MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.58 (Ayo Pacaran!)


__ADS_3

"Apa yang harus aku beli untuk hadiah kesembuhan Mama kamu ya, bunga, tas, dres ... ahk aku bingung." Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Luna terus saja memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan kepada Mama Adrian.


"Sudah tidak perlu sampai seperti itu, kamu datang dan menjenguk Mama saja sudah senang," ucap Adrian seraya terus fokus menyetir.


"Rasanya tidak enak saja, aku akan belikan tas saja. Kamu jangan protes karena aku ingin membelinya. Dulu waktu aku pertama kali mendapat gaji, aku membelikan Ibu ku tas import, aku sempat berpikir andai kita tidak bercerai, pasti aku juga akan membeli untuk Mama kamu," tutur Luna seraya melihat ponselnya, ya, ia sedang membuka sebuah situs web langganannya saat akan membeli tas ori.


"Ya baiklah terserah kamu saja. Ngomong-ngomong soal Mama, Mama meminta kita untuk pulang ke kota X. Sudah lama sekali kamu tidak pulang kan?" tanya Adrian.


"Kebetulan sekali, Ibu juga meminta aku untuk pulang. Sekalian mengunjungi makam bapak. Tapi rumah orang tua kamu ke rumah Ibu lumayan jauh ya, sekitar dua jam perjalanan dengan mobil ... kita ke mana dulu ya," ucap Luna yang nampak bingung.


"Memangnya kamu kapan mau pulang kesana?" tanya Adrian.


"Ahk iya, aku juga belum tahu, bulan ini aku tidak bisa mengambil cuti," ujar Luna kecewa.


"Aku juga belum menyelesaikan proyek rumah sakit, jadi santai saja ya," ucap Adrian seraya meraih tangan Luna dan di genggamannya erat.


~


Di tempat yang berbeda.


Mata pria brensek itu mulia terbuka. Ia merasakan seluruh tubuhnya sakit dan tak bisa bergerak. Saat kesadarannya sudah kembali seratus persen, ia baru sadar ternyata ia sedang terikat di sebuah kursi di ruangan tengah Apartemennya.


Pria itu berusaha melepaskan diri karena ia melihat Joni dan Mishel sedang mengotak atik laptop dan ponselnya. "Jangan sentuh barang-barang ku! Kalian licik sekali, satu banding dua, tentu saja aku akan terpojokkan."

__ADS_1


Joni hanya melempar senyum kepada pria itu. "Kamu yang licik, seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak. Laki-laki seperti kamu itu bagusnya di penjara ya kan, setelah semua foto-foto ini terhapus kamu mau apa?"


Joni terlihat geram saat melihat begitu banyak foto tanpa busana Mishel yang ada di laptop itu. Tanpa menunda waktu ia langsung menghapus foto-foto itu tanpa meninggalkan jejak. Ia juga menginstal ulang laptop itu hingga semua isinya terhapus.


Begitu juga dengan Mishel yang terlihat sangat serius saat menghapus foto-fotonya dari ponsel pria brensek itu. "Seharusnya kamu memakai kode ponsel, kalau seperti ini aku dengan mudah bisa menghapusnya."


"Dasar wanita murahan! Kita sama-sama melakukannya karena sama-sama suka, kamu yang bodoh karena tidak punya otak, menyukai pria sembarangan, hahaha lihat dirimu yang sekarang kamu hanya wanita murahan tidak suci lagi."


Bug.


Joni kembali mendaratkan satu pukulan ke wajah pria itu sampai hidungnya berdarah. "Dasar manusia sampah, berani sekali kamu menghinanya setelah apa yang sudah kamu lakukan."


Mishel segera menahan tangan Joni saat Joni terlihat ingin memukul pria itu lagi. "Jon sudah, jangan pukul dia lagi, aku tidak mau kamu terkena masalah, sekarang semua foto itu sudah terhapus kita pulang ya."


"Jangan ... jangan hapus foto yang ada di kamera itu aku mohon!" teriak pria itu kepada Joni.


