
..."Hampa ku saat kau pergi, seperti langkah tak berjejak, senja tapi tak jingga, mendung tapi tak hujan. Saat kau hadir kembali aku sadar bahwa, jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar, kamu tahu berjuang tak sebercanda itu, ada kalanya kamu harus menangis dan terluka dulu untuk mencapai kebahagiaan."...
...(Luna Anandita)...
.
.
.
...Satu minggu berlalu....
Di depan pintu keberangkatan bandara internasional kota X. Dengan di antar kedua sahabatnya Mishel dan Jessy tak lupa Hendry dan Joni ikut menyertai. Hari ini Luna dan Adrian akan pulang sebentar ke kota asal mereka. Demi memenuhi janji kepada kedua orang tua yang meminta mereka untuk pulang.
"Jon, tolong urus proyek di sini sebentar ya, aku hanya sebentar saja," ujar Adrian kepada Joni yang berdiri di hadapannya.
"Tenang saja, kamu tidak usah memikirkan pekerjaan biar aku mengurus semuanya dari sini. Oh iya sampaikan salam ku kepada kedua orang tua mu," tutur Joni seraya menepuk pundak Adrian.
"Jangan khwatikan Joni juga, sekarang dia aman bersama ku," sambung Mishel.
"Ah iya aku lupa sekarang kalian benar-benar pacaran bukan sandiwara," sahut Luna kemudian menoleh kearah Hendry dan Jessy. "Lalu bagaimana dengan kalian?"
Hendry dan Jessy saling menatap dan terseyum. Hendry meraih tangan Jessy dan menggenggamnya erat. "Kami memutuskan untuk memulai komitmen bersama."
"Kak Hendry kok tidak cerita, kamu juga Jes aku merasa di khianati," ucap Mishel dengan ekspresi wajah sedih yang di buat-buat.
__ADS_1
"Maaf Mis, aku sebenarnya tidak tahu harus mengatakan apa tentang hubungan kami," ujar Jessy lalu tekekeh sendiri.
"Ah akhirnya bukan kami saja yang bahagia, tapi kalian juga," ujar Adrian.
(Selamat siang. Boarding untuk Maskapai ABC dengan nomor penerbangan 56K76 tujuan Kota X akan segera dimulai. Para penumpang dimohon untuk menuju gerbang C2 dan persiapkan pas naik dan identifikasi Anda. Terima kasih)
Suara announcement mulai terdengar. Itu berarti Adrian dan Luna akan segera berangkat. Sebelum masuk, mereka pamit kepada sahabat-sahabat yang telah mengantar mereka ke bandara.
Kepulangan Luna kali ini berbeda dari biasanya. Ia tak lagi sendiri, bukan karena telah menemukan tambatan hati yang baru melainkan cinta lama yang belum usai kini kembali, nyatanya cinta mereka belum benar-benar selesai.
Kisah mereka membuktikan bahwa tidak selamanya mantan itu hilang bersama kenangan, tidak juga harus di ganti dengan orang baru. Semua harus sejalan dengan kata hati yang beriringan dengan logika dan di restui oleh semesta.
Jangan ragu saat memutuskan untuk kembali ke kisah masalalu. Ingat berapa kalipun bumi berputar pasti akan kembali ke porosnya, jika memang takdir menginginkan kamu kembali ke pada mantan, percayalah berarti itu yang terbaik untuk kamu.
Lalu berapa putaran bumi lagi yang harus kamu butuhkan untuk bertemu cinta sejati mu? Jangan hanya diam dan menunggu, mulailah melangkah karena jodohmu sedang menunggu di luar sana dan bisa saja orang itu adalah salah satu dari kisah yang tak sampai yang harus kamu selesaikan.
...**...
Setelah menginap sehari, mereka akan pergi ke rumah orang tua Adrian yang berjarak cukup jauh dari rumah Ibu Luna. Dari bandara mereka naik taksi menuju kediaman orang tua Luna. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam, pandangan mereka fokus ke jalanan yang membuat mereka bernostalgia.
