Mama Muda Yang Lugu

Mama Muda Yang Lugu
Kesedihan Lovely


__ADS_3

Jenar sudah dimakamkan. Banyak yang menghadiri pemakamannya tapi hanya Lovely yang tidak menunjukkan dirinya di depan semua orang. Perempuan itu baru muncul ketika semua orang meninggalkan tempat pemakaman. Di sana, di depan kuburan Jenar, Lovely menangis histeris. Dirinya tidak menerima kematian Jenar tapi tidak ingin menunjukkan sikapnya itu hingga ia baru datang ke pemakaman itu ketika semua orang sudah tidak ada.


"Bibi Kecil, hiks, hiks, hiks. Bibi Kecil, hiks, hiks! Aaaaaa! Kenapa harus begini? Kenapa bibi harus pergi? Aku benci pada bibi tapi aku tidak ingin bibi tiada. Hiks, hiks, hiks!" Lovely menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Tangisan terus terdengar. Sesakit itulah perasaannya yang kehilangan hingga ia terus menangis di sana.


Tanpa Lovely sadari, Alister tengah mengawasinya dari jauh. Alister yang datang mengantar kepergian Jenar, tidak meninggalkan tempat pemakaman karena yakin bahwa Lovely akan datang ke tempat itu. Ia menunggu Lovely di mobil tapi tidak berniat menunjukkan dirinya. Melihat Lovely menangis di depan kuburan Jenar, membuat Alister sedih.


***


Tiga hari sejak Jenar dimakamkan, Hebat membuka matanya. Lovely begitu terharu melihat anaknya akhirnya membuka matanya meski belum bisa bicara dengan baik karen kondisinya masih lemah.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Lovely pada dokter yang baru memeriksa lagi keadaan Hebat.


Dokter itu tersenyum. "Alhamdulillah sudah membaik dari sebelumnya nyonya. Tapi setiap dua jam, saya akan datang untuk periksa keadaannya lagi."


"Baik Dok," jawab Lovely.


Dokter itu pun pergi. Alister yang setia menemani anaknya di kamar inap itu, mendekati Hebat lalu mengajak Hebat bicara sembari mengelus kepala Hebat.


Meski Lovely tidak senang melihat Alister tapi ia tidak bisa mengusir pria itu mengingat Alister adalah ayah kandung Hebat, dan semua orang sudah tahu kebenaran itu.


"Alister, Hebat baru aja sadar. Tolong jangan buat dia bicara dulu!" tegur Lovely.


"Aku terlalu semangat sampai nggak sadar kalau Hebat masih butuh istirahat."


Lovely tidak mengatakan apapun lagi. Bahkan ia mengabaikan Alister di sana. Alister berusaha untuk tidak sakit hati dengan sikap Lovely karena paham yang dirasakan Lovely saat ini. Perempuan itu masih membencinya gara-gara Jenar.


"Ini sudah siang. Aku keluar beli makan siang dulu," ujar Alister lagi tapi tidak mendapat respon dari Lovely.

__ADS_1


Lovely hanya fokus memandang Hebat. Alister pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedikit kecewa karena masih diabaikan oleh Lovely tapi ia tetap mencoba untuk mengerti Lovely dengan tidak mempermasalahkannya.


Alister yang dulunya suka seenaknya pada orang. Sekarang dirinya mendapat balasan dengan cara diabaikan oleh orang yang dicintainya. Ia merasa bahwa itu adalah karma dari sikapnya yang sering seenaknya hanya karena ia seorang pemimpin sebuah perusahaan ternama.


Menit berikutnya, Alister kembali ke kamar inap Hebat setelah ia berhasil mendapat makan siang. Ia masuk ke sana dan melihat Lovely sedang menyuapi anaknya bubur.


"Ini makan siangnya. Makanannya masih hangat. Kamu makan dulu sebelum makanannya dingin." Alister berucap sembari meletakkan makan siang itu di atas meja.


"Ayo makan lagi sayang!" Lovely tidak mempedulikan Alister. Ia malah fokus dengan Hebat dan menganggap Alister seolah tidak ada di sana.


