MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.33 (First Kiss)


__ADS_3

Joni membopong Mishel masuk kedalam taksi. Ia tak tahu harus membawa wanita itu kemana. Apalagi Mishel sempat berujar bahwa Papanya akan marah besar jika ia pulang dalam keadaan mabuk. Akhirnya Joni memutuskan untuk membawa Mishel ke hotel terdekat.


Selama perjalanan, Mishel tak henti-hentinya membuat ulah karena pengaruh Alkohol. Ia bahkan bicara tanpa henti membuat Joni kewalahan. Pak supir yang sedang fokus menyetir tersenyum-senyum sendiri saat melihat pria dan wanita yang ada di kursi penumpang heboh sendiri.


"Aku ini wanita yang sangat mempesona! Lihat saja nanti, dia akan jatuh cinta pada ku."


"Iya, dia pasti akan jatuh cinta padamu."


Wanita ini menyebalkan sekali, batin Joni.


Dengan mata sayunya, Mishel menatap Joni, karena sedang mabuk, entah kenapa ia melihat pria yang di sampingnya adalah Adrian, "Hey, ternyata kamu disini."


Joni menoleh kearah Mishel yang sedang menatapnya "Apa maksud mu?


"Adrian, kenapa kamu menyukai Luna ... akan aku katakan satu rahasia," Mishel menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Joni lalu menyondongkan tubuhnya, "Dia itu seorang janda ... aku tidak berbohong dia menceritakan semuanya kepada dulu sewaktu kami kuliah, kasihan ya, hahaha."


"Dia itu hanya wanita yang di campakkan oleh suaminya, dia tidak pantas untuk kamu, Adrian!" seru Mishel yang semakin tak terkendali.


Joni terperanga tak percaya, "Andai kamu tahu siapa mantan suaminya, kau pasti tak bisa tertawa lagi" gumam Joni.


Tiba-tiba saja Mishel kembali mendekatinya, "Apa kamu ingin mencium ku Adrian?"


Mata Joni membulat seketika, saat melihat Mishel memajukan bibirnya, "Jangan mendekat, aku bukan Adrian!"


Mishel tak perduli dan terus mendekat. Joni terus mundur hingga akhirnya menumbur jendela mobil, saat situasi semakin tak memungkinkan untuk kabur Joni memejamkan mata dan akhirnya.


Cup.


Bibir mereka saling bertabrakan. Pak supir yang sedang menyetir terlihat terkekeh tanpa suara seraya menggeleng perlahan. Joni segera mendorong tubuh Mishel agar menjauh darinya.


"Dasar wanita gila!"


...**...


Sesampainya di hotel. Setelah melakukan cek in, Joni membopong tubuh Mishel masuk kedalam kamar, ia meleparkan tubuh Mishel ke atas tempat tidur. Joni menghela nafas panjang saat mengingat kejadian di taksi tadi.

__ADS_1


"Andai aku pria ba*Ingan, aku sudah pasti sudah melakukan hal itu padamu ... sayangnya aku masih punya hati nurani, tapi kenapa kamu mencuri ciuman pertama ku, ah sial." Joni mengusap wajahnya dengan kasar karena kesal.


Joni menyelimuti tubuh Mishel lalu melangkah menuju sebuah sofa yang ada di kamar itu. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa, kemudian kembali menoleh kearah tempat tidur.


Apa aku tinggalkan saja dia di disini ... ah tidak, bagaimana kalau dia malah melakukan hal yang tidak-tidak saat sendirian disini, bisa jadi dia mau bunuh diri karena frustasi ... apa aku hubungi Adrian saja, ah iya benar, batin Joni.


Joni mengambil ponsel yang ada di saku celana. Ia kembali mengumpat kesal karena baterai ponselnya habis, "Kenapa saat di butuhkan kamu malah mati."


...**...


Sekitar pukul tujuh pagi, Adrian keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Joni namun orang yang di cari tak ada disana.


"Apa dia belum pulang ... tapi kemana perginya."


Adrian mencoba menghubungi Joni namun tak ada jawaban. Sampai akhirnya ponselnya berdering, ia pikir yang menelpon ada Joni, namun ternyata, malah sang Mama.


"Hallo, Ma."


