
Lovely tersenyum getir melihat Alister bersama perempuan lain. "Aku pikir, kamu laki-laki yang baik Ali. Ternyata kamu tidak lebih dari seorang pria bajingan yang tebar pesona ke perempuan lain. Aku salah menilaimu. Harusnya aku tidak berharap banyak sama kamu."
Alister maju mendekati Lovely lalu memegang kedua lengan Lovely. "Kamu salah paham! Aku tidak begitu. Aku ...,"
Lovely menghempas tangan Alister ketika pria itu menjelaskan dirinya hingga Alister terhenti bicara.
Lovely begitu karena tak mau mendengar penjelasan Alister. "Apa yang aku lihat sudah cukup membuktikan sikapmu yang cuma main-main?"
"Cinta, dengarkan aku dulu!"
"Al, dia siapa?" sahut perempuan itu.
Lovely yang sangat marah pada Alister, lantas mendorong Alister menjauh agar dirinya bisa berhadapan dengan perempuan yang berdiri di belakang Alister. "Aku istrinya dan ini anak kami."
Saking marahnya pada Alister, sampai Lovely mengaku sebagai istrinya Alister. Bahkan membawa-bawa Hebat yang langsung tertawa kecil melihat perempuan itu. "Hihihi!"
Bukannya menanggapi Lovely, perempuan itu malah menyapa Hebat. "Hai sayang!"
Lovely sampai tercengan dan juga heran melihat perempuan itu malah mengabaikannya. Bahkan tidak marah setelah mendengar dirinya mengaku sebagai istri Alister. "Kamu sepertinya cinta mati sama laki-laki ini sampai kamu nggak peduli dengan kata-kataku tadi."
Perempuan itu kembali menatap Lovely. "Jadi kamu benar sudah menikah dengan ...,"
"Iya." Lovely menjawab cepat, tak membiarkan perempuan itu meneruskan ucapannya karena amarahnya pada Alister yang punya perempuan lain.
Perempuan itu menoleh ke Alister dengan tatapannya yang tajam. "Al, ternyata kamu sudah menikah diam-diam di belakang mama. Bahkan punya anak sebesar ini. Terus kenapa kamu malah bertu ...,"
"Ma!" seru Alister yang memotong ucapan ibunya karena tidak ingin Lovely tahu masalah pertunangannya. Masalah akan semakin rumit jika Lovely tahu dirinya sudah bertunangan.
Lovely kaget mendengar Alister memanggil mama pada perempuan cantik itu. Bahkan Lovely diam kaku dengan raut wajahnya yang bingung. "Mama?"
Alister kembali mendekati Lovely, dan langsung merangkul perempuan itu di depan ibunya. "Cinta, ini ibuku! Ma, ini Cinta. Maksudku Lovely!"
Lovely canggung, malu dan merasa tak enak di depan perempuan cantik yang ternyata ibunya Alister. Dengan perasaannya yang malu, Lovely membungkukkan tubuhnya di depan ibunya Alister. "Maafkan sikap saya tadi! Saya salah paham sama Anda. Saya sungguh malu dan menyesal. Maaf nyonya!"
__ADS_1
Nyonya Arvita tersenyum. "Tidak masalah. Tapi saya bingung, nama kamu Cinta atau Lovely. Mana yang benar?"
"Lovely, Nyonya."
Nyonya Arvita kembali tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melirik Alister. Sebab ia tahu bahwa Alister lah yang seenaknya mengubah nama orang. "Jadi Lovely, kamu sudah menikah dengan anak saya?"
Dengan cepat Lovely menggeleng. "Nggak, Nyonya. Tadi saya cuma bercanda. Saya begitu karena saya marah dan saya nggak mau perempuan lain juga ditipu sama Ali."
"Ali? Ali siapa?" tanya Nyonya Arvita yang malah bingung mendengar nama itu.
"Anak Nyonya."
Nyonya Arvita kembali melirik anaknya tapi tidak mengatakan apapun karena melihat Alister menggeleng dengan raut wajahnya yang memohon pada ibunya untuk tidak mengatakan apapun.
Nyonya Arvita tak senang melihat anaknya yang menipu perempuan tapi ia berusaha menyembunyikan perasaan tak senangnya itu. "Kalian sudah makan?"
