MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.9 (Aku tidak baik-baik saja)


__ADS_3

"Menurutmu, apa aku baik-baik saja?"


Adrian masih membisu. Sungguh secara fisik dan pesona mantan istrinya itu bagai putri yang mempunyai kehidupan sempurna setelah sembilan tahun tak bersua. Namun dari sorot mata, terlihat begitu banyak kebencian yang terukir jelas, kebencian yang sudah pasti di tunjukkan kepadanya.


"Aku ingin memperbaiki semuanya ... setidaknya aku ingin kita menjadi teman."


Luna memutar bola matanya malas lalu kembali Menghembuskan nafas berat, "Teman ... apa sebenarnya arti dari masalalu kita bagimu?"


"Apa maksudmu?"


"Sembilan tahun yang lalu kita pernah ada dalam satu keadaan yang tidak memungkinkan kita untuk kembali merajut hubungan meski hanya sebagai teman."


"Apa masalalu begitu penting? Kita sudah sama-sama dewasa, yang lalu biarlah berlalu."


Luna melangkah lebih dekat seraya berpangku tangan. terlihat senyum menyeringai terukir di wajahnya. Ia benar-benar kesal saat Adrian seolah sudah melupakan kejadian di masalalu Sementara dirinya tak akan pernah melupakan masa-masa itu.


"Sebenarnya apa mau mu dariku? ... Oh aku tahu, kamu pasti berpikir aku adalah gadis yang sama seperti sembilan tahun lalu," ucap Luna kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku bukan Luna yang dulu ... kenapa kamu tiba-tiba datang dan mencoba menarik ku dari garis batas yang susah payah aku bangun! Itu percuma karena aku tidak akan tertipu kali ini."


Luna hendak melangkah pergi, namun Adrian kembali menarik tangannya, "Bukan seperti itu."


"Lalu apa?!"


"Sejak bertemu kamu di rumah sakit, aku sangat senang saat mengetahui kamu sudah menjadi seorang dokter, kamu menjadi pribadi yang tangguh dan kuat, aku ma--"


"Tidak! aku hanya berpura-pura sok tegar dan sok keren di hadapan mu, padahal aku sangat tersiksa karena kembali bertemu seorang bajingan seperti mu!"


Adrian hanya terdiam tanpa menimpali. Ia sengaja dan ingin mendengar semua keluh kesah Luna. Meski semua terdengar begitu menyakitkan. Baginya ini adalah sebuah awal, ia ingin tahu apa saja yang membuat Luna begitu membencinya lalu perlahan memperbaiki semuanya.


"Dulu saat kamu memutuskan untuk kita bercerai, aku masih saja menunggumu, meski semua orang mengumpat kepada ku tapi aku pura-pura tidak perduli! Kerena ... karena aku--" ucapan Luna terpotong karena ia ingin berkata, karena dulu aku sangat mencintaimu, batin Luna. Tapi semua itu tertahan, karena baginya kata itu hanya membuatnya semakin menyedihkan.


"Ck, aku bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata ku ... kita akhiri saja," ucap Luna seraya menahan air mata yang bersiap-siap untuk keluar.


"Mengakhiri?"


"Lucu ya, sebenarnya apa yang harus di akhiri karena semua sudah berakhir sejak lama," ucap Luna.


"Luna aku--"


"Terimakasih karena kamu sudah memberikan ku kesempatan untuk meluapkan semuanya dan maaf karena aku terlalu emosional, tapi memang begitulah yang aku rasakan baik itu dulu dan sekarang."


Luna melangkah dengan cepat meninggalkan Adrian yang masih diam mematung seraya memandangi kepergiannya.

__ADS_1


Mulai sekarang, aku akan memperbaiki semuanya, mengembalikan kepercayaan mu kepada ku, memberikan apa yang dulu tidak bisa aku berikan dan aku akan membuat kamu kembali mencintaiku, batin Adrian.


...***...


Keesokkan harinya, Luna yang baru saja pulang dari rumah sakit, kini ia sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Hudson. Ia mendapatkan telpon dari Johan Hudson (Papa Mishel) , bahwa Mishel sedang sakit dan tidak bisa bekerja. Ia pun diminta untuk datang karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh Johan.


Sesampainya di depan pagar yang tinggi menjulang. Seorang petugas keamanan, membuka pintu pagar, mereka sudah tahu jika mobil itu adalah mobil milik sahabat majikan mereka. Luna membuka kaca jendela mobilnya untuk sekedar menyapa petugas kemanan, kemudian melajukan mobil sampai kedepan teras.


"Selamat datang Nona," ucap seorang wanita paru baya yang menyambut kedatangan Luna.


"Iya Bi, apa Om Johan ada didalam?"


"Ada Nona, kebetulan Tuan sudah menunggu Anda sejak tadi, mari ikut saya."


