
Adrian terseyum seraya melambaikan tangannya kepada Luna. Jam menunjukkan pukul tiga sore dan mereka sudah berjanji bertemu di taman, tempat biasa mereka bertemu.
Luna melangkah dengan cepat dan langsung memeluk Adrian. Ia menenggelamkan kepala di dada bidang seorang pria yang kini kembali menjadi pacarnya. Akhirnya ia bisa lebih leluasa meluapkan perasaannya tanpa harus menahan perasaannya.
Melihat tindakan tiba-tiba sang kekasih, awalnya Adrian kaget lalu akhirnya membalas pelukan itu. Ia bahagia karena akhirnya bisa merasakan perasaan seperti sekarang bersama orang yang sama. "Kamu lama sekali, apa makan siang dengannya sangat menyenangkan?"
Luna melepaskan pelukannya, menatap Adrian dengan kening mengkerut. "Kamu sudah janji tidak akan cemburu ... aku sudah mengatakan semuanya kepada kak Hendry."
"Baguslah, aku pasti sangat berat untuk kamu mengatakannya, terimakasih." Adrian meraih tangan Luna dan langsung menggenggamnya dengan erat. "Apa kamu akan kembali ke rumah sakit lagi?"
Luna melihat jam di tangannya. "Masih ada waktu satu jam sebelum jadwal operasi ku."
"Bagusnya, kalau begitu kita manfaatkan waktu yang singkat itu untuk kencan pertama kita."
"Kencan? Apa kamu ABG, untuk apa berkencan."
"Anggap saja begitu, aku seperti sedang kembali ke masa-masa SMA kita, ayo kita jalan." Adrian menarik Luna agar melangkah mengikutinya.
"Kita mau kemana?"
"Bagaimana kalau naik sepeda keliling taman saja, karena waktu sangat singkat, besok kita menonton film dan besoknya lagi dinner di restoran Jepang kesukaan kamu dan--" Adrian tak melanjutkan ucapannya saat Luna berhenti melangkah. Ia berbalik menatap Luna. "Kenapa berhenti?"
__ADS_1
Luna diam tertegun sambil menatap Adrian. Begitu banyak rencana yang mantan suaminya itu ucapakan, namun ia ragu apa mereka bisa terus seperti sekarang. "Apa semuanya akan berjalan dengan lancar, aku tidak mau kamu terkena masalah karena aku."
Adrian mendekati Luna dan terseyum kepadanya. "Percaya padaku semua akan baik-baik saja."
Mereka saling melempar senyum lalu kembali melangkah beriringan.
Mereka bedua berhenti di sebuah kios untuk menyewa sepeda. Ada banyak sepeda berjajar rapi di sana, Adrian memilih satu sepeda dengan tempat duduk di belakangnya. Ya, ia tahu Luna tidak bisa mengendarai sepeda. "Kita pakai yang ini saja, tempat duduknya empuk, cocok untuk membonceng kamu."
Tiba-tiba saja wajah Luna berubah menjadi cemberut. "Kamu menyindir ku? Ya memang sudah banyak hal berubah dari ku setelah sembilan tahun, tapi untuk hal ini aku masih sama seperti dulu."
"Haha, sudah aku duga." Adrian tak bisa menahan tawanya, ia membayar sewa sepeda itu lalu mengambil sepeda yang ia pilih.
"Ayo naik." Adrian menepuk tempat duduk yang ada di belakangnya.
"Oke, jangan lupa pegangan, aku akan mengebut."
Mendengar hal itu Luna langsung melingkarkan lengannya di pinggang Adrian.
Adrian mengayuh sepedanya dengan perasaan bahagia yang tak bisa di ungkapkan. Akhirnya hari ini datang juga, ia bisa kembali menikmati hari-hari bersama dengan wanita yang ia cintai.
Satu hal yang ingin aku wujudkan lagi saat di berikan kesempatan untuk kembali bersama. Aku ingin mengulang mimpi yang belum sempat kita wujudkan, kelak mimpi itu akan menjadi nyata dan kamu akan bahagia karena keputusan yang kamu ambil ternyata tidak salah, batin Adrian.
__ADS_1
Adrian tiba-tiba saja menghentikan laju sepedanya karena di hadapanku rombongan anak taman kanak-kanak yang sedang menyebrang bersama guru mereka.
Melihat hal itu Luna beranjak dari duduknya, ia berdiri di samping Adrian yang masih duduk di atas sepeda. Mata mereka terlihat fokus memandangi anak-anak kecil yang sedang berjalan dengan riang gembira.
Baik Adrian ataupun Luna, mereka hanya diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Andai sembilan tahun yang lalu mereka tak berpisah, mungkin mereka sudah mempunyai anak sebesar yang mereka pandangi saat ini.
...**...
Andrian kembali ke apartment, sementara Luna kembali ke rumah sakit. Ia melangkah menuju unit apartment yang ia sewa selama berada di kota itu. Langkahnya melambat saat dari dekat ia melihat Joni sedang berdiri di ambang pintu.
"Adrian, cepat sini." Joni melambaikan tangannya kepada Adrian.
Adrian mendekati Joni. "Kamu kenapa berdiri disini?"
"Kamu dari mana saja, aku telepon tidak di angkat," ucap Joni yang nampak panik.
"Oh itu, baterai ponselku mati ... kamu kenapa panik sekali, ada apa?" Adrian nampak bingung melihat tingkah gelisah Joni."
"I-itu di dalam ada--"
"Adrian kamu sudah pulang." Sahut seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Joni.
__ADS_1
"Mama." Adrian nampak terkejut saat melihat hal yang membuat Joni gelisah adalah, sang Mama.
Jangan lupa like komen vote n hadiahnya ya readers 🙏😊😍