Joni tak mendengarkan dan terus fokus memeriksa foto yang ada di kamera itu. Ia dan Mishel cukup tercengang saat melihat begitu banyak foto wanita tanpa busana di camera itu. "Wah ternyata kamu maniak, apa kamu juga mengancam semua perempuan di foto ini?"


"Aku bilang lepaskan kamera itu, hapus semua foto pacar mu itu tapi jangan foto yang lain, itu adalah sumber uang ku!" teriak laki-laki itu.


"Mana mungkin aku akan membiarkan kamu melakukan hal itu. Lebih baik kamu sadar sekarang." Joni menghapus semua foto yang ada di kamera itu tanpa tersisa satu pun.


Setelah selesai Joni meletakkan kamera itu dan langsung melangkah untuk melepaskan ikatan pria tadi. Setelah tali terbuka, pria itu tersungkur ke lantai, ia tak merasa tubuhnya begitu lemah karena di hajar Joni.

__ADS_1


"Aku peringatkan, mulai sekarang jangan sekalipun kamu mengganggu Mishel, atau aku akan melaporkan kamu ke polisi." Joni menoleh dan meraih tangan Mishel. "Ayo kita pulang."


Joni menarik tangan Mishel keluar dari apartement itu.


~


Dalam perjalanan pulang, Joni dan Mishel mampir ke sebuah cafe untuk makan siang dan mengobrol. Setelah makanan datang, Joni makan dengan cepat tanpa mengatakan apapun. Entah kenapa, sejak tadi Joni tak bicara apapun kepada Mishel.


Mishel belum juga menyentuh makanannya sejak tadi. Ia malah fokus memperhatikan Joni yang sedang makan di hadapannya. Ia tahu Joni pasti kaget saat melihat foto-foto itu.


"Kamu pasti menyesal ya mengenal wanita seperti ku ... sebenarnya aku malu minta tolong padamu tapi aku tidak punya teman pria yang bisa aku percayai selain kamu, sekarang kamu sudah tahu dan melihat sendiri bagaimana bodohnya aku di foto-foto itu. Aku tidak masalah jika sekarang kamu mau menjauhi ku."


Joni menghentikan aktivitas makanya dan beralih menatap Mishel. "Ayo kita pacaran." Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Joni yang sejak tadi hanya diam tanpa bicara. Ya, mungkin diamnya Joni bukan karena marah tapi karena ia sedang memikirkan sesuatu.


Mishel nampak terkejut saat mendengar ucapan Joni. "A-apa pacaran? ... Kita sekarang kan sudah pacaran sesuai perjanjian."


"Bukan itu maksud ku, tapi pacaran yang sesungguhnya, sejak tadi aku berpikir kalau hanya aku pria yang bisa kamu percayai, aku tidak mau kamu salah memilih pria lagi. Aku tahu aku tidak sekaya Adrian, tapi aku sedang berjuang untuk sukses dengan jalan ku sendiri." Joni terlihat sangat yakin saat mengucapkan semua itu.


Mata Mishel mulai berkaca-kaca, ia tidak pernah menyangka akan berada di satu momen dengan pria yang tidak ia sangka. "Kamu tahu aku bukan lah wanita yang sempurna, kalau kamu melakukan semua ini karena kasihan padaku, sebaiknya kamu mundur sekarang. Hidup ku sudah menyedihkan dan akan tambah menyedihkan jika kamu bersikap seperti ini."


"Tidak sama sekali, kamu tahu saat di taksi kamu mencuri ciuman pertama ku, mulai saat itu aku sudah memikirkan kamu. Sekarang aku sadar jika itu adalah perasaan cinta. Aku mencintaimu dan aku sudah bertemu Papa kamu beberapa hari yang lalu, aku berjanji pada Papa mu untuk membahagiakan kamu, Jadi ayo kita pacaran lalu menikah, hidup bahagia."


Mishel tak bisa membendung perasaannya. Ia menangis seraya menganggukkan kepalanya tanda jika ia setuju dengan permintaan Joni.

__ADS_1


Bersambung 💓


__ADS_2