Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Tebakan Levon


__ADS_3

Bukan hanya Levon yang kaget melihat Hebat. Lovely pun ikut kaget melihatnya anaknya tiba-tiba muncul di depannya. Terlebih Lovely melupakan bahwa Levon belum tahu mengenai keberadaan Hebat dan baru sadar ketika melihat anaknya.


"Mama?" Levon mengerutkan kening melihat Hebat memeluk kedua kaki Lovely kemudian menoleh melihat Lovely yang berdiri di sebelahnya, "dia anak siapa Loly? Kenapa memanggilmu mama?"


"Dia anak kandungku Kak." Lovely tidak ingin menyembunyikan keberadaan anaknya sebagai anak adopsinya hingga ia langsung mengungkapkannya.


"Anak kandung? Kau sudah menikah?" Levon semakin bingung.


Melihat kebingungan kakaknya, membuat Lovely menghela nafas panjang. Dan tentunya, ia harus menjelaskan semuanya pada Levon agar kakaknya itu tidak bingung. "Ceritanya panjang dan aku akan ceritakan semuanya pada kakak tapi bukan di sini. Lebih baik kita masuk dulu ke dalam. Ayah dan ibu sudah menunggu kakak di dalam. Biarkan mereka melepas kerinduan mereka dulu sama kakak, baru kita bicara tentang Hebat."


"Baiklah! Walau aku sangat ingin mendengarnya sekarang tapi aku akan berusaha menahannya."


Lovely beralih melihat Hebat. "Hebat sayang! Kenalkan, ini Om Levon. Kakak kandungnya mama. Ayo beri salam dan cium tangannya om!"


Dengan sopan, Hebat maju mendekati Levon dan Levon langsung berjongkok di depan Hebat. "Hai Nak! Namamu Hebat Ya?"


Hebat mengangguk lalu meraih tangan Levon dan mencium punggung tangan pria dewasa itu. Levon tersenyum sembari menatap wajah Hebat lebih dekat. "Sepertinya kamu masih malu-malu sama Om."


Hebat hanya tersenyum kemudian menundukkan sedikit wajahnya karena anak itu memang malu di depan Levon yang baru dilihatnya.


Levon mengangkat wajahnya ke atas menatap Lovely yang masih berdiri di sebelahnya. "Siapa ayahnya? Apa pria yang dulu dijodohkan denganmu adalah ayahnya? Berarti kau sudah menikah dengan pria pilihan ayah."


Levon sungguh tidak tahan untuk tahu ayah dari anak itu hingga ia bertanya, padahal Lovely belum ingin menjelaskannya.


"Di dalam kita cerita Kak. Nggak baik di sini."


Levon berdiri dan menatap Lovely dengan raut wajahnya yang begitu serius. "Dari sikapmu yang menjawabku, sepertinya anak ini tidak punya ayah."


Lovely diam tapi tatapannya tajam pada Levon yang tidak berhenti mengoceh dan itu membuat Levon menghela nafas kasarnya. "Baiklah. Aku diam untuk sementara. Sekarang ayo masuk ke dalam!"


Di dalam, Levon disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Terutama Tuan Arman yang selalu membangga-banggakan anak laki-lakinya itu.


"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Tuan Arman yang duduk berhadapan dengan Levon. Mereka baru saja melepas rindu dengan saling memeluk lalu mereka duduk bersama untuk mengobrol sebentar.


"Kabarku baik."

__ADS_1


"Levon, kamu tahu ibu selalu merindukanmu tapi setiap kali ibu menyuruhmu kembali ke Indonesia selama beberapa hari, kamu menolak dan bilang akan kembali setelah pendidikanmu selesai."


"Aku juga merindukan ibu tapi aku sungguh tidak bisa meninggalkan Spanyol sebelum aku menyelesaikan pendidikanku. Biarpun hanya beberapa hari. Aku ingin kembali dengan menyandang gelar yang pantas kutunjukkan di depan keluarga."


"Oke. Karena kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu jadi sudah saatnya kamu,menggantikan posisi ayah di perusahaan."


Di saat yang sama, Jenar datang dan mendengar semuanya. Raut wajahnya yang tadi gembira mendengar kedatangan Levon seketika berubah saat mendengar Tuan Arman ingin mempercayakan perusahaan keluarga pada Levon padahal Levon masih baru dan orang yang sudah sangat berjasa di perusahaan adalah dirinya.


"Bibi Kecil!" Levon berdiri tersenyum saat menyadari kehadiran Jenar yang berdiri di sana.


