Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Pria Tak Terduga di Kencan Buta


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan malam, Jenar datang ke kamar Lovely untuk membujuk keponakannya agar tidak marah pada ayahnya mengenai rencana perjodohannya. Setelah mendengar suara Lovely menyuruhnya masuk, ia pun membuka pintu kamar Lovely perlahan-lahan karena mengira Hebat sedang tidur dan tidak ingin mengganggunya. Benar saja. Anak kecil itu baru saja tidur setelah dibacakan dongeng oleh Lovely. Dan Lovely yang melihat Jenar masuk, beranjak dari tempat tidur lalu mendekati Jenar yang baru duduk di sofa.


"Bibi Kecil mau bicara tentang apa?" Lovely menebak bahwa bibi kecilnya datang untuk membujuknya supaya tidak marah pada ayahnya tapi dia tetap bertanya hanya untuk memastikan tebakannya saja.


"Tentang ayah dan ibumu, Loly!"


Lovely menghela nafas pelan untuk menenangkan emosinya, karena jujur ia tidak ingin mendengar apapun tentang kedua orang tuanya yang masih bersikeras menjodohkannya. Jika tidak menghargai dan menghormati Jenar sebagai orang yang selama ini membelanya, ia pasti menolak untuk mendengarkan Jenar.


"Katakanlah Bi!"


Jenar lebih dulu meraih tangan kanan Lovely, memegangnya dengan kedua tangannya. "Loly, Bibi bicara tentang ayah dan ibumu bukan karena tidak menyayangimu jadi jangan sedih kalau Bibi Kecil datang bicara tentang mereka. Bibi Kecil tetap sayang padamu, Loly."


Lovely mengangguk. "Aku paham Bibi Kecil."


"Kamu pasti berpikir kalau rencana ayahmu menjodohkanmu karena keuntungan. Bibi Kecil nggak bisa bohong sama kamu. Ayahmu memang menjodohkan mu karena bisnis tapi beliau tetap memikirkan kebahagiaanmu. Ayahmu berpikir kalau kamu menikah dengan pilihannya maka kamu pasti akan bahagia dan masa depanmu pun terjamin Loly. Beliau itu hanya percaya pada pilihannya saja. Jadi Loly, ikuti saja keinginan ayahmu."


"Tapi aku nggak suka aja cara ayah dan ibu yang sengaja bohong cuma demi rencana mereka."


"Iya aku tahu cara kami tidak benar tapi kalau tidak seperti itu, kamu pasti menolak pulang ke Indonesia," balas Jenar yang masih memegang tangan Lovely.


Lovely hanya diam tapi tidak menatap Jenar. Kepalanya sedikit menunduk.


"Loly, lihat aku!" pinta Jenar, dan Lovely kembali mengangkat wajahnya melihat Jenar.


"cobalah untuk buka hatimu untuk seorang pria. Kalau setelah kamu bersama pria itu tapi kalian tidak cocok. Ayahmu pasti tidak akan marah. Bibi Kecil yakin. Lagipula Hebat sudah empat tahun, dia butuh sosok ayah untuk masa depannya," lanjut Jenar.

__ADS_1


"Kalau aku cari pria, aku ingin cari pria yang bertanggung jawab, yang menerima Hebat, Bi. Aku tidak menginginkan pria seperti Ridwan yang cuma peduli dengan penampilan orang saja," ucap Lovely sedikit menunduk.


Jenar tersenyum. "Tentu saja dia harus menerima Hebat. Dan lagi, Bibi Kecil juga sudah bertunangan dengan pilihan ayahmu."


Lovely kaget, matanya membulat sempurna melihat Jenar. "Bibi Kecil udah tunangan? Kok bibi nggak kasih tahu?"


"Sory, Bibi Kecil nggak mau ganggu kamu. Waktu itu kan, kamu fokus sama ujian akhir kamu Loly. Bibi Kecil nggak mau kamu terganggu dengan apapun dan cuma fokus aja sama kuliah kamu. Apalagi Bibi Kecil juga tunangan karena bisnis," jelas Jenar.


"Berarti bibi tunangan setahun lalu?"


Jenar mengangguk pelan sembari tersenyum.


"Pria itu siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya Lovely.


"Siapa dia Bi?" tanya Lovely yang malah semakin penasaran dengan tunangan bibinya.


