MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.35 (Cemburu berat)


__ADS_3

Dengan langkah perlahan, Adrian mendekati Luna dan Hendry. Sekarang mereka saling berhadapan, sorot matanya begitu tajam, ia melihat Hendry sebentar kemudian beralih menatap Luna.


"Ternyata Dokter Luna di sini, hari ini adalah jadwal konsultasi ke dua saya." Adrian menggerakkan tangannya, meraih tangan kanan Luna.


Sementara tangan kiri Luna masih di genggam erat oleh Hendry, seakan tak juga ingin melepaskan, hal itu membuat Adrian cukup kesal karena ia mulai sadar, kakak dari Mishel itu benar-benar menyukai mantan istrinya.


"Maaf, apa bisa kamu melepaskan tangannya sekarang juga." Mata Adrian dan Hendry saling beradu, dua pria yang sama-sama seolah tak ingin mengalah.


"Kak Hendry maaf, sepertinya kita makan siang lain kali saja." Luna mencoba angkat bicara karena Hendry yang bukannya melepaskan malah menggenggam semakin erat.


Hendry memutuskan pandangan dari Adrian dan beralih menatap Luna. Akhirnya Hendry melepaskan genggaman tangannya. Ia bisa merasakan jika Adrian tidak suka melihat kedekatannya dengan Luna.


"Baiklah, lain kali saja," ucap Hendry kepada Luna.


Adrian segera menarik Luna agar berdiri di sampingnya, seolah ingin mengatakan bahwa Luna hanyalah miliknya dan tak ingin ada pria lain yang menggangu apa lagi berharap ingin memiliki.


Joni yang sejak tadi berada di dalam mobil, melangkah mendekat. Ia tidak ikut turun bersama Adrian karena, saat sahabatnya itu melihat Luna dan Hendry, raut wajahnya begitu marah.


"Masalah proyek, Anda bisa mendiskusikan semuanya dengan teman saya. Karena saya ada sedikit urusan dengan Dokter Luna, permisi." Adrian melangkah pergi dengan menarik tangan Luna. Ia membawa Luna masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


Kini tinggallah Joni dan Hendry yang masih berdiri di posisinya seraya terus memandangi kepegian Luna dan Adrian. Joni beralih menatap pria yang ada di sampingnya.


"Dia baru saja kecelakaan di lokasi proyek, Dokter Luna yang menanganinya waktu itu, hari ini adalah jadwal konsultasi terakhir," jelas Joni.


Hendry menoleh kearah Joni, "Benarkah? Tapi kenapa raut wajahnya mengatakan hal yang berbeda."


Joni tak bisa berkata-kata. Ia memilih menoleh ke sembarang arah, andai Adrian tak melarang ingin rasanya ia menceritakan bagaimana hubungan Luna dan Adrian yang sebenarnya.


...**...


Luna yang sejak tadi hanya diam ,sontak menoleh saat mobil yang di kendarai Adrian bukannya masuk ke basement rumah sakit malah melewati dan keluar melewati pagar.

__ADS_1


"Kita mau kemana? Kamu bilang ingin konsultasi," ucap Luna saat menoleh kearah Adrian.


Adrian tak bergeming dan malah menginjak pedal gas semakin dalam. Ia terbakar cemburu, saat melihat Luna bergandengan tangan dengan pria lain. Setelah apa yang ia perjuangkan, namun yang di perjuangkan seolah tak pernah menganggapnya.


Luna menghela nafas panjang saat pertanyaannya tak di gubris oleh Adrian. Ia tahu apa penyebab mantan suaminya itu menjadi seperti ini, namun haruskah ia menjelaskan? Jujur ia bingung dengan keadaan dan juga status hubungan mereka yang berkedok teman namun saling menaruh harapan.


"Adrian, hentikan!" seru Luna saat mobil itu melaju dengan semakin kencang.


Adrian menepikan mobil dan langsung mengerem mobil secara mendadak. Ia menoleh kearah Luna, memejamkan matanya sejenak untuk mengatur nafas kemudian kembali membuka mata.


