Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Bersama Pria Lain


__ADS_3

Lovely berada di bandara bersama Brey. Mereka berdua ada di sana untuk menjemput Levon-kakak kandung Lovely yang selama delapan tahun ini tinggal di Spanyol. Rencananya, Lovely ingin datang sendiri untuk menjemput Levon tapi Brey tiba-tiba datang ke rumahnya dan membuatnya terpaksa bersama Brey ke bandara. Apalagi Tuan Arman memaksanya untuk pergi dengan Brey.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat Bang Levon. Kira-kira berapa tahun ya? Apa dia masih ingat padaku?" Brey menyahut ketika ia mengingat tentang masa remajanya yang pernah bertemu dengan Levon di depan sekolah ketika Levon datang menjemput Lovely di sekolah.


"Kalau nggak salah, delapan tahun. Hari itu, kakak datang jemput untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke Spanyol."


Bukan hanya Brey yang tidak pernah bertemu dengan Levon selama bertahun-tahun. Lovely pun tidak pernah bertemu dengan kakaknya selama delapan tahun ini, bahkan komunikasi saja, hanya sekali ketika Lovely ulang tahun ke delapan belas tahun. Setelah itu, Lovely tidak pernah lagi menghubungi kakaknya. Bukan karena tidak ingin tapi Lovely dilarang keras oleh Tuan Arman untuk menghubungi Levon. Katanya, itu hanya mengganggu Levon yang sedang menempuh pendidikannya di sana.


"Ternyata memang udah lama banget."


Di saat yang sama, seorang laki-laki keluar dari pintu kedatangan dan pria itu berdiri di sana sembari mencari seseorang. Lovely yang melihat kakaknya di sana, segera melambaikan tangannya. "Kakak di sini!"


Levon tersenyum ketika melihat Lovely melambai kepadanya. Buru-buru ia melangkah menghampiri Lovely sembari menarik kopernya. Dan Lovely yang melihat kakaknya sudah dekat, lantas berjalan cepat lalu melempar tubuhnya-memeluk Levon. Levon membalas pelukan adiknya bahkan ia tersenyum sembari mengelus kepala Lovely.


"Apa kabar gadis kecilku?' Selama ini Levon tidak pernah mendengar kabar Lovely lima tahun lalu ketika Lovely diusir dari rumah. Ia tahunya Lovely melanjutkan pendidikannya di Amerika, bahkan Levon tidak tahu bahwa Lovely sekarang sudah punya anak. Tuan Arman tidak pernah menceritakan masalah Lovely pada Levon karena tahu sifat putranya yang peduli dengan Lovely meski Lovely melakukan kesalahan.


"Kabarku baik Kak."


Kedua kakak beradik itu saling melepaskan pelukan mereka.


Kemudian Levon melihat Brey.


"Dia ini ...," Levon menjeda kalimatnya dengan ekspresinya yang seolah pernah melihat Brey.


"Kakak masih ingat dengan teman laki-laki yang dulu kakak antarin ke rumahnya?" sahut Lovely.


Levon terdiam sejenak mencoba mengingat hal itu, dan detik berikutnya ia mengangguk melihat Lovely.


"Dia temanku. Brey. Yang dulu kakak anterin."


Seketika Levon menoleh ke Brey. "Ooooo! Jadi itu kamu?"

__ADS_1


Brey mengangguk. "Iya Bang Levon. Itu saya."


Levon meletakkan tangannya di atas bahu kiri Brey lalu menepuk-nepuk pelan. "Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi."


Levon tahu jelas bahwa Brey bukan sekedar teman biasa Lovely. Pria itu sahabat adiknya yang selalu ada saat Lovely dibully teman-temannya ketika masih sekolah sehingga Levon langsung tahu saat Lovely membahas pertemuannya dengan Brey. Dulu, Lovely selalu membahas tentang Brey di depannya. Oleh sebab itu, ia mengenal Brey meski hanya dua kali bertemu.


"Oke. Jangan ngobrol di sini! Kakak pasti capek terus lapar juga. Lebih baik kita pulang sekarang. Tapi sebelum itu, aku bakal ngajak kakak mampir makan di restoran dekat rumah," sambung Lovely.


Levon dan Brey hanya mengangguk setuju. Mereka pun meninggalkan bandara dengan mobil yang dikendarai Brey.


