
Luna melangkah dengan cepat menuju kamar Adrian bersama dengan Joni. Sesampainya di dalam ia bertambah khwatir saat mendapati Adrian meringkuk di atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang ia mendekati Adrian.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Luna yang sudah duduk di samping Adrian.
"Perut ku sakit sekali, di bagian ini," ucap Adrian seraya menunjuk bagian ulu hatinya.
Tanpa pikir panjang Luna mengeluarkannya stetoskop dari dalam tasnya. Ia memposisikan Adrian terlentang agar lebih mudah saat memeriksanya. Terlihat Adrian sangat pucat dan menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Setelah selesai memeriksa Luna melepaskan stetoskop itu dari telinganya dan beralih menatap Adrian.
"Apa kamu makan sesuatu malam ini ... yang mungkin minuman soda atau makan yang terlalu asam atau pedas?" tanya Luna.
"Oh itu dok, tadi dia makan udang saus memang sangat pedas, saya sudah memperingati dia tapi dia memakan semuanya," sahut Joni tiba-tiba.
Mendengar penjelasan Joni, Luna kembali menatap Adrian, "Kamu itu punya riwayat sakit maag, kenapa malah makan sembarangan."
Adrian menyunggingkan senyum dengan wajah pucatnya, "Semenjak seseorang menghilang dari kehidupan ku, aku mengabaikan semuanya termasud kesehatan."
Joni mulai mengerti situasi. Perlahan ia mundur dan melangkah keluar. Kini tinggallah Luna dan Adrian di kamar itu, sejenak mereka saling menatap dalam diam, sampai akhirnya Luna memutuskan tatapan mereka dan beralih ke tasnya untuk mengambil sesuatu.
"Aku akan meresepkan obat untuk meredakan nyeri dan obat antasida," ucap Luna seraya menulis seraya menulis sesuatu di sebuah buku kecil yang ada di tangannya.
Adrian tak henti-hentinya memperhatikan sang mantan istri. Sungguh pesonanya melampaui dulu, lebih cantik, dewasa dan elegan. Ia merasa seperti anak ABG yang kembali jatuh cinta. Setelah sembilan tahun, hatinya yang dulu seakan mati suri kini perlahan mulai merasakan getaran yang sama dari orang yang sama pula.
Luna berbalik kebelakang untuk menyerahkan resep obat itu kepada Joni. Keningnya langsung mengkerut saat tidak mendapati Joni di belakangnya. Sontak ia kembali menatap Adrian.
__ADS_1
"Teman kamu yang tadi kemana?"
"Sepertinya di luar," jawab Adrian.
Saat Luna akan beranjak dari tempat duduknya, ia hendak melangkah keluar namun Adrian dengan cepat mencegahnya, "Jangan pergi, aku membutuhkan kamu sekarang."
Luna menghela nafas berat, ya ia pun tak tega melihat kondisi mantan suaminya sekarang, "Iya aku hanya ingin menemui Joni sebentar untuk menebus obat ini, setelah itu aku akan kesini lagi."
Akhirnya Adrian menurut dan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Luna. Dengan segera Luna keluar untuk menemui Joni. Benar saja, saat ia keluar Joni sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Segera saja ia menghapiri Joni.
"Dokter, sudah mau pulang?" tanya Joni yang segera berdiri dari posisinya saat menyadari kedatangan Luna.
"Belum, tolong kamu ke apotik tebus obat ini," ucap Luna seraya menyerahkan secarik kertas kepada Joni.
"Oh iya ... dapurnya dimana?" tanya Luna tiba-tiba.
"Oh itu, di sana Dok, lurus saja," jawab Joni.
"Oh iya, terimakasih." Luna melangkah dengan cepat meninggalkan Joni.
Joni tersenyum-senyum sendiri seraya memandangi kepegian Luna, "Wah beruntung sekali Rian, punya mantan secantik itu ... kenapa juga dulu mereka bercerai."
~
__ADS_1
Sekitar dua sepuluh menit, akhirnya Luna kembali ke kamar. Ia mengeryitkan keningnya saat melihat Adrian duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa tidak berbaring?" tanya Luna yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang.
"Kalau aku baring, nanti ketiduran," ucapnya dengan nada suara lemah, "Itu apa?" Adrian menatap botol yang ada di tangan Luna.
"Oh ini air hangat, kompres bagian ulu hati mu dengan ini, rasanya akan lebih nyaman." Luna menempelkan botol itu ke bagian perut atas Adrian.
Hati Adrian kembali tersentak hanya karena perhatian kecil dari sang mantan. Lagi-lagi ia menyesal karena sembilan tahun yang berakhir sia-sia tanpa wanita yang ada di hadapannya saat ini. Perlahan tangannya bergerak, menyentuh tangan Luna yang sedang mengompres bagian perutnya.
Tentu saja Luna kaget dan hendak melepaskan tangannya, namun semua sudah terlambat karena Adrian langsung menarik ia kedalam pelukan. Kepala Luna bersandar di dada bidang itu, sementara sang mantan suami memeluknya dengan erat.
Deg...deg...deg.
Tubuh Luna melemah, jantungnya berdetak lebih cepat. Ya, sebagai seorang Dokter ia tahu degup jantungnya sekarang sedang tidak normal, untuk melepaskan diri saja, ia tak mampu. Magnet dari mantan suaminya itu masih sama kuat seperti dulu, ia selalu tak bisa berkutik hanya karena satu sentuhan pada dirinya.
"Aku tidak perduli, kamu ingin menjauhi ku, kamu mengusirku atau mencaci sekalipun, aku terima karena aku memang salah ... tapi aku hanya ingin kamu tahu, baik dulu ataupun sekarang aku selalu merindukan kehadiran mu, l will always love you, Luna."
Mata Luna mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya ia berteriak tentang apa yang ia rasakan saat ini, tapi ego masih bisa menahan hatinya untuk tetap diam. Tanpa ia sadari cairan kristal bening itu mulai keluar dari sudut mata, meski mulutnya tetap bungkam seribu bahasa.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1