Kisah cinta mereka di mulai di kota ini, berakhir di kota ini dan di mulai kembali di kota ini. Luna tersenyum saat mereka melewati SMA tempat ia dan Adrian dulu menimba ilmu sekaligus tempat pertemuan pertama mereka. "Wah sekolah kita sudah banyak berubah."
"Tapi kenangannya akan tetap sama." Adrian menoleh lalu menggenggam tangan Luna. "Saat pertama bertemu kamu di sekolah, dan sekarang rasanya masih sama meski tempat itu sudah banyak berubah."
"Ya kamu benar, tapi yang aku rindukan adalah makanannya, mie ayam di kantin sekolah dan juga es teh poci kegemaran ku." Luna tersenyum-senyum sendiri saat mengingat makanan di kantin sekolahnya.
"Wah, aku tidak percaya kamu lebih merindukan makanan kantin ... ayo jujur saja kamu merindukan anak pemilik kantin yang dulu pernah menyatakan perasaannya ke kamu kan?" Tiba-tiba saja Adrian mulai menjadi calon suami posesif.
__ADS_1
"Kamu cemburu? Aku dengar sekarang dia sudah sukses dan membuka beberapa restaurant di kota ini, apa kita harus mampir ke restaurantnya ya." Bukannya membujuk Luna malah membuat Adrian semakin cemburu.
"Baiklah ayo kita kesana, aku akan menggenggam tangan kamu di hadapannya," ucap Adrian lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
"Haha kamu lucu sekali kalau marah seperti ini." Luna mendekat lalu menyadarkan kepalanya di pundaknya Adrian. "Begitu banyak kenangan di masalalu namun aku tidak bisa melupakan satu hal yaitu ... saat kamu menyatakan cinta di ruang BK."
"Haha, kenapa kamu mengingat kejadian itu, kamu tahu aku pertama kali menghajar seseorang karena membela seorang wanita. Aku tidak bisa melihat kamu di lukai seseorang sekarang juga begitu aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi."
Luna melingkarkan tangannya di perut Adrian sesekali ia menepuk perut kekasihnya itu perlahan seraya terus bersandar. "Menyenangkan sekali, aku ingin seperti ini seterusnya, di kota ini bersama kamu."
Ekspresi Adrian tiba-tiba saja berubah saat Luna menyentuh bagian perutnya. "Sebaiknya singkirkan tangan mu, kamu selalu berhasil menyiksa ku tanpa sadar."
"Memangnya kenapa? Aku suka melakukannya. Kamu itu laki-laki, belajarlah menahan diri." ujar Luna yang berusaha menahan tawanya.
...**...
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Ibu Luna. Adrian sempat terpana saat melihat rumah yang dulu hanya gubuk sederhana kini sudah menjadi istana. "Sejak kapan rumah ini berubah."
"Tentu saja sejak aku bekerja sebagai dokter. Bagaimana bukankah bagus, aku menggunakan desain buatan kamu dulu untuk membangun rumah ini." Luna kembali melihat kedepan memandangi rumah yang ia bangun dengan hasil kerjanya.
Dulu di masalalu, saat mereka masih menjadi pasangan suami istri, Adrian pernah mendesain sebuah rumah untuk keluarga kecilnya, ia bercita-cita untuk membangunnya di masa depan. Tak ia sangka Luna yang telah mewujudkan mimpi itu.
"Aku tidak menyangka kamu akan menggunakan desain ku untuk rumah ini terimakasih." Adrian memeluk Luna dengan erat.
Sejak awal mereka tak pernah saling membuang kenangan yang sudah mereka lalui bersama. Saat ini salah satu mimpi yang tak pernah Luna buang dan malah mewujudkannya karena baginya desain rumah itu adalah salah satu kenangan manis yang tak bisa terlupakan.
Bersambung 💓
__ADS_1