MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.10 (Melawan restu)


__ADS_3

...Salahkah jika aku ingin kisah ini selamanya? Disaat restunya tak berpihak, aku berjuang tapi kamu memilih, menyerah....


(Lirik di ambil dari lagu berjudul Melawan Restu yang di populerkan oleh Mahalini)©


.


.


.


.


.


Malam hari di kota metropolitan di Negara itu. Luna menambah kecepatan laju mobilnya. Saat mendengar Mishel akan menerima perjodohan itu, hatinya seolah tak terima saat seseorang yang masih mendominasi di usik oleh orang lain. Iya mencoba berpikir keras, apa alasannya, kenapa ia merasa tidak nyaman. Namun jawaban yang ia dapatkan hanya satu yaitu, sisa cinta itu masih ada.


Ingatan Luna pun kembali berputar saat dimana ia dan Adrian memutuskan untuk berpisah. Kisah kelam yang di warnai konflik yang berlandaskan masalah antar keluarga dan juga masalah internal yang berasal dari ego masing-masing.


Flashback on.


"Saya minta kamu tinggalkan anak saya!" hardik seorang wanita paru baya itu kepada Luna.


Luna hanya bisa tertunduk dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Mertuanya itu selalu datang setiap sang suami pergi, hanya untuk mengatakan hal yang sama. Jika di awal ia tidak goyah tapi hari itu mentalnya mulai melemah.


"Dari awal saya sudah tidak merestui hubungan kalian, dan lihat sekarang anak saya satu-satunya harus menderita karena hidup bersama kamu. Suami saya hanya akan menerima Adrian kembali, jika dia menceraikan kamu! Pikirkan itu baik-baik."


Setelah kepegian mertuanya. Luna terduduk lemas di atas lantai. Air mata kembali mengalir deras. Dadanya terasa sesak sudah tiga bulan dan hanya penderitaan yang ia rasakan, batinya tertekan. Ingin rasanya ia mengadu pada sang suami tapi saat melihat wajah lelah Adrian ketika pulang dari bekerja, ia mengurungkan niatnya dan memendam semua sendiri.


~


Adrian melangkah dengan lemas memasuki rumah sederhana, tempat dia dan Luna memulai mimpi kecil mereka. Hari ini ia baru saja kehilangan pekerjaan dan itu membuat ia kesal dan marah. Ya, semenjak memutuskan untuk menikah, kedua orangtuanya seolah lepas tangan dan membiarkan Adrian untuk menjalani hidup mandiri.


Namun semua tak seindah bayangannya. Karena ternyata menikah muda itu tidaklah mudah. Tanggung jawab seorang kepala keluarga belum sepenuhnya ia kuasai, hingga mimpi itu menjadi mala petaka. Begitu juga hari itu, Adrian terlihat sangat kesal saat membuka tudung saji, tidak ada apapun yang bisa mengisi perutnya. Dengan cepat ia mencari keberadaan sang istri.


"Kamu tidak masak?" tanya Adrian saat menghampiri Luna yang sedang duduk termenung di sebuah sofa di ruang tengah.


Luna mendongakan kepalanya untuk melihat Adrian, "Masak mie instan saja."


"A-apa ... mie instan, lagi?"


"Makan saja apa yang ada."


"Kenapa kamu malas sekali, suami pulang dalam keadaan lelah dan kamu malah bersantai-santai tidak jelas."

__ADS_1


Mendengar ucapan Adrian ia langsung berdiri dari posisinya, "Apa kamu bilang, bersantai?"


"Iya, apa aku salah?"


Hembusan nafas Luna terasa bergetar karena menahan gejolak di dada, ia hanya diam tanpa menimpali ucapan suaminya. Melihat Luna hanya terdiam, Adrian melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian, namun saat melewati aquarium ikan miliknya ia terkejut melihat semua ikannya mati. Dengan cepat ia kembali menghampiri Luna.


"Apa kamu yang mematikan power head akuarium ku?"


"Iya aku yang mematikannya."


"Kenapa! Ikan ku mati semua."


"Apa kamu hanya perduli dengan ikan? Kamu tidak pernah punya waktu untuk memperhatikan ku!"


"Itu adalah hobi ku, kamu sendiri suka sekali mengoleksi tas hingga sepatu, tapi aku tidak pernah melarangnya."


"Terus apa yang akan kamu lakukan! Kamu ingin merusak tas ku, silahkan."


"Kamu pikir aku tidak berani!"


Adrian melangkah menuju sebuah lemari kaca sederhana dimana beberapa koleksi tas Luna terpajang indah. Luna terlihat panik saat Adrian meraih sebuah gunting dan di arahkan ke tas kesayangannya.


