
...Mengapa masih ada sisa rasa di dada, di saat kau pergi begitu saja....
(Di ambil dari lagu berjudul Sisa Rasa yang di populerkan oleh Mahalini)©©
"Apa kabar?" Adrian mengulurkan tangannya, namun sepertinya tak di sambut baik.
Luna masih membisu, tangannya mencengkram erat pulpen yang ada dalam genggaman. Ucapan sang mantan terdengar sepeti basa basi baginya. Ia memutuskan tatapan netra yang beradu pandang cukup lama kemudian hendak melangkah namun Adrian kembali menghalangi jalannya.
"Apa kamu bisa bersikap biasa-biasa saja, untuk sekedar menyapa?" tanya Adrian dengan nada suara datarnya.
Luna menarik tangannya dengan cepat, memberanikan diri kembali menatap Adrian, "Kalau kamu masih merasa seorang manusia, seharusnya kamu paham situasi, sembilan tahun aku berjuang untuk kembali hidup, dan kamu ingin aku bersikap biasa-biasa saja," ucap Luna lalu menyunggingkan bibirnya, "Kamu masih sama seperti dulu."
Setelah mengatakan hal itu, Luna melangkah meninggalkan Adrian yang masih diam tertegun seraya memadangi kepergiannya. Tangannya tercengkram erat, hatinya kembali tersentak setelah sekian lama. Hanya Luna yang mampu melakukannya, selama sembilan tahun, apa itu adalah sisa cinta atau hanya sekedar bentuk rasa bersalah?
~
Luna melangkah dengan gontai masuk kedalam unit apartment miliknya. Ia menjatuhkan diri ke atas sofa bludru merah yang menjadi favoritnya. Di tatap Langit-langit ruangan yang nampak remang-remang karena lampu utama tak menyala. Perlahan matanya terpejam, hari ini lebih berat dari bayangannya, bukan fisik namun hati.
Badannya mulai meringkuk. Kembali bertemu dengan Adrian seolah kembali membuka luka lama yang belum juga sembuh setelah sekian lama. Ingatannya kembali berputar di saat ia berada di titik terendah dalam hidup. Saat dimana ia kehilangan bapak untuk selamanya dan kehilangan suami yang pergi begitu saja tanpa berpamitan setelah perceraian.
Flashback on.
Klek.
Pintu kamar sederhana itu terbuka. Masih dalam suasana duka setelah selesai pemakaman. Di dalam sana seorang wanita muda sedang meringkuk di sudut ruangan. Ibu melangkah mendekati putrinya. Air mata Ibu tak tertahan saat melihat kondisi Luna bak orang yang sedang mengalami depresi.
Kantung mata membengkak, wajah putih pucat, dan tatapan matanya begitu kosong. Bagaimana tidak, di saat ia sedang berduka mantan mertuanya datang hanya untuk memberitahu bahwa Adrian telah pergi ke luar negeri. Tak ada rasa simpati, yang Luna lihat dari wajah kedua mantan mertuanya hanya tatapan merendahkan.
"Luna, jangan seperti ini nak," ucap Ibu sambil terisak.
Perlahan Luna mengangkat kepalanya, air matanya kembali keluar dari sudut mata, "Bu, Adrian benar-benar ingin melupakan Luna."
"Sudah sayang jangan ingat dia lagi, ingat pesan bapak kamu harus membangun hidupmu kembali," tegas Ibu dengan raut wajah serius.
"Luna ... Luna ingin mati saja Bu," ujarnya yang berderai air mata.
Ibu mencengkram erat kedua sisi pundak Luna, "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu! Kamu masih muda, kamu masih punya kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik ... jika kamu mati maka Ibu akan ikut mati," ucap Ibu dengan suara bergetar dan mata memerah karena menahan sesak di dada.
__ADS_1
Tangis Luna kembali pecah, "Bapak! Kenapa bapak ninggalin kita Bu, kenapa!" Luna berteriak histeris seraya memeluk Ibu dengan erat. Hanya Ibu satu-satunya tempatnya bernaung, sebagai pegangan melewati semua badai yang seolah tak ada habisnya. Sejak saat itu pola pikirnya mulai berubah. Ia tak ingin di remehkan dan di rendahkan.
Dengan mengandalkan beasiswa dari yayasan kedokteran milik keluarga Mishel. Ia berjuang kembali untuk mimpi yang menjadi permintaan terakhir bapak. Meski di awal melihat darah pun sekujur tubuhnya bergetar namun sekarang semua sudah terasa biasa.
Flashback off.
