
Adrian kembali masuk kedalam unit apartmentnya dengan hati berbunga-bunga. Ia melangkah menuju dapur untuk menyantap bubur buatan sang mantan istri. Bertepatan dengan itu juga mie instan yang di masak Joni sudah selesai dan terhidang di meja makan.
"Apa itu?" tanya Joni saat melihat food jar di tangan Adrian.
"Bubur spesial dari seseorang yang spesial," jawab Adrian seraya meletakkan food jar itu di atas meja makan, lalu melangkah untuk mengambil mangkuk.
"Hah, dari Dokter Luna?" Joni membuka penutup food jar itu dan ia langsung terpana dengan isinya, "Wow, bubur ayam, i like it."
"Tidak boleh, ini spesial hanya untuk ku. Kamu maka saja dua mangkuk mie instan itu." Adrian segera menggeser food jar itu dari hadapan Joni.
"Dasar pelit, mungkin sebenarnya Dokter Luna membuat itu untuk kita berdua, akhir-akhir ini pencernaan ku sedang tidak baik aku juga butuh asupan gizi," keluh Joni dengan raut wajah yang di buat-buat.
"Aku tidak perduli, makan saja mie yang kau buat tadi!" seru Adrian kesal.
...**...
Sesampainya Luna di rumah sakit, di sana sudah ada Mishel yang menunggu kedatangannya di depan Lobby. Ia melambaikan tangan begitu juga dengan Mishel yang juga melambaikan tangan kepada Luna, "Tumben masih di depan?"
"Aku juga baru saja sampai, dari kejauhan aku melihat kamu berjalan dari arah parkiran jadi aku tunggu saja," jawab Mishel.
__ADS_1
"Sepertinya pagi ini kamu senang sekali, kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, nanti juga kamu tahu, ayo masuk," ucap Mishel lalu menggadeng tangan Luna untuk melangkah masuk bersama.
Kedua sahabat itu berjalan beriringan. Entah sampai kapan persahabatan manis itu terjalin dengan baik. Ya, mungkin setelah Mishel mengetahui satu fakta terselubung tentang Luna dan Adrian, ia tidak akan bisa lagi terseyum bahagia seperti sekarang.
~
Sesampainya di ruangan Luna meletakkan tasnya dan memakai jas putih miliknya. Mika yang sudah datang sejak tadi, menghampiri Luna untuk menyerahkan hasil labor dan CT scan pasien. Hari ini Luna akan kembali betempur di ruang operasi.
"Dok hari ini ada tiga jadwal operasi besar, ini hasil X-ray pasien." Mika meletakkan sebuah amplop besar di atas meja kerja Luna.
"Baiklah, aku sudah siap kerja lembur lagi." Luna duduk di belakang meja seraya memeriksa isi amplop besar itu.
"Hah, galau, Kapan juga aku galau?"
"Nah yang kemarin itu apa? Dok, saya penasaran deh ... siapa sih mantan suami yang membuat seorang dokter Luna tidak bisa move on."
Luna menyondongkan tubuhnya kedepan, begitu juga dengan mika yang terlihat semakin penasaran, namun jawaban yang di dapatkan Mika hanyalah, "Rahasia," ucap Luna lalu kembali ke posisi bersandarnya.
__ADS_1
"Yah, dokter!"
Melihat wajah cemberut Mika, Luna hanya bisa tertawa kecil seraya menggeleng perlahan.
...***...
"Rian! Cepat kesini." Joni nampak sangat antusias saat melihat layar laptopnya.
Adrian yang baru saja selesai mandi dan bersiap-siap untuk ke lokasi proyek keluar dari kamar untuk menghampiri Joni.
"Kenapa kamu suka sekali berteriak! Ada apa?" tanya Adrian saat berada di hadapan Joni.
"Oh my God, kamu tidak akan percaya ini." Joni mengarahkan layar laptopnya kepada Adrian, "Kamu mendapatkan tawaran untuk merancang bangunan stadion olahraga di Negara A, ini kesempatan langka Rian."
Adrian melangkah duduk di sofa yang sama dengan Joni lalu fokus menatap layar laptop yang tertera email masuk dari seseorang yang menawarkan proyek besar kepadanya.
"This is a crazy project, kita cancel semua proyek yang mengantri dan besok kita berangkat menuju Negara A." Joni terlihat sangat senang sampai menari-nari sendiri.
Berbeda dengan Joni, Adrian nampak murung. Bukan karena tidak senang mendapatkan proyek besar tapi untuk meninggalkan kota ini, hatinya begitu berat walau hanya sejenak. Tapi proyek ini adalah salah satu cita-citanya selama menjadi seorang arsitek, kesempatan seperti ini sangat langka, pilihan yang berat antara mimpi dan cinta, manakah yang akan ia pilih?
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