[Apa kabar sayang, kenapa kamu jarang sekali menghubungi Mama dan Papa.]


[Oh iya, Papa Mishel bilang kamu yang akan menjadi arsitek gedung baru di rumah sakit miliknya?]


"Hm, iya benar ... tapi aku masih dalam tahap mendesain bangunannya."


[Baguslah, jadi kamu bisa lebih sering bertemu Mishel.]


"Ma ... aku tidak menyukai Mishel, karena aku sudah menyukai wanita lain."


[Apa! Wanita lain ... Adrian, jika memang kamu menyukai wanita lain, bawa wanita itu kehadapan Mama dan Papa.]


"Aku masih me dekatinya Ma, jika semuanya sudah jelas, aku akan membawanya kehadapan Mama dan Papa."


Adrian pikir, ini belum saatnya ia mengatakan jika Luna adalah wanita yang ia sukai. Kenapa? karena ia ingin Luna mempunyai keyakinan yang sama dengannya, agar mereka bisa sama-sama memperjuangkan restu itu kembali.


[Baiklah, tapi kalau sampai beberapa bulan kedepan kamu tidak mengatakan siapa wanita itu, Mama dan Papa akan tetap melanjutkan perjodohan ini.]

__ADS_1


Panggilan telepon itu terputus. Adrian tahu Mamanya pasti sangat kesal padanya. Tapi ia tidak ingin membiarkan semuanya berlarut-larutnya hingga menimbulkan kesalahpahaman berkelanjutan, ia tidak ingin kedua orangtuanya berharap lebih kepada dirinya.


~


Di tempat lain, dia sebuah kamar hotel. Mishel yang baru saja membuka mata sontak langsung duduk dari posisi berbaringnya. Ia kaget saat mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel.


"Ahk apa aku tidur dengan laki-laki asing," ucapnya panik.


"Kamu sudah bangun," ucap Joni yang baru saja keluar dari toilet.


Mishel membulatkan matanya, "Apa yang kamu lakukan kepada ku!"


Joni memutar matanya malas, "Lihatlah dirimu sendiri .. pakaian mu saja masih lengkap kan?"


Mishel melihat bagian tubuhnya. Ya, benar saja pakaian masih menempel dengan sempurna, "Ehm, la-lalu kenapa kamu bisa di sini, kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ya, kamu pasti meraba-raba tubuhku kan?"


"Hey, bersyukurlah karena yang membawamu kemari adalah aku ... yang ada kamu yang melecehkan ku, ci--" Joni tak melanjutkan ucapannya, ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa Mishel telah merebut ciuman pertamanya. "Ah sudahlah, karena kamu sudah bangun aku mau pulang, permisi." Joni meraih jaketnya dan melangkah keluar dari kamar hotel itu.


Mishel masih terdiam di posisinya. Ia mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan, apa yang terjadi malam tadi. Tiba-tiba saja matanya membulat seraya menggeleng perlahan. Ya, akhirnya ia ingat apa saja yang telah terjadi dan apa saja yang telah ia katakan kepada Joni, termaksud ciuman di taksi malam tadi.


"Tidak mungkin, aku pasti sudah gila!"


~


Luna bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia baru saja selesai bersiap-siap sampai akhirnya bel pintu tiba-tiba saja berbunyi. Ia melangkah dan langsung membuka pintu. Namun tak ada orang disana.


keningnya mengeryit saat melihat food jar miliknya tergeletak di depan pintu. Ya, food jar itu adalah tempat yang ia gunakan saat memberi bubur kepada Adrian.


Langsung saja ia membungkukkan badannya untuk meraih food jar itu. terlihat ada sebuah kertas kecil dengan tulisan di atasnya.


[Terimakasih untuk bubur waktu itu, aku ingat kamu sangat menyukai nasi goreng buatan ku dulu, entah rasanya masih sama atau tidak tapi aku membuatnya sepenuh hati .Adrian.]


Senyumnya tiba-tiba saja mengembang. Ia tidak menyangka Adrian masih mengingat hal sekecil itu. Dari balik tembok yang tidak terlalu jauh, Adrian ikut tersenyum senang karena melihat Luna yang terlihat senang, ia yakin jika ia memberikan secara langsung, Luna tidak mungkin bisa tersenyum seperti itu.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍❤️


__ADS_2