Perlahan Luna bangkit dari posisinya. Berjalan masuk ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Di bawah shower yang menyala, masih dengan setelan pakaian yang lengkap ia membiarkan tubuhnya terguyur. Ia kembali mengumpat dalam hati, kenapa hanya karena sang mantan menggenggam pergelangan tangan, perasaan aneh itu kembali muncul. Apa sisa rasa itu masih ada?
Ya, mungkin saja.
Tapi Luna ....
Belum menyadarinya.
~
Di tempat berbeda. Dengan celemek yang masih menempel pada tubuhnya, Joni melangkah masuk kedalam kamar Adrian dengan membawa sebuah nampan berisi makanan dan juga obat yang harus di konsumsi Adrian. Ia melangkah dengan pasti lalu duduk di sisi kiri ranjang, dimana sahabatku itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku perhatikan sejak pulang dari rumah sakit, kamu lebih banyak melamun ... aku rasa ada yang salah dengan otak mu," ucap Joni ragu-ragu.
"Sebenarnya kamu bicara tentang apa sih?" tanya Joni yang nampak bingung.
Adrian kembali menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang, "Keluarlah, aku ingin beristirahat."
"Baiklah, ingat makan bubur itu lalu obatnya juga jangan lupa, aku sampai membuka you*ube untuk mencari resepnya," ucap Joni lalu melangkah keluar dari kamar itu.
Kini tinggal Adrian sendiri. Ia melangkah menuju balkon kamar. Seperti biasa ia sangat menyukai pemandangan malam di kota itu, apa lagi saat di lihat dari atas. Setidaknya hal itu bisa sedikit mengobati kegundahan hatinya saat ini.
Adrian memejamkan mata, merasakan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Namun mata itu kembali terbuka saat kegelapan yang dirasa tiba-tiba saja berubah menjadi bayangan wajah Luna yang kembali menghinggapi.
jika waktu bisa berputar, setidaknya aku ingin berada di satu titik, dimana janji itu tak pernah terucap. Karena pada akhirnya semua hanya membuat aku dan kamu menjadi asing, batin Adrian.
~
Pagi kembali menyapa. Luna baru saja sampai di basement apartement. Ia beranjak masuk kedalam mobil. Terlihat ia beberapa kali menguap karena mengantuk, malam tadi Luna tak bisa tidur karena gelisah. Saat ia memundurkan mobil, tiba-tiba saja karena kurang berhati-hati ia menabrak mobil seseorang dari arah belakang.
"Ah sial!" umpatnya.
__ADS_1
Luna beranjak turun dari mobil. Bertepatan dengan itu juga seorang petugas keamanan menghampiri karena mendengar suara alarm mobil yang di tabrak Luna berbunyi dengan nyaring.
~
"Kamu yakin bisa ke lokasi hari ini?" tanya Joni memastikan.
"Hem, aku sudah lebih baik," ucap Adrian lalu berbalik menatap Joni, "Kepala ku kepala batu."
"Ck, iya kamu kepala batu alias keras kepala, aku mau mandi dulu." Joni meraih handuknya dan melangkah masuk kedalam kamarnya.
Adrian hendak melangkah menuju meja makan saat tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan cepat ia meraih ponselnya. Ia mengerutkan kening saat melihat layar ponsel.
Petugas keamanan memanggil....
"Hallo pak?"
[Maaf menggangu Tuan Adrian, mobil Tuan di tabrak seseorang di basement, apa bapak bisa kemari?]
"Oh iya baik, saya segera kesana."
Adrian menghembuskan nafasnya dengan panjang kemudian melangkah keluar.
~
Sesampainya di basement, Adrian bisa melihat petugas keamanan itu sedang bicara dengan seorang wanita yang saat ini berdiri memunggunginya. Dengan cepat ia melangkah mendekat.
"Nah itu dia orangnya," ucap pertugas keamanan saat menyadari kedatangan Adrian.
Sontak Luna langsung berbalik. Perlahan senyumnya menyusut saat melihat pemilik mobil yang ia tunggu ternyata adalah Adrian. Kedua pasang netra itu kembali menatap dalam diam.
Kenapa kita harus bertemu lagi, batin Luna.
Apa ini masih kebetulan, atau memang pertemuan ini sudah di tentukan oleh takdir? Mampu kah aku menahan diri, untuk tidak menyapa mu lagi, batin Adrian.
Bersambung 💓
Jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap babnya. Jika berkenan berikan vote dan hadiah untuk penyemangat author, Terimakasih 🙏
__ADS_1