Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Boneka Teddy Bear


__ADS_3

Lovely menutup pintu rumahnya lalu memutar tubuhnya tapi ia dikejutkan dengan kehadiran Jenar yang berdiri di belakangnya. "Astaga bibi!"


"Kamu kenapa kayak gitu, ngendap-ngendap kayak pencuri?" tanya Jenar yang heran melihat Lovely masuk pelan-pelan ke rumah seolah ada yang disembunyikan perempuan itu.


"Nggak apa-apa." Lovely salah tingkah gara-gara dirinya yang ketahuan sembunyi-sembunyi masuk ke rumah sampai ia memegang belakang lehernya sambil tersenyum paksa.


"Nggak apa-apa tapi kamu masuk pelan-pelan kayak habis lakuin sesuatu yang melanggar. Memang kamu dari mana sih? Dari tadi bibi cari kamu di luar tapi kamu nya nggak kelihatan. Jangan-jangan kamu ketemuan sama laki-laki ya?" Jenar menyipitkan matanya serta menaikkan jari telunjuknya-menunjuk ke Lovely dengan tatapan penuh curiga pada Lovely.


"Tadi aku jalan-jalan cari angin sampai depan pos. Terus, di sana aku nggak sengaja ketemu sama teman SMAku makanya lama baru balik." Jika Lovely mengatakan pada Jenar bahwa ia hanya jalan-jalan dan tidak bertemu siapapun, Jenar pasti akan semakin curiga padanya.


"Oooo. Ya udah masuk yuk. Ada hadiah buat kamu dan Hebat!"


"Hadiah? Dari siapa Bi?" tanya Lovely dengan kening berkerut.


"Dari tunangan bibi."


Mereka berdua bicara sambil berjalan ke ruang tengah. Dan di sana, semua orang masih asyik memeriksa hadiah yang mereka terima. Terutama Nyonya Amerta yang begitu senang menerima hadiah perhiasan mahal.


"Wah, semuanya dapat perhiasan. Berarti aku juga dapat perhiasan dong pastinya." Lovely melihat dua pembantu rumahnya dapat masing-masing gelang hingga ia berpikir bahwa hadiah untuknya pasti lebih mahal dari mereka. Bibirnya pun tersenyum senang karena berpikir akan mendapatkan hadiah mewah seperti mereka bahkan begitu percaya dirinya, ia sampai mengira kotak biru yang ada di depannya adalah miliknya. Dengan bibirnya yang tersenyum senang, Lovely meraih kotak biru itu tapi Jenar tiba-tiba mengambilnya pelan-pelan dari Lovely.


"Bukan buat aku ya?"

__ADS_1


Jenar mengangguk. "Ini hadiah Alister untuk bibi."


Jenar meletakkan kotak perhiasan itu lagi kemudian meraih boneka yang diletakkan Pak Imron di belakang sofa.


"Hadiahnya Loly bukan perhiasan tapi boneka ini."


Lovely meraihnya dengan perasaan kecewa karena tidak menerima hadiah seperti mereka tapi ia tidak menunjukkannya dan tampak biasa-biasa saja.


"Maaf Loly! Tidak tahu kenapa Alister malah kasih kamu boneka bukan perhiasan?" Ekspresi Jenar tak enak hati pada Lovely yang menerima hadiah tidak sesuai keinginannya. Apalagi hanya Lovely yang menerima hadiah lain selain perhiasan, dan hadiahnya boneka lagi.


"Apa tunangan bibi mengira aku masih bocah atau remaja sampai ngasihnya boneka besar kayak gini? Apa beliau nggak tahu kalau aku sudah duapuluh dua tahun, bahkan udah punya anak? Kok ngasihnya boneka sih. Warnanya pink lagi." Boneka Teddy Bear yang sudah berada ditangan Lovely begitu besar sampai wajah Lovely tertutupi boneka itu. Dan Lovely merasa tersinggung pada orang yang telah memberikannya hadiah yang menurutnya hanya diberikan pada seorang remaja.


"Alister memang nggak pernah lihat kamu. Bibi cuma pernah cerita kalau bibi punya ponakan cewek, tapi nggak pernah kasih tahu dia kalau kamu sudah dewasa. Mungkin Alister masih ngira kamu remaja belasan tahun. Maafin Om Alister ya!"


