MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.31 (Di mulai dengan menjadi teman)


__ADS_3

"Mobil kamu kenapa?" tanya Adrian saat keluar dari dalam mobil.


"Mogok."


"Kamu terlihat terburu-buru, mau kemana?"


Luna menghela nafas berat kemudian kembali menatap Adrian, "Aku harus ke panti, tapi mobil ini malah mogok, sial sekali.


"Jangan marah-marah, aku akan mengantar kamu ke sana."


"Tidak perlu."


"Yakin? Tenang saja mobil kamu akan aman, aku akan meminta teman ku datang kemari untuk mengurusnya."


Luna terlihat berpikir sejenak. Ia tak punya pilihan lain selain menerima ajakan Adrian, ini semua demi para penghuni panti yang sedang menunggu kedatangannya. Ia tidak mau membuat kecewa semua orang ada disana, meski ia hanya datang sendiri.


"Baiklah, tolong antar aku ke panti sosial."


Adrian berusaha menahan senyumnya, akhirnya Luna mau juga, "Oke tunggu sebentar."


Adrian melangkah menjauh dari Luna untuk menelpon Joni.


[Hallo, kenapa lagi?]


"Kamu dimana?"


[Aku baru saja naik taksi, mau bersenang-senang.]


"Kembali ke tempat tadi."


[Apa! ... kamu bercanda kan?]


"Tidak, aku mau kamu mengurus mobil mogok Luna."


[Kenapa tidak dari tadi saja! ... Ya baiklah aku akan segera sampai.]


...**...


Tak butuh waktu lama akhirnya Joni datang. Luna nampak heran karena teman mantan suaminya itu datang dengan sangat cepat.


"Cepat sekali," ucap Luna kepada Joni.


"Oh aku memang sudah dekat saat Adrian menelpon," kilahnya.

__ADS_1


Luna menyerahkan kunci mobil kepada Joni. Dan tentu saja Joni hanya bisa menerima dengan berat hati. Adrian masuk kedalam mobil lalu di ikuti oleh Luna. Kini tinggallah Joni yang masih diam terpaku tempatnya berdiri.


"Dia yang jatuh cinta, kenapa aku yang repot," ujar Joni seraya memandangi mobil Adrian yang terus melaju pergi.


~


Selama perjalanan, Adrian nampak kebingungan dengan jalan, meski sudah memakai aplikasi maps sebagai penunjuk jalan. Luna terlihat tak sabaran karena Adrian menyetir sangat pelan.


"Tepikan mobilnya, biar aku yang menyetir," pinta Luna.


"Apa menyetir? Tidak mau biar aku saja," tolak Adrian.


"Kalau kamu yang menyetir, aku bisa terlambat ... aku tahu kamu tidak tahu jalanan di kota ini, jadi cepat tepikan mobilnya," pinta Luna lagi.


Adrian tak punya pilihan lain, ia menghentikan mobil di bahu jalan yang cukup ramai itu. Ia keluar dari tempatnya dan bertukar posisi dengan Luna. Sekarang Luna yang mengambil alih kemudi dan langsung tancap gas melanjutkan perjalanan.


Adrian beberapa kali nampak tercengang saat melihat kemampuan mengemudi Luna yang sudah seperti pembalap profesional. Mantan istrinya itu menyalip mobil-mobil besar yang ada di hadapannya.


"Kamu ahli mengemudi sekarang," ucap Adrian seraya menatap Luna yang duduk di sampingnya.


"Hm, aku sudah terbiasa, melakukan semuanya sendiri, pekerjaan di sebagai seorang ahli medis membuat aku di tuntut harus cepat demi keselamatan pasien," ujar Luna.


"Hebat ... kamu memang wanita hebat," ujar Adrian kemudian beralih menatap keluar jendela.


Karena Luna yang dulu selalu bergantung padanya bukanlah Luna yang sekarang. Mantan istrinya itu sekarang bisa melakukan segalanya sendiri, wanita dengan karier cemerlang. Ternyata semua tidak segampang yang ia pikirkan.


