
Mishel kembali ke ruangannya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan. Ia mengambil langkah duduk di belakang meja. Detak jantungnya masih saja tak karuan, hanya karena seorang pria yang tidak pernah ada dalam bayangan. "Apa itu tadi, kenapa aku malah memikirkan dia, aku pasti sudah gila," gumamnya sendiri.
Tak ingin terlalu lama bergelut dengan pikirannya ia membuka laptop, entah untuk apa ia juga tidak tahu. Ia kembali terpaku karena lagi-lagi bayangan Joni menghinggapi. "Kenapa waktu aku mabuk dia tidak melakukan hal yang macam-macam padaku ... hah sudah ku duga dia pasti pisang makan pisang. Ya, dia pasti tidak normal, aku tidak mungkin menyukai pria seperti itu."
...**...
Pukul sembilan malam, akhirnya Luna sampai di unit apartment miliknya. Ia melangkah masuk sambil memijat-mijat tekuk leher yang terasa pegal. Ia menghentikan langkah saat melihat lampu ruang tamu menyala, seingatnya ia mematikan semua lampu saat pergi tadi.
"Apa ada seseorang yang masuk?" Luna menelan salivanya sekuat tenaga, lalu melangkah dengan hati-hati seraya terus memperhatikan kanan kiri.
Luna semakin panik saat dari arah dapur ia mendengar suara ribut dari arah dapur. Dengan tangan bergetar ia meraih sebuah pot bunga yang terpajang di sudut ruangan. Satu langkah, dua langkah dan akhirnya--
"Ibu." Luna menghela napas panjang, karena ternyata yang datang adalah sang Ibu.
"Kamu sudah pulang." Ibu menghampiri dan langsung memeluk dan memeluk dan mencium kedua sisi pipi sang putri.
"Kenapa tidak bilang kalau Ibu mau datang?"
"Dadakan, Ibu di undang sama Mamanya Mishel untuk menghadiri ulang tahun yayasan dua hari lagi."
__ADS_1
"Oh iya, sebentar lagi ulang tahun yayasan ya, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini, sampai lupa."
"Kamu itu kebiasaan, ayo duduk Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu."
"Benarkah? Kebetulan aku sudah sangat lapar." Luna berajak dari posisinya dan langsung duduk di kursi meja makan bersama Ibunya.
"Untung saja di depan apartement ini ada supermarket. Walaupun kamu sibuk, coba jaga pola makan masa isi kulkas cuma ada mie instan telur sama minuman soda."
"Luna tidak sempat masak Bu, kalau mau tinggal pesan lewat layanan pesan antar." Luna kembali fokus ke makanan yang ada di hadapannya. Dengan gerakan cepat ia mengambil nasi dan beberapa lauk pauk.
"Ibu jadi khwatir sama masa depan kamu ... andai saja ada seorang laki-laki yang bisa menjaga dan bertanggung jawab untuk kamu, Ibu pasti akan lebih tenang." Ekspresi wajah Ibu tiba-tiba saja berubah menjadi muram.
Ibu menggerakkan tangannya, meraih tangan Luna dan langsung di genggam erat. "Ibu tidak akan tenang sampai kamu menikah lagi dengan orang yang tepat, cukup sekali Ibu melihat kamu hancur karena seseorang yang salah. Luna dengar Ibu baik-baik ingat pesan bapak kamu."
Luna menatap sang Ibu dengan mata berkaca-kaca, namun ia masih memaksakan diri untuk tersenyum, walau hatinya kembali gundah. Pesan terakhir sang bapak yang membawa ia sampai ke titik ini, lalu bagaimana dengan cinta lama yang telah mati suri perlahan kembali tumbuh.
Apa yang harus aku lakukan, bagaimana jika aku kembali jatuh cinta dengan orang itu Bu, apa bapak di surga akan mengerti, batin Luna.
...**...
__ADS_1
"Kamu dari mana." Adrian heran melihat Joni yang baru saja datang dan langsung duduk di sampingnya.
"Aku dari hotel, resepsionis hotel menelpon dia bilang ada barang ku yang ketinggalan, setelah aku kesana ternyata barang milik wanita meresahkan itu yang tertinggal, capek-capek saja aku kesana." Joni menyadarkan tubuhnya, lalu memejamkan mata.
Adrian menggerutkan keningnya karena heran. "Wanita meresahkan ... siapa? Jangan-jangan kamu tidur dengan wanita malam saat tidak pulang malam kemarin, wah ternyata aku salah menilai mu."
Joni langsung membuka mata dan menegapkan posisinya untuk melihat Adrian. "Mana mungkin aku tidur dengan wanita malam ... lagi pula aku ini masih perjaka, wanita meresahkan itu adalah wanita yang akan di jodohkan dengan mu tau! Aku menolongnya saat mabuk sendirian di club, aku membawanya ke hotel karena dia bilang papanya akan marah besar jika mengetahui dia mabuk. Aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun kepadanya."
Adrian berusaha menahan tawanya seraya bertepuk tangan, "Wah hebat sekali. Kamu memang pria baik-baik ya, tapi jika kamu menyukainya silahkan saja."
"A-apa aku menyukai dia? Haha mana mungkin, sikap sombongnya itu wah benar-benar tidak bisa di toleransi."
"Yakin?"
Joni kembali menatap Adrian. Tiba-tiba saja ia membayangkan wajah Mishel saat ia menolongnya di koridor rumah sakit. Ya, tidak ia pungkiri Mishel adalah wanita yang cantik meski kisah hidupnya sangat rumit. Ia mengetahui banyak hal tentang Mishel saat wanita itu sedang mabuk dan menceritakan semuanya.
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊
__ADS_1