"Belum." Tiba-tiba Hebat menyahut yang membuat Nyonya Arvita kembali menatap Hebat.
Bahkan kali ini, tatapan Nyonya Arvita lama tapi ia diam saja menatap Hebat.
Tiba-tiba Nyonya Arvita berjongkok di depan Hebat. Lovely kaget sampai berhenti bicara dan hanya menatap sikap ramah Nyonya Arvita pada Hebat.
"Namamu siapa Nak?"
"Hebat."
"Namamu Hebat?" tanya Nyonya Arvita memastikan.
Hebat mengangguk polos.
Nyonya Arvita lantas meletakkan tangannya di atas kepala Hebat, mengelusnya dengan lembut. "Bagaimana kalau kita makan siang sama-sama? Hebat mau kan?"
"Maaf nyonya! Hebat dan mama udah punya janji makan sama Om Levon," jawab Hebat.
__ADS_1
Terlihat dari wajah Nyonya Arvita yang kecewa karena penolakan Hebat tapi Nyonya Arvita segera tersenyum pada Hebat. "Baiklah. Tidak apa-apa. Kapan-kapan saja."
Setelah mengatakan itu, Nyonya Arvita berdiri dari sana dan beralih melihat Lovely. "Saya tidak akan mengganggu waktu kamu hari ini tapi lain kali kalau kamu punya waktu, kita makan siang atau makan malam bersama," ucap Nyonya Arvita.
"Iya nyonya. Maaf untuk hari ini karena sebelumnya kakak saya sudah berjanji untuk makan dengan Hebat." Sebelum ke Mall, Levon dan Lovely memang punya janji makan siang. Rencananya setelah makan bersama Levon, Lovely ingin mengajak Alister nonton bareng dengan Hebat tapi melihat situasinya saat ini, membuat rencana itu berantakan.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, kami permisi nyonya, Ali. Selamat siang!" pamit Lovely pada Nyonya Arvita dan juga pada Alister.
Nyonya Arvita tersenyum tapi tidak dengan Alister yang berharap Lovely tidak pergi dari sana. Pria itu tampak kecewa tapi tak bisa mengeluh dan hanya pasrah melihat Lovely pergi.
Nyonya Arvita yang penasaran dengan Lovely lantas menoleh ke arah Alister. "Alister, kamu punya hubungan dengan wanita lain tapi nggak bilang sama mama. Terus, Jenar kamu mau bagaimana dengan dia?"
"Aku pikirkan nanti."
"Jangan dipikirkan nanti. Kalau kamu menyukai wanita tadi, kamu harus memutuskan hubunganmu dengan Jenar karena kamu sendiri yang mau tunangan dengan dia. Tapi kalau kamu serius dengan Jenar, kamu tinggalkan wanita tadi."
Alister menghela nafas panjang mendengar ocehan ibunya yang tiba-tiba memberikannya pilihan.
"Mama tidak perlu khawatirkan itu."
"Yang tentu saja mama khawatir. Kamu sampai punya anak dari wanita tadi," ucap Nyonya kesal.
Alister kaget dan heran. "Anak? Anak siapa sih?"
"Hebat anak Lovely, perempuan tadi. Anak yang tadi ngomong sama mama," jelas Nyonya Arvita dengan tegas bahkan ia tampak geram pada anaknya.
"Anak itu bukan anakku," bantah Alister.
"Apanya yang bukan. Jelas-jelas anak itu mirip kamu. Kamu nggak bisa bohongin mama, Alister." Karena marah pada Alister, Nyonya Arvita sampai masuk ke mobil, tak ingin mendengar apapun dari anaknya.
Sementara Alister terdiam memikirkan ucapan ibunya. "Anakku? Jangan-jangan anak itu memang anakku tapi kenapa Cinta ...,"
__ADS_1
Alister penasaran dengan asal usul Hebat setelah mendengar kata-kata ibunya hingga ia pun menghubungi Azil untuk mencari tahu lagi tentang kelahiran Hebat. Jika benar anak itu anak Lovely, sudah dipastikan itu anaknya. Sebab, umur Hebat cocok dengan kejadian lima tahun lalu.
"Al, apa lagi yang kamu tunggu di sana? Ayo cepat pulang! Mama udah capek!" teriakan Nyonya Arvita mengagetkan Alister yang sibuk bicara dengan Azil dibalik telfon.