Nafas lelah berhasil lolos dari mulut Alister melihat sikap Lovely tapi ia memilih duduk diam di sana sembari memperhatikan anaknya disuapi oleh Lovely. Selesai makan, Alister mendekati Hebat yang mulai bisa bicara.


"Om Ali kenapa selalu ada di sini?" Sejak Hebat sadarkan diri dan melihat Alister selalu menemaninya, ia menjadi penasaran dengan Alister hingga akhirnya ia bertanya.


"Buat temenin Hebat. Dan Om Ali bakal selalu ada untuk Hebat. Bahkan kalau Hebat sudah keluar dari rumah sakit, Om Ali masih tetap menemani Hebat."


Alister kaget mendengar pertanyaan Hebat. Ia tidak segera menjawab dan malah beralih melihat Lovely yang duduk di depannya. "Kamu dan Hebat mau ke Amerika?"


Lovely mengangguk. "Hebat tidak senang tinggal di sini. Dulu dia selalu minta untuk balik ke sana. Dan aku selalu mengabaikannya. Sekarang, aku ingin memenuhi keinginannya. Setelah dia sembuh, kami akan berangkat ke Amerika."


"Aku melarangmu untuk pergi dengan Hebat," ucap Alister yang terlihat tak senang mendengar rencana kepergian Lovely dan Hebat.


"Apa hakmu melarangku pergi dengan anakku?" Lovely pun tidak suka melihat Alister yang melarangnya, padahal mereka tidak punya hubungan apapun.


"Tentu saja aku punya hak. Aku ayah kandungnya Hebat. Melarang Hebat pergi adalah hakku sebagai ayahnya."


Lovely sadar bahwa ada Hebat yang mendengar pertengkaran mereka. Ia pun menarik tangan Alister sampai pria itu berdiri. "Hebat, mama bicara dulu sama Om Ali ya."

__ADS_1


Hebat hanya mengangguk. Kemudian Lovely menarik Alister keluar dari kamar Hebat. Ia segera melepaskan tangan Alister saat mereka berada di luar.


"Hanya karena kamu menghamili ku, terus kamu menganggap dirimu ayahnya Hebat yang berhak atas kehidupannya. Alister, aku yang lahirin dia dan aku juga yang sudah payah membesarkan dia sampai sekarang. Walau kamu ayahnya tapi kamu tidak punya hak menjadi ayahnya. Dan aku mau ke mana sama anakku, itu urusanku. Nggak ada urusannya sama kamu yang orang lain bagi kami."


Alister meraih tangan Lovely, menariknya sampai mendekat kepadanya. "Selama kamu masih hidup, aku akan terus ikut campur semua yang menyangkut dirimu."


"Lepas!" Lovely berusaha menarik tangannya dari Alister. Namun Alister semakin menjadi-jadi. Pria itu malah menarik Lovely hingga berada dalam pelukannya. Bahkan Alister tersenyum miring sembari menaikkan alisnya menggoda Lovely.


"Tidak tahu malu."


"Alister!" seruan seorang perempuan, mengalihkan Alister yang menoleh ke belakang melihat sosok perempuan itu, dan ia segera melepas Lovely.


"Ma!" Alister sedikit kaget melihat ibunya datang bersama adiknya.


Lovely pun ikut kaget melihat kedatangan ibunya Alister. Terlebih ia tidak tahu harus bersikap apa di depan mereka.


"Kenapa mama ke sini?" tanya Alister yang tidak senang melihat ibunya di sana.


"Tentu saja mau jenguk cucu Mama."


Alister buru-buru menarik ibu dan adiknya menjauh dari Lovely. Kemudian berbisik, "Mama harusnya ngomong dulu kalau mau datang. Mama tahu, ini bukan waktu yang tepat mama datang kemari."


"Tadi Azil udah kasih tahu semua yang terjadi sampai Hebat masuk rumah sakit. Nggak mungkin dong mama bisa tenang di rumah setelah dengar kejadian yang menimpa cucu Mama."


"Iya. Aku tahu mama nggak sabar mau lihat Hebat tapi sekarang kondisinya ...,"


"Sssttt. Diamlah Alister! Sekarang mama nggak peduli dengan kondisinya. Mama cuma mau lihat keadaan cucu Mama. Kamu nggak suka, terserah."

__ADS_1


__ADS_2