MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.11 (Getaran yang sama)


__ADS_3

"Kamu yakin mau cek up sendiri?"


Joni melangkah mendekati Adrian dengan dua cangkir kopi di tangannya. Hari ini adalah jadwal cek up Adrian setelah kecelakaan itu. Wajahnya pun nampak berbinar-binar, senyum tak henti-hentinya terpancar dari wajah tampannya.


Adrian meraih gelas berisi kopi dari tangan Joni yang saat ini sudah duduk di hadapannya. Joni nampak heran karena melihat Adrian yang tak hentinya tertawa dan senyum-senyum sendiri.


"Malam tadi kau dari mana? Aku perhatikan sejak malam tadi kamu senang sekali," ujar Joni.


"Ada saja, kamu tidak perlu tau," ujar Adrian lalu kembali menyeruput kopinya.


"Hah, aku tahu ... kau bertemu dengan wanita yang akan di jodohkan dengan mu itu kan? Ternyata kau sudah move on dari sang mantan."


"Siapa bilang, aku tidak bertemu dengan wanita itu, kamu tahu aku tidak suka perjodohan."


Aku rasa aku tidak akan pernah bisa move on, karena sebaliknya perasaan itu muncul lagi, batin Adrian.


~


Pukul delapan pagi, mereka berjalan beriringan menuju lift. Pagi ini mereka akan pergi ke lokasi proyek pembangunan gedung. Setelah itu Adrian akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek up pasca kecelakaan di lokasi proyek waktu itu.


Saat ini keduanya sedang berdiri di depan lift. Menunggu sampai pintu itu terbuka. Mereka tinggal di lantai sepuluh apartement itu. Setidaknya sampai kontrak Adrian selesai, namun ia semakin betah berada di kota itu karena kehadiran, seseorang.


"Aku mungkin hanya sebentar di lokasi, jadi tolong kamu handel semuanya sampai sore ini."


"Siap Bos!"


Ting.

__ADS_1


Pintu lift terbuka. Mata Joni membola saat ia melihat di dalam lift sedang berdiri seorang wanita cantik yang ia temui beberapa hari yang lalu di rumah sakit. Wanita itu adalah, Luna. Sementara Adrian hanya tersenyum lalu melangkah berdiri disamping mantan istrinya itu. Tak lama Joni menyusul masuk.


Luna terlihat salah tingkah sendiri. Ingatannya tiba-tiba saja kembali ke malam tadi, dimana sesuatu yang mendebarkan terjadi antara ia dam Adrian. Setelah ciuman itu ia langsung pergi begitu saja, ia malu sekaligus menggerutuki diri karena sempat terhanyut begitu dalam. Sementara itu Adrian hanya diam dan sesekali melirik Luna.


Joni menoleh Luna yang saat ini sedang berdiri di antara ia dan Adrian, "Selamat pagi Dok, masih ingat saya tidak?"


"Oh iya selamat pagi, kamu yang di rumah sakit waktu itu kan?"


"Iya benar sekali, itu teman saya yang waktu itu di rawat," ucap Joni seraya mengalihkan pandangannya ke Adrian, "Hari ini dia ada jadwal konsultasi dengan Dokter."


"Oh begitu," ucapnya singkat sambil melirik kearah Adrian.


Adrian yang hanya diam sejak tadi, pelahan menoleh ke samping di mana Luna berdiri, "Kamu pulang dengan selamat malam tadi, aku sampai kehilangan jejak mu," ujar Adrian tiba-tiba.


Luna mengumpat dalam hati, kenapa juga Adrian membahas hal itu di saat yang tidak tepat seperti ini. Seperti dugaan, Joni sampai terperangah saat mendengar pernyataan Adrian, ia mulai mengerti jika malam tadi ternyata Adrian bertemu dengan Luna.


Ting.


Pintu lift akhirnya terbuka, "Permisi." Luna melangkah keluar dengan cepat meninggalkan tempat itu lalu di susul dengan Adrian dan Joni.


"Kamu kenal Dokter Luna?" tanya Joni saat Luna sudah melangkah jauh.


"Hm, bahkan lebih dari itu," jawab Adrian seraya terus memandangi kepegian Luna.


Layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta. Adrian sedang di dalam fase memperjuangkan sesuatu yang pernah tidak sengaja ia buang. Kini ia sudah dewasa, pikirannya semakin matang namun hatinya tetap sama, hanya ada satu nama yang sejak dulu terukir dan tak mau pergi.


"Jangan-jangan malam tadi, kamu bertemu dengannya?"

__ADS_1


Adrian menoleh kearah Joni yang terlihat sangat penasaran, "Kalau ia kenapa?"


"Wah, luar biasa ... kok kamu bisa kenal Dokter cantik itu?"


"Aku takut, jika aku menceritakannya kamu akan pingsan," ujar Adrian kemudian melanjutkan langkahnya.


"Hey! Ayo cerita."


~


"Huh, kenapa juga malam tadi aku malah menikmati ciuman itu ... sekarang aku jadi malu bertemu dia lagi," gumam Luna yang saat ini sedang menyetir mobil.


Deg...deg..deg.


Luna bisa merasakan jantungnya berdetak kencang saat ini, hanya karena membayangkan kejadian malam tadi. Sekeras apapun ia mencoba melupakan, namun kejadian malam tadi sangat membekas dan tak mau beranjak pergi dari pikirannya.


"Aku pasti sudah gila!" pekiknya sendiri.


Saat akan belok kiri, karena kurang konsentrasi. Luna tak melihat jika ada seorang pria paru baya yang sedang menyebrang. Langsung saja ia mengerem mendadak dan hampir menabrak laki-laki paru baya itu. Tanpa menunda waktu ia langsung turun dari mobil.


"Maafkan saya pak, bapak tidak apa-apa kan?" tanya Luna saat berada di hadapan pria paru baya itu.


"I-iya, tidak apa-apa" ucap pria paru baya itu dengan lemah, wajahnya pun nampak sangat pucat dan sedetik kemudian ia jatuh pingsan.


Luna nampak sangat panik, " Pak sadar pak!" Luna memeriksa denyut nadi yang ia rasa sangat lemah. Dengan bantuan orang yang sedang lewat di jalan itu, ia membawa masuk pria paruh baya itu kedalam mobil.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2