
Jessy kembali mencoba mengetuk pintu kamar Mishel beberapa kali, ia berharap kali ini sahabatnya itu akan membuka pintu dan mengizinkannya masuk. "Mis, ayolah buka pintunya. Aku tidak akan pulang sebelum kamu membuka pintu."
Klek.
Pintu kamar itu akhirnya terbuka juga. Mishel membuka setengah pintu dan langsung menarik Jessy masuk kedalam.
Jessy kaget saat melihat mata Mishel yang membengkak karena terlalu banyak menangis. "Kamu kenapa, mata kamu sampai sipit begini."
Mishel kembali menangis tersedu-sedu di hadapan Jessy. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa mundur ataupun maju semuanya sama-sama salah. Kini masa depannya seolah tergantung karena ancaman pria brensek itu.
Melihat Mishel menangis, Jessy segera menuntunnya untuk duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu. "Coba kamu cerita, sebenarnya kamu kenapa, apa kamu seperti ini karena Adrian bersama Luna?"
"Bukan itu Jes ... aku frustasi karena laki-laki itu datang lagi dan mengancam ku." Mishel kembali menangis tersedu-sedu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Maksud kamu laki-laki yang waktu itu memperkosa kamu?" tanya Jessy memastikan.
Mishel menganggukkan kepalanya perlahan seraya menyeka air mata yang tak mau berhenti mengalir. "Dia menyimpan foto-foto saat kami bersama di kamar hotel. Dan dia menggunakan foto itu untuk mengacam ku."
"Ya ampun Mis, ini tidak bisa di biarkan. Kamu harus laporin dia ke polisi. "Jessy terlihat emosional saat mendengar penuturan Mishel.
Namun Mishel malah menggeleng tanda tidak setuju dengan saran Jessy. "Tidak Jes, aku tidak bisa. Itu sama saja aku akan mempermalukan keluarga ku."
"Tapi Mis, sampai kapan kamu akan membiarkan pria itu memoroti kamu?"
"Pasti ada cara lain Jes, aku juga tidak akan membiarkan dia memanfaatkan ku terus."
"Kalau begitu kamu harus makan, kamu butuh energi untuk tetap bertahan." Jessy mengeluarkan sabuah box berisi makanan dari dalam paper bag yang ia bawa. "Ini sandwich tuna kesukaan kamu, ayo makan."
Mishel terdiam sejenak. Ia pikir Jessy ada benarnya, terpuruk seperti sekarang hanya akan membuat dia tidak bisa keluar dari masalah. Akhirnya tangannya mulai bergerak, meraih sepotong sandwich dan langsung melahapnya.
Jessy tersenyum lega. Ia tahu masalah yang di hadapi temannya sekarang begitu sulit. Ia juga pernah terpuruk karena laki-laki brensek dan ia tahu betul bagaimana rasa kecewa, ketakutan yang sahabatnya itu rasakan. Namun sesulit apapun masalahnya, pasti akan ada jalan keluar.
~
__ADS_1
Setelah dua jam, akhirnya Jessy memutuskan untuk pulang meski Mishel belum juga ingin keluar kamar. Akhirnya Jessy keluar sendiri. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Hendry dan Mamanya bediri di sana.
"Bagaimana Jes, Mishel bilang apa?" tanya Mama penasaran.
"Mishel sedikit frustasi karena pekerjaannya. Dia hanya ingin sendiri dulu setidaknya sampai besok," jawab Jessy.
"Huh, syukurlah. Terimakasih ya Jess," ucap Hendry.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, kak Hendry," ujar Jessy.
"Iya kamu hati-hati ya, terimakasih sering-sering main ke sini ya," ujar Mama seraya menepuk pelan pundak Jessy.
"Iya Tante."
"Ayo aku antar kamu ke depan," ajak Hendry.
"Iya Kak, terimakasih."
Jessy dan Hendry melangkah beriringan menuju pintu utama. Sesampainya di teras Jessy melangkah menuju mobilnya, namun saat akan masuk kedalam mobil, ia terperanga melihat ban mobilnya bocor.
