
Mama melangkah menghampiri Luna dan Ibunya, di susul Joni, Adrian dan Manika dari belakang. Akhirnya mata yang dulu pernah saling beradu kini kembali bertemu. Mama tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mantan menantu dan juga besanya itu di kota ini.
Sesampainya di hadapan Luna. Mama menatap Ibu lalu beralih ke Luna. "Lama tidak bertemu, ternyata sekarang kamu seorang dokter."
Adrian yang tadi diam kini menghapiri sang Mama, ia sadar jika ini adalah mode siaga satu. "Ma, lebih baik kita pulang saja."
Mama melepaskan tangan Adrian dari lengannya. "Kamu tidak menyapa mereka?" Mama menatap sang putra lalu menunjuk dengan dagu kearah Luna.
Situasi yang begitu ramai, mendadak di rasa mencekam oleh, mereka yang menyaksikan dan mengerti situasi yang saat ini sedang terjadi. Jessy hanya bisa diam seraya berpangku tangan, Joni terlihat pucat karena keadaan sementara manika nampak bingung.
Tak lama Mishel datang bersama Hendry. Senyumnya seketika pudar saat menyaksikan Luna yang sedang berhadapan dengan Mama Adrian.
Ibu yang menyadari anaknya sedang terintimidasi, maju ke depan menatap mantan besanya itu dengan tajam. "Lama bertemu, saya harap kita tidak pernah bertemu ... tapi karena sudah terlanjur, saya harap anda tidak membahas masalah pribadi disini."
Mama memutar bola matanya malas kemudian berdecak kesal. "Wah, kebetulan macam apa ini, bagaimana bisa kita bertemu disini, lagi pula apa yang perlu di ungkit, semua hanya omong kosong."
Tangan Ibu bergetar hebat, matanya memerah. Peristiwa sembilan tahun silam seolah kembali terputar dalam ingatan. "Ternyata kesombongan itu sudah mendara daging ya."
Adrian pun sudah tak tahan, ia melangkah mengikuti Luna dan langsung menggenggam erat tangannya. Luna terlihat begitu kaget, ia mencoba untuk melepaskan tangannya, namun Adrian tak bergeming dan malah menggenggam semakin erat.
Semua orang yang menyaksikan nampak sangat kaget. Begitu juga dengan Mama dan Ibu.
__ADS_1
"Adrian! Apa yang kamu lakukan." Mama menatap Adrian dengan tajam.
"Saya dan Luna memutuskan untuk memulai semuanya kembali, saya berharap Ibu dan Mama merestui kami kembali." Adrian mengucapkan semuanya dengan lugas.
"Luna, bagaimana bisa kamu ...." Ibu menghela napas panjang seraya memijat tekuk lehernya.
Mama bergerak cepat, menarik tangan Adrian lalu membawa sang putra pergi. Begitu juga dengan Luna yang di bawa pergi oleh sang Ibu.
Kini tinggallah Joni, Jessy, Mishel, Manika dan Hendry yang masih diam mematung di posisi mereka. Tak lama Johan datang. "Ada apa ini, kenapa Adrian, Luna dan orang tua mereka pergi."
Pandangan mereka kini beralih ke Johan.
"Ternyata Adrian dan Luna memiliki hubungan pa." Manika menatap lesu kearah suaminya.
"Sudah aku bilang perjodohan itu batal, Pa," sahut Mishel tiba-tiba.
"Kamu ini jangan membuat papa tambah pusing, lagi pula mana pacar yang kamu bilang itu."
Mishel menoleh ke kiri kanan, dan tiba-tiba saja ia melihat Joni yang sedang berdiri di samping Hendry, ia yang masih kesal karena Joni yang begitu cuek kepadanya, ia pikir ini adalah kesempatannya membuat Joni tak lagi menjauh darinya.
Mishel melangkah melewati Hendry dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Joni. "Dia adalah orang yang aku cintai selama ini, aku tidak bisa jauh darinya."
__ADS_1
Joni yang sejak tadi hanya diam sontak di buat panik dengan kegilaan Mishel. "A-aku."
"What!" Jessy menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Jadi kalian pacaran?" tanya Hendry.
Johan tak bisa berkata-kata, begitu juga dengan Manika. Johan memijat-mijat tekuk lehernya, karena merasa pusing dan akhirnya jatuh pingsan.
"Papa!" teriak Mishel.
...**...
"Kamu sudah mengetahui kalau Luna tinggal di kota ini?" tanya Mama yang saat ini sedang duduk di hadapan Adrian.
Adrian menghela napas berat, lalu kembali menatap sang Mama. "Iya ,aku sudah bertemu dengannya saat pertama kali aku datang ke kota ini ... dan aku juga memutuskan untuk memulai semuanya dari awal dengan dia."
"Adrian! ... Kamu bagaimana bisa melakukan hal ini kepada kami. Mama dan Papa sudah bersusah payah membuat kamu melupakannya." Mama menggeleng perlahan, ia tak menyangka semuanya ini nyata. "Pikirkan lagi, semua yang sudah berakhir tidak perlu untuk di mulai kembali. Kamu tahu bagaimana hubungan keluarga kita dan keluarga Luna itu tidak baik.
"Ma, sejak awal aku tidak ingin berpisah dengan Luna, tapi Mama dan Papa memaksa aku untuk menandatangani surat itu. Aku hanya mencintai dia Ma, dulu, sekarang dan selamanya." Adrian beranjak dari tempat duduknya melangkah dengan cepat menuju kamar.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