MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.25 (Apa kamu siap untuk pulang?)


__ADS_3

Hendry melangkah masuk kedalam kamarnya. Sesampainya di dalam, ia membuka sebuah laci yang ada di bagian bawa meja lampu tidur. Terlihat sebuah foto seorang wanita cantik dan anak perempuan tergambar di sana.


Sekilas ia terlihat tersenyum, tapi raut wajah kesedihan tak bisa di sembunyikan. Ya, foto itu adalah foto mendiang istri dan anaknya, jika melihat foto itu ia kembali terkenang saat-saat indah bersama keluarga kecilnya.


Kebahagiaan yang dulu ia anggap tidak akan pernah berakhir. Nyatanya semua berakhir begitu cepat dan tragis. Kecelakaan naas itu merenggut harta paling berharga yang ia miliki, hatinya hancur dan ia sempat mengalami depresi hingga bertahun-tahun lamanya.


Kini perlahan ia mulai bangkit, membangun hidupnya kembali dengan caranya sendiri. Menemukan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hati adalah tujuan utamanya, tapi apa ia bisa Keluar dari bayang-bayang mendiang istri dan anaknya? Saat melihat Luna, dunia yang baru seolah ia temukan.


"Apa aku boleh jatuh cinta lagi? Daddy janji tidak akan melupakan kalian," gumam Hendry seraya menatap foto yang ada di tangannya.


...***...


Menjelang pagi, Luna sudah bangun. Jika biasanya ia akan sibuk bersiap-siap untuk bekerja, tapi pagi ini sedikit berbeda, ia malah sibuk di dapur untuk memasak sesuatu. Agar tidak salah memasukkan bumbu, ia sengaja melakukan video call dengan sang Ibu.


"Apa sebanyak ini Bu?" Luna memperlihatkan sesendok garam kearah layar ponselnya.


[Kebanyakan, sedikit-sedikit dulu kalau kurang baru di tambah lagi.]


Luna menuang kembali garam yang ada di sendok itu lalu sisanya ia masukkan ke dalam panci kecil berisi bubur buatannya.


[Sebenarnya kamu masak untuk siapa sih? Sampai video call Ibu pagi-pagi.]


Luna yang tengah mengaduk-Aduk bubur di panci, menghentikan aktivitasnya, ia diam sesaat. Ya, ia juga tidak mengerti kenapa ia sampai seperti ini, rela bangun pagi demi memasak bubur untuk seseorang yang ingin ia jauhi. Tapi nyatanya yang ia lakukan sekarang malah akan semakin mendekatkan ia dan sang mantan.


Luna kembali melihat ke layar ponselnya, "Untuk teman teman Bu."

__ADS_1


[Teman atau teman, Ibu malah senang kalau kamu bisa membuka hati lagi untuk pria lain.]


Ingin rasanya Luna menceritakan tentang Adrian kepada Ibunya tapi jika ia mengingat bagaimana Ibu mengumpat dan membenci keluarga sang mantan suami, nyalinya pun langsung menciut.


"Teman kok Bu ... sudah dulu ya Bu, Luna mau siap-siap kerja."


[Iya kamu hati-hati. Oh iya sampaikan ucapan terimakasih Ibu sama Mama Mishel ya, kemarin Ibu di kirimkan tas baru, sepertinya mahal.]


"Tas? ... Oh iya Bu, nanti Luna sampaikan."


Luna mematikan video call itu. Ia kembali di buat penasaran kenapa Mama Mishel mengirimkan barang mewah kepada Ibunya. Tak ingin menerka-nerka sembarangan, ia pun memutuskan untuk mematikan kompor karena bubur buatanya sudah jadi dan rasanya juga sudah pas di lidah lalu setelah itu kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.


...***...


"Hoaaamm ... kamu sudah bangun," sahut Joni yang tiba-tiba saja datang menghampiri Adrian.


"Kamu baru bangun?" tanya Adrian.


"Iya, aku lelah sekali gara-gara kemarin seharian di lokasi proyek," ucap Joni kemudian membuka kulkas untuk mengambil air minum.


"Kamu tidak masak, aku lapar sekali," ujar Adrian seraya memegangi bagian perutnya.


"Hey memangnya aku istrimu apa ... oh iya proyek di kota ini sudah hampir selesai tinggal proses pembangunan saja, sudah aku diskusikan dengan kontraktor, kita bisa memantau dari jauh, proyek yang lebih besar sedang menggunggu, bagaimana apa kamu siap untuk pulang?" tanya Joni.


Adrian nampak sedang berpikir. Sewaktu ia pertama kali datang ke kota ini, ia ingin cepat-cepat pulang tapi sekarang berbeda, ada seseorang yang membuatnya ingin tetap tinggal, hingga rasa ingin pulang ke kota asal tak lagi menjadi prioritas.

__ADS_1


"Rian, kenapa bengong?"


"Hah, tidak apa-apa, kita bicarakan nanti sekarang aku mau kamu masak, aku lapar."


"Mie instan saja kalau begitu."


"Ya terserah kamu saja."


Ting..tong...ting..tong.


Bel pintu tiba-tiba saja berbunyi, karena Joni sedang memasak mie instan, akhirnya Adrian sendiri yang pergi untuk membuka pintu, saat melihat layar kecil yang ada di samping pintu, terlihat di bagian luar tidak ada siapa-siapa, karena penasaran akhirnya ia tetap membuka pintu.


Klek.


Saat pintu terbuka, Adrian mengerutkan keningnya melihat sebuah food jar tergeletak di depan pintu. Ia membungkukkan badan lalu meraih food jar itu. Terlihat ada sebuah kertas kecil dengan tulisan di atasnya. Adrian membuka kertas itu dan membaca pesan di dalamnya.


[Jangan makan sembarangan dulu, makanlah makanan yang mudah di cerna, jangan salah paham aku membuat bubur ini bukan karena aku memperdulikan kamu tapi perut mu.]


Lengkungan senyum tergambar jelas di wajah Adrian. Meski Luna mengelak tapi ia tahu bahwa mantan istrinya itu sangat mempedulikannya.


Bagaimana bisa aku pergi jika disini ada kamu yang membuatku tak ingin beranjak walau hanya selangkah, batin Adrian.


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2