
Hari mulai gelap, Luna dan Jessy sedang dalam perjalanan menuju apartement Jessy. Ya, apartement itu sudah lama di tinggal, semenjak Jessy menikah apartement itu sudah kosong.
"Kamu yakin tidak mau pulang ke rumah kedua orang tua mu?" tanya Luna yang tetap fokus menyetir.
"Iya, mereka belum tahu tentang masalah ku dan juga kepulangan ku. Setidaknya aku ingin menenangkan diri dulu," ucap Jessy seraya menoleh ke arah jendela mobil.
"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku," ujar Luna.
"Malam ini datanglah, bantu aku membersihkan apartement ku ... kamu tahu aku sudah meninggalkan tempat itu cukup lama," ujar Jessy.
"Baiklah, aku akan datang pastikan kamu menyiapkan hidangan yang istimewa," ucap Luna, menoleh kearah Jessy sebentar kemudian kembali fokus ke jalanan.
"Siap Dokter Luna yang terhormat." Jessy terkekeh mendengar ucapannya sendiri lalu di ikuti oleh Luna yang juga ikut terkekeh geli.
~
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang di kendarai Luna sampai di depan gendung Apartement. "Maaf aku tidak bisa ikut masuk, ada jadwal operasi malam ini, tapi tenang saja aku janji akan datang."
"Baiklah, aku tunggu awas saja kalau kamu sampai tidak datang." Jessy melepaskan sabuk pengaman yang melekat pada tubuhnya lalu beranjak turun dari mobil Luna. Setelah mobil Luna bergerak menjauh, Jessy mengambil ponselnya dari tas untuk menelpon seseorang.
"Hallo, kamu dimana?"
[Aku baru saja pulang dari rumah sakit, tumben kamu menelpon, ada apa?]
"Aku pulang, malam ini datanglah ke Apartement ku yang lama."
[Apa kamu di kota ini? Kenapa tidak bilang, tau begitu tadi aku jemput di Bandara.]
__ADS_1
"Pokoknya datang saja malam ini, jangan sampai tidak."
Jessy mematikan panggilan telepon itu. Ia sudah berniat untuk memperbaiki hubungan kedua sahabatnya. "Aku datang dan mereka malah bertengkar, tidak akan aku biarkan persahabatan kita berantakan."
...**...
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Luna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia harus datang ke apartement Jessy. Untung saja malam ini jalanan tidak macet hingga ia bisa sampai dengan cepat ke Apartement Jessy.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya di basement apartement. Luna melangkah dengan cepat, masuk ke gedung apartement itu. Ia adalah orang yang menepati janji, apalagi sang sahabat sedang sangat membutuhkannya.
"Maaf aku terlambat," ucap Luna saat sang sahabat membuka pintu untuknya.
"Akhirnya kamu datang juga, kami sudah lama menunggu ... tunggu apa lagi ayo masuk," ucap Jessy yang sudah membuka pintu lebar-lebar.
"Tunggu dulu, kami ... Maksudnya kamu mengundang orang lain?" tanya Luna yang belum juga beranjak dari tempatnya.
Benar saja saat Luna masuk kedalam disana sudah ada Mishel yang sedang duduk dengan anggun di sofa ruang tamu. Mata mereka saling menatap sesaat, diam tanpa suara kemudian Luna memutuskan pandangannya kepada Mishel untuk melihat ke sekeliling ruangan.
"Apartement ini sangat bersih, kapan kamu memberikannya?" tanya Luna kepada Jessy.
"Aku menyewa jasa pembersih rumah," ucap Jessy lalu tersenyum kepada Luna.
"Wah, kamu menipu ku ya ... aku sampai mengebut saat kemari, karena khwatir kamu bersih-bersih sendirian," ujar Luna seraya berpangku tangan.
"Kamu pikir kamu saja yang di tipu tapi aku juga," sahut Mishel tiba-tiba.
"Sudah-sudah ... aku memang sengaja menipu kalian, apa kalian tidak merindukan masa-masa saat kita berkumpul bersama," ucap Jessy kemudian menoleh kearah Luna. "Ayo duduk."
__ADS_1
Luna melangkah duduk di sofa, berhadapan dengan Mishel namun mereka masih saja saling membuang muka. Sementara itu Jessy melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
Tak lama Jessy kembali ke ruang tamu. Ia meletakkan minuman dan cemilan di atas meja, lagi-lagi ia menghela napas panjang saat melihat kedua sahabatnya yang hanya diam sejak tadi.
"Apa kalian sudah bisu hingga tak bisa bicara? Hening sekali." Jessy melangkah duduk di samping Mishel.
"Aku tidak menyangka kamu akan bercerai dan tidak memberitahu ku," ucap Mishel lalu menyondongkan tubuhnya untuk mengambil air minuman soda yang ada di meja, bertepatan dengan itu juga Luna hendak mengambil minuman yang sama, langsung saja ia menarik kembali tangannya, begitu juga dengan Luna.
"Hey, kalian ini kenapa? Aku yang sedang terpuruk disini kenapa kalian malah seperti ini," ucap Jessy kepada kedua temannya.
Suasana menjadi hening sesaat. Mishel harap Luna akan bicara, namun ternyata tidak. "Kenapa kamu diam saja, seharusnya kamu yang menjelaskan padanya?"
"Mis, jangan bicara seperti itu padanya dia sudah terlalu banyak menderita selama ini, kamu tau sendiri kan kisah hidupnya," sahut Jessy saat melihat Luna hanya diam tanpa menimpali ucapan Mishel.
"Wah apa sekarang kamu membelanya? Memang apa yang terjadi dengan dia ... dia baik-baik saja," ucap Mishel kepada Jessy kemudian beralih menatap Luna yang tetap diam tanpa membela diri.
Suasana kembali hening. Mishel merasa bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan Luna dan Jessy darinya. "Apa ini ... sebenarnya ada apa. pasti ada yang kalian sembunyikan dariku, ayo katakan? ... Wah apa disini hanya aku yang tidak tahu apa-apa, kalian tega sekali."
Jessy menatap Luna yang ada di hadapannya. "Lun, katakan saja semuanya ... ingat kita ini teman."
Mishel yang masih nampak bingung menoleh kearah Jessy, kemudian kembali menatap Luna. "Ayo katakan, sebenarnya ada apa?"
Luna menegapkan kepalanya, menatap Mishel yang sedang menunggu jawaban darinya. "Sebenarnya, Adrian adalah ... mantan suami ku."
"Apa!" Mishel berdiri dari posisinya, matanya membulat dengan tangan kanan yang menutupi mulut karena tak percaya.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote n hadiahnya readers 🙏😊