamat ulang tahun.
Lovely berjalan di lorong kamar hotel, menuju kamar istirahatnya. Namun saat ingin membuka pintu kamarnya, tangannya malah ditahan oleh seseorang, dan orang itu adalah Alister. Lovely menoleh dan terkejut melihat Alister. Belum sempat mengatakan apapun bahkan mendorong Alister menjauh. Alister malah mendorongnya duluan ke dinding tembok lalu pria itu langsung menciumnya.
Lovely berusaha melepaskan diri tapi Alister malah memperkuat dorongannya, juga mempererat tangannya yang menggenggam Lovely. Bahkan bibirnya mencium dengan brutal bibir milik perempuan itu.
Seketika Lovely meneteskan air matanya karena Alister yang terus menciumnya, tidak ingin melepaskannya. Hal itu, membuat Alister akhirnya berhenti.
Plak!
Lovely yang begitu marah, lantas menampar wajah Alister. "Dasar bajingan! Kamu nggak waras Alister. Kamu laki-laki gila!"
Semua umpatan itu mengarah ke Alister yang membuat Alister makin kesal hingga pria itu tersenyum smirk, menertawakan dirinya sendiri yang dibilang gila oleh Lovely.
"Kau bilang aku gila, tidak waras. Ini masih belum seberapa Lovely. Kalau kau mau melihat kegilaan apa yang bisa kulakukan. Akan aku tunjukkan. Ayo!" Alister dengan penuh amarah menarik Lovely pergi dari sana.
"Lepaskan! Kamu mau bawa aku ke mana?" teriak Lovely berusaha menarik tangannya yang dipegang Alister.
Alister menoleh dan tersenyum miring melihat Lovely. "Ke tempat pesta. Aku ingin mengatakan pada semua orang bahwa aku dan kamu punya hubungan spesial. Mungkin lebih bagus kukatakan, kalau kita sudah seperti suami istri. Mereka pasti syok."
__ADS_1