"Jangan lakukan, itu tas kesayanganku!"


"Tidak!" teriak Luna.


"Bagaimana rasanya saat barang kesayangan mu rusak?"


"Kau gila!" Dengan langkah yang terhentak-hentak, Luna meraih sebuah benda kedua yang paling di sayangi Adrian.


"Jangan sentuh playstation ku, Itu sangat mahal!" seru Adrian saat melihat Luna mengangkat playstation miliknya hingga melewati kepala.


Prankkkk.


Dengan satu gerakan, Luna membanting benda itu hingga hancur. Adrian mengerang kesal. Seoalah kehilangan akal, ia melangkah menuju dapur dan membanting semua barang pecah belah yang ada disana kemudian kembali menatap Luna.


"Apa ini yang kamu inginkan, semuanya hancur!" teriak Adrian.


"Lalu apa yang kamu ingin kan! Aku lelah sangat lelah dengan keadaan ini," sahut Luna seraya menahan air matanya.


"Kalau begitu ayo kita akhiri, kita berpisah saja."


Deg.

__ADS_1


Luna hampir tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Saat satu kata menghancurkan segalanya. Emosi yang sedang meluap-luap membuat Adrian tanpa sadar mengatakan hal itu, ia terlihat menyesal namun semuanya sudah terlambat, Luna melangkah dengan cepat keluar dari rumah. Sejak hari itu masalah semakin memburuk karena kedua keluarga yang mulai ikut campur dan akhirnya mereka benar-benar, bercerai.


Flashback off.


Luna menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ekspresi wajahnya terlihat datar saat melihat layar ponsel. Ya, pesan masuk itu dari Adrian.


[Mobilku sudah selesai di perbaiki, sesuai janji kamu harus bertanggung jawab untuk semua biayanya, aku tunggu kamu di taman kota sekarang.]


Luna meletakkan ponselnya di laci dasboard mobil, tanpa membalas pesan yang di kirim Adrian. Ia kembali menginjak pedal gas saat lampu merah berganti hijau. Namun mobil itu memutar arah karena ia harus menemui seseorang yang mengirimkan pesan kepadanya tadi.


~


Sesampainya di taman kota. Sausana sudah sangat sepi saat Luna keluar dari dalam mobil. Ia melangkah memasuki area taman yang hanya di sinari cahaya remang-remang lampu taman. Ia menggedarkan pandanganya, melihat ke sekeliling namun tak juga menemukan orang yang di cari.


Tiba-tiba saja dari arah belakang sebuah tangan mencengkram pundaknya. Sontak Luna langsung meraih dan memutar lengan orang asing itu.


"Aduh lepaskan tanganku sakit sekali!"


"Kau!" Luna segera melepaskan tangannya, "Salah sendiri membuat orang kaget."


"Kamu masih jago bela diri seperti saat di sekolah dulu."


Luna seolah tak ingin berbasa-basi dan langsung mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. Amplop berisi uang itu sudah lama ia persiapkan.


"Ini uang untuk perbaikan mobil mu," ucap Luna seraya mengulurkan tangannya.


Adrian diam tertegun sesaat seraya menatap amplop yang ada di tangan Luna. Sebenarnya meminta ganti rugi hanyalah alasan agar ia bisa bertemu dengan mantan istrinya itu.


"Ayo ambil."


"Aku tidak bisa menerimanya ... sebenarnya aku hanya ingin bertemu kamu saja."


Luna meraih tangan Adrian dan langsung meletakkan amplop itu di sana, "Ambil ini, aku sudah berjanji akan mengganti. Aku tidak tahu maksud mu ingin menemui ku tapi jika itu tidak penting, jangan di ulangi lagi."


"Aku merindukan mu."


Luna diam terpaku seraya menatap wajah Adrian yang tiba-tiba saja berubah sendu. Perasaan aneh kembali menggelitik hatinya, secara perlahan namun pasti tanpa bisa membohongi hati nurani, ia juga sangat merindukan pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Aku sangat merindukan mu." Adrian kembali mengulangi ucapanya. Melihat Luna diam terpaku, tanpa pikir panjang ia melangkah mendekat, menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangan dan langsung mendaratkan sebuah ciuman.


Luna berusaha mendorong tubuh Adrian namun ia kalah tenaga hingga akhirnya tubuhnya mulai melemah saat hati dan pikirannya mulai tak sejalan. Dirinya mulai menikmati setiap sensasi yang di tawarkan, sudah begitu lama dan semua masih sama lembut, hangat dan menuntut.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen di setiap bab. Jika berkenan, berikan vote dan hadiah sebagai penyemangat author. Terimakasih atas dukungannya. 🙏


__ADS_2