Luna mengikuti langkah pelayan itu masuk kedalam. Langkahnya terhenti saat melihat pria tua tengah duduk di sebuah sofa seraya membaca sebuah majalah kesehatan. Pelayan itu beranjak pergi, sementara Luna melangkah mendekat.


"Selamat sore Om," sapanya sera menundukkan kepala.


"Duduklah," ucap pria tua itu saat menyadari kedatangan Luna.


Sekarang Luna sudah duduk di hadapan Johan Hudson. Entah kenapa setiap ia berhadapan dengan pria tua yang ada di hadapannya itu, ia merasa seperti sedang di interogasi. Hal itu sering terjadi saat ia Mishel membuat suatu masalah dan ia pun yakin kali ini masalahnya juga sama.


Glek.


Luna menelan saliva sekuat tenaga. Pertanyaan itu menjadi dilema tersendiri untuknya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, Mishel pasti akan dapat masalah. Kalaupun ia ingin berbohong alasan yang tepat harus ia pikirkan, jangan sampai papa dari sahabatnya itu menjadi curiga.


"Tidak ada Om, Mishel tidak menceritakan apapun kepada saya."


"Untuk itulah Om ingin segera menikahkan dia, Om ingin ada seseorang yang melindunginya."


Tiba-tiba saja Luna teringat sesuatu. Jika Mishel benar-benar akan di jodohkan, berarti orang itu adalah Adrian. Luna pun semakin penasaran dan ingin menanyakan hal itu.


"Kalau boleh tahu, pria yang akan di jodohkan dengan Mishel itu siapa Om?"


"Oh itu, anak teman Om. Dia seorang arsitek terkenal, dia sangat cocok untuk mendampingi Mishel."


Deg.


Jika memang kamu akan menikah, kenapa harus dengan seseorang yang aku kenal dekat. Mishel mungkin menolak, tapi Om Johan terlihat sangat yakin, batin Luna.


"Kalau begitu saya mau ke kamar Mishel dulu Om."

__ADS_1


"Iya pergilah, cuma kamu yang bisa membujuknya.'


~


Di dalam kamar mewah yang di dominasi warna gold. Mishel sedang duduk di atas ranjang ukuran king size. Ia memejamkan mata dengan tangan yang mencengkram erat ujung selimut yang menutupi kaki jenjangnya. Ingatan saat pria bajigan itu menidurinya masih terngiang-ngiang. Hancur sudah hidupnya sekarang.


Klek.


Mishel menoleh dengan lemas kearah pintu. Jika biasanya saat melihat kedatangan Luna ia akan tersenyum senang, namun kali ini berbeda. Ia hanya memasang wajah datar, tatapan matanya pun juga kosong. Melihat keadaan Mishel, Luna tahu pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.


"Kamu kenapa? Coba ceritakan kepada ku pasti terjadi sesuatu," ucap Luna saat duduk di samping Mishel.


Mishel hanya memandangi Luna dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak bisa menceritakan apa yang ia alami kepada Luna. Baginya itu terlalu menyedihkan, cukup ia yang merasakan semuanya. Setelah ini ia akan kembali membangun harapan, meski ia tak tahu, apa masih ada pria baik untuk wanita sepertinya.


"Kamu ditinggalkan oleh laki-laki yang kamu temui?" tanya Luna.


Mishel menganggukkan kepalanya perlahan, "Hm, iya."


"Sudah aku bilang, pastikan pria yang kamu temui adalah pria baik-baik. Mulai sekarang kamu harus berhati-hati, banyak pria jahat di luar sana," ujar Luna dengan raut wajah khawatirnya.


"Bagaimana menurut mu dengan laki-laki yang akan di jodohkan dengan ku, apa dia baik?" tanya Mishel tiba-tiba.


Deg.


"A-apa? ... Oh itu, entahlah aku hanya bertemu dengannya sebentar, jadi belum tahu dia bagaimana," jawab Luna.


Dia adalah mantan suamiku Mis, pria yang dulu aku ceritakan padamu, batin Luna.


"Sepertinya aku akan menyerah," ucap Mishel yang terdengar lemah.


"Apa maksudmu?" tanya Luna.


"Aku menyerah untuk mencari pria impianku ... sepertinya aku akan menerima perjodohan itu," ujar Mishel.


Deg.


Lagi-lagi hati Luna tersentak kaget. Bibirnya tersenyum, namun hati tak berkata sama. Ternyata ia belum sepenuhnya move on. Karena saat membayangkan Adrian bersama wanita lain, dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak, apalagi jika orang itu adalah, Mishel.


Bersambung 💓


Jangan lupa like dan komentar di setiap bab. Jika berkenan berikan vote dan hadiah sebagai penyemangat author. Terimakasih atas dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2