Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Bocah Licik


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai di kebun binatang. Hebat begitu senang dan antusias ketika turun dari mobil tapi tidak dengan Alister yang malah cemberut sepanjang perjalanan hingga sekarang. Bukannya menyenangkan wanita yang ia sukai, ia malah menyenangkan anak orang.


"Ma, Hebat haus tapi mau makan es krim. Boleh beli es krim nggak Ma!" Hebat memang menyukai es krim hingga ketika melihat penjual es krim, ia akan merengek pada ibunya.


"Beli air putih aja gimana?"


Hebat menggeleng. "Nggak mau. Hebat mau beli es krim."


Alister yang melihat anak itu merengek, tentu tak bisa diam saja di sana. Apalagi ia seorang laki-laki yang tidak bisa membiarkan wanita mengeluarkan uangnya. Ditambah anak kecil itu merengek di depannya.


"Biar aku yang belikan. Kalian tunggu saja di sini." Jarak dari penjual es krim dan pintu masuk, agak jauh dan Alister tidak ingin mereka berjalan ke sana yang bisa membuat mereka kelelahan hingga Alister tidak bisa membiarkan mereka ikut bersamanya. Jika ia bisa melakukannya sendiri maka ia akan melakukannya sendiri.


"Nggak usah Ali. Biar aku yang belikan Hebat. Kamu dan Hebat tunggu di sini saja," kata Lovely yang merasa tidak enak hati pada Alister.


"Aku laki-laki. Tidak bisa membiarkan wanita melakukan tugas yang harusnya dilakukan seorang laki-laki. Jadi, kau di sini saja. Biar aku yang pergi."


"Stop." Seketika Hebat menyahut yang membuat mereka terkejut, "jangan berdebat! Seperti kata Om Ali, mama di sini saja. Biar laki-laki yang pergi beli. Jadi harusnya yang pergi Om Ali dan Hebat. Mama hanya perlu menunggu kita di sini."


Lovely menghela nafas panjang melihat anaknya yang bicara tegas seperti itu, sedangkan Alister dibuat tercengan oleh Hebat yang berbicara seperti orang dewasa.


"Oke. Mama tunggu di sini deh." Lovely tidak pernah membatasi anaknya dalam mengekspresikan dirinya, dan ia juga bukan tipe ibu yang suka menekan anaknya-yang bisa saja semakin nakal hingga meski ia tidak setuju, ia tetap membiarkannya seperti saat ini.


"Ayo Om Ali!" Hebat yang mulai menunjukkan sifat bawelnya, mengulurkan tangannya ke Alister, dan Alister yang tersenyum bangga pada sikap dewasa anak itu, meraih tangan Hebat kemudian berjalan pergi meninggalkan Lovely yang berdiri menunggu di depan pintu masuk.


"Pilih yang mana kamu suka!" kata Alister ketika berada di depan penjual es krim.


"Om duluan yang pilih." Hebat malah menyuruh Alister memilih hingga Alister bingung sendiri dengan anak kecil itu.


"Loh, kenapa malah suruh om yang pilih? Kan, kamu yang mau makan es krim."


"Om Ali kan, orang dewasa. Lebih tua dari Hebat jadi om yang harus pilih lebih dulu, baru Hebat."


"Om tidak mau makan es krim. Kayak anak kecil," tolak Alister yang malu makan es krim karena menganggap hanya bocah seperti Hebat yang boleh memakan itu.


"Hebat nggak suka makan sendiri. Om dan mama juga harus makan kalau Hebat makan. Jadi pilihlah rasa yang om suka."

__ADS_1


Alister menghela nafas panjang tapi ia tidak membantah, dan malah mulai memilih rasa es krim yang ia sukai. "Om pilih ini aja."


"Hebat juga suka rasa coco pandan." Hebat memilih rasa yang sama dengan Alister dan ia juga memilih es krim untuk ibunya tapi Alister tidak memperhatikan, malah fokus memberikan uang pada si penjual es krim. Setelah membayar, mereka berbalik dan berjalan pergi. Namun tiba-tiba datang seorang penjual mainan yang membuat langkah Alister dan Hebat terhenti.