"Ban mobil ku tertusuk paku kak," jawabnya.
"Kamu tunggu di sini sebentar, biar aku antar kamu pulang. Mobil kamu biar di sini dulu," ujar Hendry.
"Tidak usah repot-repot kak, biar aku panggil montir saja kesini," tolak Jessy.
"Sudah tidak apa-apa, lagi pula aku belum tahu kamu tinggal di mana. Tunggu di sini sebentar aku ambil mobil," ucap Hendry lalu melangkah masuk kedalam rumah.
~
Selama perjalanan menuju apartement Jessy. Hendry beberapa kali menoleh kesamping, ia penasaran kenapa Jessy hanya diam sejak tadi. "Kamu kenapa diam saja, apa kamu merasa tidak nyaman aku antar pulang?"
"Bukan begitu kak, aku hanya bingung harus bicara apa," ujar Jessy lalu yang saat ini sedang menoleh kearah Hendry.
__ADS_1
"Ternyata kami orang yang pemalu ya ... Luna dan Mishel cenderung lebih cerewet."
"Iya sebenarnya aku orang yang pemalu tapi saat bersama Luna dan Mishel aku jadi ikut heboh." Jessy terkekeh sendiri saat mengingat masa-masa kuliahnya dulu. "Oh iya, Mishel sempat cerita kalau kakak menyukai Luna, apa benar begitu?"
"Ya begitulah, aku sedikit terluka saat Luna menceritakan tentang hubungannya dan Adrian tapi setelah beberapa saat aku sudah lebih baik, sekarang aku sudah melepaskannya, mungkin sendiri itu lebih baik."
"Kakak salah, sendiri itu tidak enak. Aku saja jika di beri kesempatan, ingin kembali memulai sebuah hubungan baru, dengan orang yang tentunya lebih baik, nah yang susah itu mencari orang yang tepat."
"Kamu benar juga," ucap Hendry seraya menoleh sejenak untuk melihat Jessy.
...**...
Setelah dari bandara, Luna kembali ke rumah sakit. Ia terlihat begitu senang akhirnya sudah mendapatkan restu dari sang Ibu. Ia masuk ke ruang kerjanya dan langsung duduk seraya bersandar.
"Dokter sepertinya lagi senang ya, ada apa sih?" ucap Mika saat duduk di hadapan Luna.
"Tidak apa-apa, hanya senang saja."
"Ayo cerita dok, saya kan penasaran," bujuk Mika.
Luna menegapkan posisinya, menatap Mika yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya. Ia menceritakan semuanya kepada Mika. Dari awal hingga akhir, kini Luna tak lagi ragu untuk membagikan kisah bahagianya kepada semua orang termaksud Mika.
~
Di lain tempat, Adrian terlihat begitu terharu saat mendengar cerita dari Mama dan Papa. Ia kira yang terjadi ada perselisihan lagi, namun ternyata semua sudah berakhir.
"Mulai sekarang kamu atur semuanya, kami sebagai orang tua hanya bisa merestui saja," ujar Mama.
"Lebih baik jika kamu langsung melamarnya saja, lebih cepat lebih baik," ujar Papa.
Adrian tiba-tiba saja memikirkan ucapan Papa. Ya, semua ada benarnya, apa lagi yang ia tunggu, semua sudah jelas, dari perasaan dan keyakinan hati mereka. Sekarang bukan lagi saatnya mereka berpacaran seperti saat remaja. "Papa benar, tapi kali ini aku ingin melamar Luna dengan baik, karena dulu aku belum bisa melakukan yang terbaik untuk dia."
"Semuanya terserah kamu, setelah Mama kamu pulih, kami akan pulang. Jika kalian punya waktu luang, pulang lah ke kota X, di sana adalah tempat kalian memulai dan sempat mengakhiri semuanya, jadi bawa dia pulang saat semuanya sudah jelas dan kalian sepakat untuk menikah," tutur Mama.
__ADS_1
"Iya Ma, sebentar lagi aku pasti akan membawanya pulang."
Bersambung 💓