MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.44 (Bertaut)


__ADS_3

...Keras kepalaku sama denganmu...


...caraku marah, caraku tersenyum...


...seperti detak jantung yang bertaut...


...nyawaku nyala karena denganmu....


...(Lirik lagu di ambil dari lagu berjudul Bertaut yang di populerkan oleh Nadin Amizah.)...


.


.


.


Mishel keluar dari mobil mendahului sang Papa. Ia menggerutuki dirinya sendiri, kenapa juga ia harus asal bicara seperti tadi, Papanya tidak akan berhenti untuk bertanya sampai ia menjawab.


"Mishel berhenti! Tunggu papa, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan papa tadi." Johan Hudson terus menyusul sang putri yang berjalan dengan sangat cepat.

__ADS_1


Tak perduli dengan ucapan sang Papa, ia terus melangkah keluar dari basement rumah sakit. Andai sejak awal ia menolak, kejadiannya tidak akan sampai seperti sekarang.


Langkah Mishel tiba-tiba saja terhenti saat dari kejauhan ia melihat Adrian keluar dari mobil bersama dengan Luna. Ia membulatkan matanya, ia berbalik dengan cepat jangan sampai papanya melihat Luna dan Adrian bersama.


"Pa! Sepertinya ada barang ku yang ketinggalan di mobil." Mishel mencoba menutupi Johan agar tidak melihat Luna dan Adrian yang sedang berjalan keluar dari basement.


"Kamu ini kenapa? Kalau ada yang ketinggalan ambil sana, tapi sebelum itu jawab pertanyaan papa dulu, siapa pria yang jadi pacar kamu?" Johan fokus kepada sang putri, hingga tak lagi memperhatikan sekitar.


"Emm ... itu sebenarnya aku ... nanti Mishel jelaskan ya." Mishel akhirnya bisa bernafas lega karena saat melirik ke belakang, Luna dan Adrian sudah tidak ada. Ia kembali menatap sang Papa yang menunggu jawaban darinya.


"Kamu ini ngomong apa sih, ayo jelaskan?" Johan nampak tidak sabar. Ia tahu benar sifat Mishel yang selalu sembarangan memilih pasangan dan kali ini ia tidak ingin Mishel salah melangkah lagi.


"Hey bukannya ada barang kamu yang ketinggalan di mobil!" teriak Johan pada Mishel.


"Nanti saja aku ambil Pa," ucap Mishel tanpa menoleh dan langsung melanjutkan langkahnya.


...**...


Mishel cepat, saat ia sampai di depan ruangannya dan hendak meriah handel pintu, tiba-tiba saja ia berbalik, melangkah menuju ruangan Luna yang ada di depan ruangannya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam, ia bisa melihat Luna dan Mika sedang mengobrol bersama. Wajah Mishel nampak sangat serius, akhirnya Luna meminta sang asisten untuk keluar sebentar, agar ia bisa mengontrol dengan lebih leluasa dengan sahabatnya itu.


"Apa ada sesuatu yang serius? Kenapa kamu serius sekali," ucap Luna saat Mishel sudah duduk di hadapannya. Setelah curhatan malam tadi hubungannya dan Mishel menjadi lebih baik.


Mishel menghela napas berat kemudian kembali menatap Luna. "Aku minta kamu lebih berhati-hati sekarang. Perjodohan aku dan Adrian belum resmi di batalkan ... kamu tau tadi hampir saja Papa ku melihat kamu dan Adrian keluar dari mobil yang sama."


Luna terdiam sejenak, ia terlalu bahagia sampai lupa jika selain sang Ibu ia harus menghindari Johan Hudson. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana kecewanya Johan jika mengetahui ia menjalin hubungan dengan calon menantunya. "Jadi kamu akan membatalkan perjodohan itu?"


"Ya, aku sadar aku hanya parasit di antara kalian. Kamu dan Adrian berhak bahagia, tapi sebelum perjodohan aku dan Adrian batal, aku minta kamu dan dia berhati-hati saat sedang bersama. Aku tidak ingin menakuti kamu ... tapi kamu tau sendiri bagaimana saat Papa ku sedang marah."


"Aku juga tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Kembali lagi bersamanya bukan pilihan yang mudah, aku butuh waktu yang lama untuk meyakinkan diri." Luna menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi, baru awal saja ia sudah merasa ternyata perjuangan cinta itu tidaklah mudah.


"Ada satu hal lagi ... kak Hendry sangat menyukai kamu, hanya saja dia tidak berani untuk mengatakannya. Aku pikir sebelum perasaannya semakin dalam dan semakin berharap lebih, sebaiknya kamu mengatakan pada kak Hendry tentang Adrian." Mishel terlihat begitu berat saat mengatakan hal itu, karena sejak sang kakak kembali, ia bisa melihat sang kakak seolah menemukan kebahagiaannya ketika melihat Luna.


Luna menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak Menyangka semua menjadi rumit seperti ini. Tapi ia sudah memilih satu jalan yang akan ia tempuh, karena seseorang yang berhasil menggoyahkan pertahanan dirinya lagi. Tak lama ia membuka mata, memposisikan diri lebih tegap seraya menatap Mishel. "Apa kak Hendry sedang di perusahaannya?"


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2