Mereka kini sampai di salah satu restoran yang cukup ramai. Dan restoran itu hanya berjarak satu kilo dari rumah. Setelah duduk di sana, mereka masing-masing memesan makanan dan minuman yang mereka suka. Lalu menunggu sambil mengobrol.


"Silahkan lanjutkan obrolan kalian! Aku tinggal sebentar." Levon berucap sembari berdiri dari kursinya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Lovely.


"Mau ke toilet sebentar. Mau ikut?"


Levon tertawa kecil melihat ekspresi serius adiknya, dan ia juga meletakkan tangannya di atas kepala Lovely. "Cuma bercanda."


"Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bukan gadis empat belas tahun tapi wanita dewasa dua pulun dua tahun," tegas Lovely yang tidak senang dengan sikap kakaknya-yang masih memperlakukannya seperti anak-anak.


"Sory. Aku selalu lupa. Mungkin karena aku tidak melihatmu tumbuh dewasa dan ingatanku hanya kamu yang berusia empat belas tahun."


Lovely hanya menghela nafas lelahnya melihat kakaknya. Lalu, Levon berjalan meninggalkan mereka, menuju kamar mandi di restoran itu. Alister keluar dari sebuah ruangan bersama Azil, dan saat itu, Levon berjalan melewatinya tapi mereka sama-sama tidak saling melihat.


Alister malah melihat ke arah meja tempat duduk Lovely. "Itu Cinta kan?"


Mendengar ucapan Alister, membuat Azil langsung menoleh ke arah sana. "Iya tuan tapi sepertinya Nona Lovely bersama seseorang."


Tampak diwajah Alister yang kesal melihat Lovely duduk berhadapan dengan seorang pria, bahkan ia tidak mendengar apa yang dikatakan Azil dan hanya fokus melihat mereka.

__ADS_1


"Kau urus rapat di sini. Aku akan ke sana!"


"Tapi tuan ...,"


Tanpa mendengarkan Azil, Alister melangkah pergi menghampiri Lovely dan Azil hanya menghela nafas lelah melihat bosnya yang lebih mementingkan masalah pribadi ketimbang kerjaan.


Lovely yang asyik mengobrol dengan Brey, dikejutkan dengan Alister yang tiba-tiba berdiri di samping meja mereka dengan pandangan tajam seolah ingin membunuh orang. "Kamu di sini? Ngapain?" tanyanya kemudian.


"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain duduk berdua di tempat ini? Kamu datang makan siang dengan laki-laki ini? Dia siapa? Kamu ketemu dia di mana? Kenapa aku tidak tahu?" Pria itu melontarkan ribuan pertanyaan yang malah membuat Lovely bengong sendiri karena bingung harus menjawab yang mana.


"Jawab! Kenapa tidak jawab?" desak Alister kesal.


"Dia temanku. Namanya Brey. Aku datang bersama Brey dan ...,"


Belum selesai bicara, Alister tiba-tiba menarik tangan Lovely hingga berdiri. "Ayo pergi bersamaku!"


Brey ikut berdiri dan tampak heran melihat sikap pria asing yang datang menarik Lovely. "Tunggu tuan. Sepertinya ...,"


"Kau diam. Aku sedang bicara dengan pacarku." Alister tidak senang melihat Brey hingga ia langsung memotong ucapan Brey.


"Ali!"


"Kamu ikut denganku. Ayo!" Alister menarik paksa Lovely agar pergi dari sana tapi Lovely menghempas tangan pria itu.


"Jangan memaksaku! Aku tidak mau ikut denganmu," tegas Lovely yang membuat Alister makin kesal dengan perempuan itu.


Namun ia tidak ingin marah di tempat umum hingga tanpa mengatakan apapun, ia menggendong Lovely dibahunya lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


"Ali, turunkan aku! Turunkan!" pekik Lovely.


Melihat penolakan Lovely, Brey pun berjalan dan menahan Alister dengan berdiri di hadapan pria itu sehingga Alister menghentikan langkahnya. "Dia tidak mau pergi."

__ADS_1


Bukannya menanggapi Brey, Alister malah menurunkan Lovely kembali lalu menatap perempuan itu dengan tajam. "Kau mau pergi dengan suka rela atau aku membuat kekacauan di sini!"


__ADS_2