"Hebat juga dapat hadiah dari Om Alister. Mainan tapi mainannya banyak. Ada sekantong besar," ucap Jenar.


Nyonya Amerta yang duduk di sebelah Tuan Arman, malah melirik tajam pada Lovely, bahkan ia tersenyum sinis tapi tak ada orang yang menyadari hal itu, sedangkan Pak Imron yang masih berdiri di sana, tampak kasihan dan merasa bersalah pada Lovely.


'Maafkan saya Nona Lovely! Sebenarnya saya dan Tuan Azil sudah pilih perhiasan untuk semua orang, termasuk nona tapi tuan malah pilih sendiri hadiah boneka itu. Sayang sekali.'


Setelah semua orang mendapat hadiah mereka, Pak Imron pamit pergi. Dan Jenar tetap mengantar Pak Imron sampai ke depan. Pak Imron kini masuk ke mobil di mana Alister masih duduk menunggu di belakang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa Cinta suka hadiahnya?" tanya Alister penasaran.


"Suka tuan. Nona Lovely tersenyum sambil memeluk bonekanya." Pak Imron terpaksa berbohong pada bosnya agar Alister senang dan tidak marah-marah lagi. Apalagi jika sedang marah, Alister akan menyalahkan semua bawahannya, terutama Pak Imron dan Azil yang sudah memilih hadiah untuk mereka.


Karena merasa senang, Alister tersenyum tipis sembari menoleh ke jendela kaca mobilnya. Pak Imron yang menyalakan mobilnya ikut senang melihat bosnya tersenyum. Melihat itu saja, ia merasa lega- mengingat sakit hati yang dulu dialami Alister ketika gagal menikah dengan kekasihnya. Itu pertama kalinya Pak Imron melihat Alister tersenyum semenjak ditinggal oleh Felicia.


Di kamar Lovely, ia meletakkan bonekanya itu di atas kepala Hebat yang sedang tertidur. Boneka besar itu bersandar di sandaran kasur seperti bantal besar. Meski hadiah biasa tapi Lovely tetap menghargainya dengan menyimpannya baik-baik.


"Besok, aku dan Ali kencan seperti orang pacaran. Selain wajahnya yang tampan, nggak ada yang bikin aku senang sama dia. Dia pria agresif yang nggak malu menyentuh orang." Meski Lovely tidak terlalu suka dengan Alister karena sifatnya tapi mengingat kegiatan kencannya besok, jantungnya sampai berdebar.


Sambil memegang dadanya, ia berkata, "jantungku berdebar-debar cuma karena ingat dia. Apa karena baru pertama kalinya aku pacaran sampai deg deg kan gini mikir apa yang bakal terjadi besok?"


Lovely mengingat kembali sikap agresif Alister di mobil. Rasanya tidak aman jika hanya mereka berdua. Di saat yang sama, Hebat bergerak dan tiba-tiba merangkul lengannya. Seketika Lovely tersenyum menatap anaknya. "Kayaknya kalau sama Hebat, orang itu nggak bakal macam-macam sama aku. Nggak mungkin dong dia mau mesum di depan anak kecil."


Keesokan harinya, Lovely sudah bersiap dengan pakaian casualnya. Dan ia tengah merapikan pakaian Hebat yang akan ia bawa jalan-jalan bersama Alister.


"Kita beneran mau jalan-jalan ke taman binatang Ma?" tanya Hebat memastikan. Bocah laki-laki itu sudah bertanya hal yang sama sebanyak lima kali sejak selesai dimandikan oleh Lovely.


Lovely yang selesai merapikan pakaian Hebat, tersenyum menatap anaknya. "Iya dong sayang. Teman mama bakal bawa kita ke sana. Tapi Hebat nggak boleh nakal ya. Harus nurut sama mama.


Hebat mengangguk. "Hebat nggak akan nakal kok Ma. Tapi Ma, apa teman mama yang ngajakin kita jalan-jalan, laki-laki yang kemarin datang ke rumah?"

__ADS_1


"Bukan. Teman mama yang kemarin sibuk sayang jadi nggak bisa jalan-jalan sama kita tapi teman mama ini, juga baik kayak teman mama kemarin."


__ADS_2