
“Ini karena kamu yang mulai cari masalah Lovely. Kamu seenaknya bawa Hebat pergi tanpa izinku. Kamu tidak bisa begini karena aku papanya Hebat, Lovely. Aku punya hak untuk besarin Hebat walau aku baru datang dan muncul sekarang di depan kalian,” ujar Alister dengan tegas menatap Lovely.
“Karena kamu papanya, terus kamu datang nuntut hak asuh Hebat. Kamu tahu, apa aja yang udah aku lewatin selama ini?”
“Aku nggak tahu apa saja yang terjadi padamu karena aku, tapi aku tahu, kalau semua yang kamu lalui itu sangat berat untukmu. Karena itu, aku datang mengulurkan tanganku untuk ngerawat Hebat. Aku gak akan biarin kamu sendiri ngerawat Hebat, Lovely. Dia butuh papanya dan butuh ibunya juga!” Alister sungguh tak bisa membiarkan Hebat hidup tanpa ayah. Karena itu, ia akan melakukan apapun agar Lovely berhenti memberikan batasan untuk anaknya.
“Jadi mau kamu apa? Kamu mau nuntut aku sekarang?” tanya Lovely.
Alister yang datang bersama Azil, menyuruh Azil menggendong Hebat dan itu membuat Lovely kaget karena mengira Alister merebut Hebat darinya.
“Apa yang kamu lakukan Alister? Aku bisa teriak kalau kamu berani bawa Hebat!”
Alister tidak mendengarkan ancaman Lovely. Bahkan pria itu menaikkan alisnya sembari tersenyum miring. Lalu, ia menarik tangan Lovely, menariknya secara paksa meninggalkan tempat itu. Azil yang menggendong Hebat sudah
berjalan duluan dan Hebat sama sekali tak memberontak. Tidak seperti Lovely yang berusaha melepaskan genggaman tangan Alister. Bahkan terus mengumpat pada pria itu agar dilepaskan tapi Alister malah tersenyum smirk.
__ADS_1
“Kamu mau, nuntut aku untuk hak asuh Hebat kan? Oke, aku bakal turutin kamu, jadi tolong lepaskan aku sekarang!” kata Lovely ketika ia dan Alister berjalan ke parkiran bandara.
Alister akhirnya melepaskan tangannya kemudian menatap Lovely dengan serius. “Jadi kamu tidak mengizinkanku merawat Hebat?”
“Siapa bilang aku kasih kamu izin ngerawat Hebat? Aku bilang bakal turutin kemauan kamu yang nuntut hak asuh Hebat. Aku juga bakal melakukan itu untuk mempertahankan Hebat agar tetap berada disisiku.”
Alister kembali menarik tangan Lovely kemudian menarik Lovely sampai mendekat ke arahnya. “Kamu kira bisa menang melawanku Lovely. Kamu harus tahu, aku Alister Sandero yang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanku. Menuntut hak asuh anak adalah masalah kecil untukku. Kamu tidak punya kesempatan untuk menang dariku karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Bahkan aku tidak akan memberimu harapan menang.”
Lovely diam saja. Namun tampak diwajahnya ada sedikit ketakutan mendengar ucapan Alister. Alister kembali menatap sinis Lovely yang tidak mengatakan apapun padanya. Lalu, ia menoleh melihat Azil yang duduk di dalam mobil bersama Hebat.
Azil mengangguk kemudian beralih melihat Lovely yang masih berdiri di luar mobil. “Ayo Nona Lovely! Saya antar pulang!”
Karena Hebat sudah berada di mobil Azil dan Lovely tidak ingin menunjukkan sikap arogannya di depan Hebat dengan menolak hingga ia masuk ke mobil Azil dengan perasaan marah. Alister yang melihat itu tersenyum.
Saat mobil Azil melaju meninggalkan parkiran, Levon datang menghampiri Alister. “Alister!”
__ADS_1
Alister menoleh dan menatap Levon biasa. “Kau masih di sini?”
“Itu tidak penting. Yang penting adalah sikapmu pada Lovely. Kau bilang menyukai adikku tapi kenapa kau malah memaksanya?”
Sebelum Alister membawa Lovely keluar dari bandara, Alister sudah menghubungi Levon, meminta bantuan pada Levon untuk membantunya menghentikan Lovely jika nantinya Lovely ingin pergi tapi Levon menolak. Karena itu. Alister melakukan tindakan kasarnya untuk membawa Lovely dan Hebat pergi. Levon sempat melihat Alister ketika pria itu mengejar Lovely ke dalam. Karena itu, Levon putar balik dan mendatangi Alister.
“Aku terpaksa melakukannya supaya Lovely tidak jadi pergi. Aku tidak sungguh-sungguh berbuat kasar padanya,” jelas Alister.
“Sekarang Lovely tidak pergi! Jadi apa yang ingin kamu lakukan untuk menahannya? Alister, adikku tidak akan bisa kamu bujuk untuk tinggal di sini karena dia sudah memutuskan untuk pergi. Memaksanya hanya buat dia menderita.”
“Kalau dia tidak mencintaiku, aku tidak akan melakukan ini tapi aku tahu kalau dia mencintaiku. Dia menjauhiku karena sikap dan tindakanku yang pernah menyakitinya. Karena itu, aku ingin memperbaikinya, Levon!” ujar Alister dengan tegas dan serius.
Levon menghela nafas panjang. Mendengar ucapan Alister mengenai perasaan, membuatnya kehabisan kata-kata. “Terserahlah tapi aku tidak akan tinggal diam kalau tindakanmu ini buat adikku semakin menderita. Aku akan menghabisimu Alister.”
Alister tersenyum sembari memegang salah satu bahu Levon. “Aku tidak akan membiarkanmu menghabisiku.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alister berjalan melewati Levon yang terlihat kesal. Levon memegang kepalanya sembari menghela nafas kasar melihat Alister pergi. “Menyebalkan! Kenapa orang licik seperti dia bisa jadi pengusaha?”