"Sayang anak. Sayang anak Om."


"Om, om. Memang muka saya tua, sampai kamu panggil om," protes Alister.


"Maaf om, kalau gitu saya panggil abang aja! Ini ada mainan untuk anak-anak. Beli pistol mainan untuk anaknya aja Bang." Penjual mainan itu, menyodorkan dua pistol mainan yang dia pegang ke Alister.


Alister malah menatapnya tak senang. "Tidak, terima kasih!"


"Buat anaknya Bang!" Penjual itu berucap sembari melihat ke arah Hebat.


"Saya tidak punya anak," ucap Alister dengan ekspresi datarnya.


"Loh, saya pikir ini anaknya. Mirip banget soalnya." Penjual itu tampak heran melihat Hebat dan Alister yang ia kira sebagai ayah dan anak.


"Mirip dari mananya?" kata Alister yang tampak biasa saja.


Alister dan Hebat saling melihat satu sama lain. Alister menatap lebih jelas wajah Hebat dengan kening mengerut, mencari kemiripan anak itu dengan wajahnya, sedangkan Hebat hanya menatap bingung.


"Kalau gitu, beli buat ponakannya aja bang." Penjual itu kembali menyahut yang membuat Alister terdiam menatap Hebat, mengalihkan pandangannya ke arah penjual itu.


"Tidak makasih!"


"Adeknya mungkin mau bang!" Penjual itu belum menyerah untuk menawarkan dagangannya hingga membuat Alister kesal, dan ingin berjalan pergi meninggalkan penjual itu tapi tangannya ditarik oleh Hebat.


"Beli aja Om. Kasihan!"


"Kamu mau?" tanya Alister.


Hebat menggeleng. "Hebat udah gede, nggak suka mainan pistol air."


"Terus kenapa kamu suruh om beli?"

__ADS_1


"Soalnya kasihan."


Tanpa protes lagi, Alister menoleh ke penjual itu. "Mainannya saya beli. Berapa semuanya?"


Penjual itu terlihat begitu senang. "Sejuta aja bang."


Alister mengeluarkan uang casnya kemudian memberikannya pada penjual itu. "Bagikan saja mainan itu untuk anak- anak di dalam."


"Baik tuan."


Alister sinis melihat penjual itu. Setelah membeli semua mainan, penjual itu baru memanggilnya tuan, padahal tadi masih asyik memanggilnya 'bang'


"Sudah kan. Sana pergi!"


Penjual mainan itupun akhirnya pergi. Kemudian Alister meraih tangan Hebat untuk kembali ke Lovely. Namun Hebat lagi-lagi menahannya.


"Ada apa lagi?"


"Hebat capek jalan. Boleh gendong di bahu om nggak?"


"Kenapa saya harus melakukannya? Saya bukan ayah kamu yang harus gendong kamu!"


"Tapi om suka sama mama nya Hebat kan? Berarti Om harus baik sama Hebat. Kalau nggak, Hebat bakal larang mama pergi sama om," ancam Hebat yang membuat Alister tak bisa menolak.


Dengan muka kesal, ia mengangkat Hebat dan menggendongnya. 'Dasar bocah licik! Beraninya mengancamku! Kenapa pula si Cinta harus mengadopsi anak licik begini?'


Disaat Alister kesal, Hebat malah tersenyum senang digendong oleh Alister.


"Ternyata digendong ayah, rasanya seperti ini."


"Saya bukan ayahmu."


"Hebat tahu. Hebat bilang gitu karena baru pertama kali digendong pria dewasa. Hebat senang. Hebat udah kayak teman Hebat, yang digendong sama ayahnya."


Tanpa sadar Alister senang melihat anak itu tersenyum bahagia, padahal ia hanya melakukan hal kecil untuk sekedar membuat Hebat diam dan tidak mengoceh.

__ADS_1


"Kalau kamu bilang yang baik-baik tentang om di depan ibumu, om tidak akan keberatan untuk menggendongmu kalau itu yang kamu sukai."


__ADS_2