Jenar seketika tersenyum melihat Levon lalu ia kembali melangkah mendekati mereka. "Bibi Kecil pulang lebih cepat setelah dapat pesan dari Lovely kalau dia sudah menjemputmu di bandara."


Lalu Jenar memeluk Levon sebentar dan melepaskannya kembali. "Bagaimana kabarmu?"


"Baik. Bibi bagaimana?"


"Kamu lihat sendiri, bibi baik-baik saja. Tidak ada yang dikhawatirkan. Justru kamu." Jenar menunjuk dada Levon, menekannya dengan jari telunjuknya.


"Aku kenapa?"


"Mau gimana lagi? Aku yang bodoh ini harus fokus belajar supaya dapat nilai bagus jadi aku harus menjauhi semua hal-hal yang bisa membuatku goyah."


Mereka berdua keponakan dan tante tapi ketika bertemu, mereka seperti sepasang sahabat. Apalagi mereka seumuran.


"Untung kamu pulang tahun ini Lev, karena tahun ini bibimu akan menikah," sahut Tuan Arman.


Levon terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya ia tidak tahu apa-apa mengenai perjodohan bibinya karena jarang berkomunikasi. "Bibi Kecil mau menikah? Dengan siapa?"


"Namanya Alister Sandero."


Levon mengerutkan kening ketika mendengar nama Sandero yang dulu ia dengar dari ayahnya. "Jadi bibi menikah di Keluarga Sandero?"


Jenar mengangguk.


"Aku ingat ayah pernah bilang kalau ayah mau jodohin Loly dengan orang dari keluarga Sandero. Berarti, kalian berdua sama-sama menikah di ...,"

__ADS_1


"Nggak Lev." Jenar segera memotong ucapan Levon, "ada kejadian yang membuat semuanya berubah." Ketika bicara, Jenar sempat melirik ke Lovely yang tampak biasa saja. Bahkan dari ekspresi Lovely terlihat tak peduli dengan obrolan mereka.


"Ooooo begitu."


"Levon, kamu pasti lelah Nak. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti kita bicara lagi," sahut Nyonya Armiyanti kemudian beralih melihat Lovely, "Loly, antar kakakmu ke kamarnya!"


Memang sejak tadi Levon ingin meninggalkan ruangan itu agar bisa bicara dengan Lovely yang berjanji untuk menjelaskan semuanya.


Kakak beradik itu kini berada di depan kamar Levon. Dan wajah Levon tampak begitu serius melihat Lovely. "Masuklah! Kita bicara di dalam!"


Mau tidak mau Lovely masuk ke dalam dan duduk di sofa bersama Levon.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi padamu selama aku tidak ada di sini?"


"Aku cuma bakal jelasin tentang Hebat." Lovely pun mulai menceritakan dari awal ia tidur di hotel bersama seorang pria hingga mengandung Hebat tapi Lovely tidak mengatakan pada kakaknya tentang penghinaan orang serta tindakan ayahnya yang mengusirnya dari rumah karena tidak ingin Levon dan ayahnya bertengkar.


"Jadi karena masalah itu, kamu melarikan diri ke Amerika?" tanya Levon.


Lovely mengangguk. "Tapi masalah utamanya bukan itu kok Kak. Aku ke sana karena pengen banget sekolah di luar negri."


"Kau yakin tidak tahu siapa ayah Hebat?" tanya Levon sembari memicingkan matanya, raut wajahnya tampak curiga pada Lovely yang masih menyembunyikan sesuatu.


"Yakin Kak," tegas Lovely.


"Kau merahasiakan sesuatu dariku ya? Jangan-jangan pria sombong yang kamu temui di depan restoran, ayahnya Hebat dan kamu berusaha menyembunyikannya karena pria itu tidak mau tanggung jawab," ucap Levon menebak.


"Kok kakak bisa nuduh orang sembarangan sih."


"Aku nggak nuduh sembarangan Loly. Aku ngomong berdasarkan apa yang kulihat," ucap Levon serius.


"Memang apa yang kakak lihat?"


"Anakmu Hebat. Wajahnya mirip dengan laki-laki sombong itu." Ingatan Levon memang tajam. Begitu juga dengan matanya. Dari awal ketika Levon melihat jelas wajah Hebat, ia teringat dengan pria yang ia temui.


Lovely menghela nafas kasar melihat kakaknya yang ia kira asal bicara. "Aku baru kenal laki-laki itu. Belum cukup sebulan kayaknya atau udah sebulan ya. Pokoknya aku baru kenal dia Kak."

__ADS_1


"Ya sudahlah kalau bukan!"


__ADS_2