"Maaf ... aku hanya sedang kesal karena melihat kamu dan dia."


Luna menyadarkan tubuh di sandaran kursi, menatap dedaunan yang berjatuhan dari pohon yang ada di pinggir jalan dari kaca depan mobil. Dugaannya benar. Ingin bertanya apa alasannya, namun ia sudah tahu semua jawaban yang akan mantan suaminya itu katakan.


Melihat Luna hanya terdiam, Adrian juga ikut menyadarkan tubuhnya, menatap nanar kearah depan. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia merasa tidak konsisten dengan ucapanya, baru beberapa hari yang lalu ia berkata ingin memulai dari awal dengan menjadi teman, tetapi sikapnya sekarang tidak menunjukkan hal yang demikian.


Cukup lama mereka terdiam, hingga pada akhirnya Adrian mulai angkat bicara.


"Siapapun tidak ingin kehilangan orang yang mereka cintai, namun saat restunya tak berpihak, kita bisa apa," ujar Luna yang juga tetap fokus melihat ke depan.


Perlahan tangan Adrian bergerak, meraih tangan Luna dan mengengamnya dengan erat. "Aku akan tetap bertahan meski kamu belum ingin memulai semua seperti dulu, aku berjanji akan mendapatkan restu itu kembali. Tapi, bisakah kamu tidak membuatku cemburu? Karena aku tidak rela ada yang menyentuh mu walau hanya seujung kuku."


Luna menoleh perlahan, menatap Adrian yang saat ini juga tengah menatapnya. Ia tak bicara apapun, namun hati dan pikirannya kembali beradu hebat. Matanya mulai memanas namun ia mencoba menahan semuanya.


...**...


Di tempat lain, Joni berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari Adrian. Ia sudah pergi keruangan pratek Luna namun ruangan itu kosong.


Bug.


Karena berjalan dengan kurang fokus karena menoleh kanan kiri tanpa sengaja ia menabrak seseorang dari arah berlawanan.

__ADS_1


"Maaf saya tidak senga--" Joni tak bisa melanjutkan ucapannya karena saat melihat orang yang ia tabrak ternyata adalah Mishel.


"Kamu!" ucap keduanya secara bersamaan.


Tiba-tiba saja Mishel kembali mengingat bagaimana ia mencium Joni saat berada di dalam taksi, buru-buru ia menghilangkan bayangan itu. "Kamu kenapa bisa disini?" tanya Mishel.


"Hah, kamu lupa ingatan atau bagaimana proyek di belakang rumah sakit ini adalah proyek ku dan Adrian," jawab Joni.


"Oh iya ... lain kali kalau jalan pakai mata," ujar Mishel.


"Dimana-mana kalau jalan itu pakai kaki ... ternyata kamu orang yang seperti ini, aku menyesal membantu kamu waktu itu, seharusnya aku tinggalkan kamu sendirian di club malam," ujar Joni yang nampak kesal.


"Haha, siapa juga yang minta batuan mu," ucap Mishel.


Entah kenapa Joni malah fokus melihat bibir merah padam milik Mishel, gara-gara ciuman singkat itu pikirannya jadi kemana-mana. "Kenapa disini, pergi sana," ucap Joni.


"Ih siapa juga yang mau berlama-lama di sini," ucap Mishel yang hendak melangkah namun karena salah langkah dan mulai hilang kendali.


Aaakkkk.


Teriak Mishel saat hendak terjatuh kebelakang. Namun kesialan itu tidak terjadi karena sebuah tangan kekar tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya. Ya, Joni dengan sigap menyelamatkan Mishel untuk kesekian kalinya.


Deg...deg...deg.


Detak jantung Mishel tiba-tiba saja menjadi tak beraturan saat pandangan mata mereka begitu dekat. Kenapa aku jadi seperti ini hanya karena di tatap olehnya, aku pasti sudah gila, batin Mishel.


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya ya readers 🙏😊


Next>>> siang ini ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2