"Dia Alister Sandero. Kamu pasti pernah dengar namanya."


Lovely merasa familiar mendengar nama tunangan bibinya. Ia terdiam sejenak, mencoba mengingat sesuatu tentang orang yang bernama Alister Sandero. "Ooooo, aku ingat. Dia pria yang pernah kerja sama dengan Mr, Jonathan. Mr. Jonathan sering menyebut orang itu di depanku, Bi. Mantan bosku itu berteman baik dengan tunangan bibi."


"Berarti kamu pernah lihat Alister?" tanya Jenar.


"Sayangnya nggak pernah ketemu langsung sama orangnya. Apalagi aku baru jadi sekertaris Mr. Jonathan," jelas Lovely.


"Mama!" Tiba-tiba Hebat bangun di tengah obrolan mereka hingga kedua wanita itu seketika menghentikan obrolannya.

__ADS_1


"Bi, sebentar! Hebat bangun!"


"Bibi Kecil juga udah selesai bicara sama kamu. Bibi mau istirahat tapi sebelum Bibi Kecil pergi. Bibi Kecil mau kasih tahu kamu, kalau besok ayahmu mengatur kencan buta untukmu! Dan kali ini, ayahmu tidak ingin mendengarkan apapun Loly!"


"Oke. Aku pergi!" Lovely lelah berdebat dengan ayahnya mengenai perjodohannya itu. Toh, Jenar sudah memberitahunya bahwa mereka tidak akan memaksanya jika nanti tidak cocok dengan pria yang dipilih Tuan Arman-ayahnya.


"Bibi Kecil senang dengarnya. Kalau gitu, bibi pergi ya. Selamat malam!" Jenar pun berjalan keluar dari kamar Lovely, sedangkan Lovely mendatangi anaknya yang duduk mengucek-ngucek matanya.


Esok pagi ketika sarapan, Tuan Arman mengingatkan Lovely kembali untuk datang bertemu dengan pria baru yang ingin dijodohkan dengannya. Lovely tidak banyak bicara, bahkan hanya mengatakan 'iya' saja pada sang ayah. Dan setelah sarapan, Lovely ke kantor bersama Jenar, karena katanya, Tuan Arman memberikan posisi untuknya di perusahaan. Sementara Hebat tetap berada di rumah. Namun anak kecil itu diberikan pengasuh oleh Tuan Arman agar anak itu tidak merepotkan orang di rumah. Terlebih tidak menghalangi Lovely yang harus mendapat pasangan terbaik.


"Ini ruangannya Loly. Mulai besok kamu mulai kerja sebagai sekertaris ku."


"Iya Bi." Lovely menjawab sembari melihat-lihat meja kerjanya yang berada di depan ruangan Jenar. Menjadi sekertaris Jenar yang merupakan manajer di perusahaan keluarganya, tidak membuat Lovely kesulitan karena sebelum menjadi sekertaris Mr. Jonathan-direktur perusahaan di Amerika, Lovely sudah pernah menjadi sekertaris seorang manajer yang cukup tegas di Amerika.


"Kenapa aku nggak kerja aja hari ini Bi?" tanya Lovely.


"Kamu siapin diri dulu. Lagipula hari ini kamu harus datang kencan buta yang sudah diatur ayahmu," jelas Jenar.


"Kencannya kan, siang. Jadi nggak masalah kalau aku kerja dulu Bi," kata Lovely yang tak sabar ingin duduk bekerja di sana.


"Oke deh. Bibi Kecil turuti kamu saja." Jenar tidak mau merusak mood Lovely jika ia menolak keinginan keponakannya itu, karena jika mood Lovely buruk lagi, pasti akan membuat masalah dikencan butanya.


Siang hari sekitar pukul satu, Lovely meninggalkan perusahaan menuju restoran di mana ia harusnya bertemu dengan calon kencan butanya. Namun sampai di sana, pria itu malah belum datang. Meski begitu, Lovely tetap duduk menunggu di meja yang sudah direservasi. Sekitar sepuluh menit duduk di sana, datang seorang pria tak terduga yang langsung duduk di depan Lovely. Lovely sampai terkejut melihat sosok pria itu duduk di depannya sembari tersenyum angkuh.


"Kau masih mengingatku Nona Cinta!"

__ADS_1


__ADS_2