Mendadak menawarkan cinta di saat luka belum sama sekali pulih, siapa yang tidak kaget. Adrian sadar ia terlalu terburu-buru dan tidak sabaran, setidaknya ia harus mengenal Luna yang sekarang dengan lebih dekat.


~


Sebelum sampai di panti, Luna dan Adrian mampir ke sebuah supermarket untuk membeli bahan-bahan makan, sebagai sumbangan untuk para penghuni panti. Ya, sejauh itu Luna berusaha meski harus memakai uang pribadinya.


Tak perlu repot-repot untuk memilih sendiri, karena Luna memesan dengan jumlah banyak, ia hanya meminta untuk semua bahan sembako itu di antar ke panti, ia hanya perlu melakukan transaksi pembayaran saja


Adrian tiba-tiba saja menahan tangan Luna saat hendak mengambil dompet di dalam tas, "Biar aku saja."


"Tidak bisa, ini adalah pesanan ku," tolak Luna.


"Luna, aku juga ingin berbagi, jadi biar aku saja ya ... please," ucap Adrian memohon.


"Baiklah, kalau memang kamu ingin berbagi untuk panti aku izinkan," ucap Luna pada akhirnya.


Adrian akhirnya membayar semua barang pesanan Luna yang berjumlah belasan juta itu. Luna melihat Adrian yang saat ini berdiri di sampingnya. Ia kagum pada mantan suaminya itu, ia tahu sejak dulu Adrian adalah orang yang suka berbagi dan loyal kepada semua orang.

__ADS_1


...**...


Akhirnya mereka sampai di panti. Para penyandang disabilitas itu menyambut mereka dengan antusias. Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.


seorang pengurus Panti menghampiri Luna dan Adrian.


"Selamat datang Dokter Luna," ucap pengurus panti.


"Terimakasih bu, maaf saya terlambat," ujar Luna.


"Tidak apa-apa Dok ... ini suami dokter ya?" tanya pengurus panti itu.


Luna menggeleng perlahan, "Bukan begitu Bu, dia hanya--"


"Iya saya suami Dokter Luna, salam kenal Bu," ucap Adrian memotong ucapan Luna.


Luna menatap dengan kesal namun hanya di tanggapi senyuman oleh Adrian.


...**...


Menjelang malam akhirnya acara selesai juga. Adrian dan Luna berjalan menuju tempat mobil terparkir di luar pagar panti. Mereka tak banyak bicara hingga semua terasa hening.


Sampai akhirnya Luna mengehentikan langkahnya lalu di ikuti juga oleh Adrian. Ia menoleh kesamping dimana Adrian sedang berdiri.


"Terimakasih untuk hari ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi tanpa bantuan mu," ucap Luna yang terdengar tulus.


"Iya, sama-sama. Aku semakin kagum melihat kamu dan semua ketulusan kamu untuk sesama," ujar Adrian.


"Itu memang sudah menjadi tugas kita kan," ucap Luna lalu tersenyum tanpa sadar.


Adrian menggerakkan tangannya, mengusap lembut pucuk kepala Luna, "Kamu memang yang terbaik."


Sontak saja wajah Luna langsung memerah. Ia kembali teringat masa-masa saat mereka menikah dulu. Ya, Adrian sering mengusap lembut pucuk kepalanya saat ia melakukan sesuatu dengan baik.


"Ehm, ayo kita pulang." Baru saja Luna hendak berbalik, Adrian langsung menahan tangannya.


"Maaf karena aku terlalu menekan mu untuk menerima ku kembali ... Luna, mulai sekarang aku akan lebih bersikap santai dan akan memulai dengan menjadi temanmu, kalau pun akhirnya kamu tidak memiliki perasaan itu lagi untuk ku, maka aku akan menyerah, sebaliknya jika kamu ingin kembali, hati ku akan selalu terbuka," ucap Adrian kemudian mengulurkan tangannya kehadapan Luna, "Do you want to be my friend?"


Luna terlihat berpikir sejenak. Entah apa lagi cara Adrian untuk meluluhkan hatinya.


BERSAMBUNG 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


maaf hari ini hanya bisa satu bab, karena menyelesaikan bonus chapter di Novel selir hati. Insyaallah besok langsung tiga bab ya readers 🙏😊😍


__ADS_2