
"Kamu pasti sangat sibuk ya?" tanya Hendry saat melihat Luna fokus menatap layar ponselnya sejak tadi.
Luna mengalihkan fokusnya menatap pria yang ada di hadapannya. Ya, mereka sedang menunggu pesanan makanan datang, bukannya mengobrol, ia malah sibuk dengan ponselnya. Ia segera meletakkan ponsel itu ke atas meja.
"Maaf kak, setelah ini ada jadwal operasi dan aku meminta asisten ku untuk menyiapkan ruang operasi," ujar Luna.
Hendry terseyum saat mendengar jawaban Luna, "Aku tidak menyangka kamu bisa seperti sekarang, aku masih ingat betul saat pertama kali bertemu kamu di kampus saat aku mengantar Mishel, waktu itu kamu di marahi dosen."
"Haha, kak Hendry masih ingat ... waktu itu aku payah sekali. Aku sangat takut melihat darah dan saat itu adalah ujian praktek bedah, terimakasih karena waktu itu sudah menyelamatkan aku dari dosen killer," ujar Luna.
"Waktu itu kamu sudah berterimakasih sampai membungkuk berkali-kali, kamu bisa bertahan seperti sekarang karena usaha mu sendiri ... sekarang aku menyesal kenapa dulu tidak memilih jurusan kedokteran," tutur Hendry.
"Kenapa kak Hendry menyesal?" tanya Luna penasaran.
"Andai aku juga seorang dokter, setidaknya kita bisa bertemu setiap hari, makan siang bersama dan melakukan banyak hal bersama," ujar Hendry lalu tersenyum kepada Luna.
Mendengar hal itu Luna hanya diam terpaku. Firasatnya kembali menguat saat ucapan itu seolah mengarah kepada hal di luar batas. Mata mereka saling menatap satu sama lain sampai akhirnya--
"Silahkan, di nikmati."
Ucapan pelayan restoran itu mengalihkan fokus keduanya.
"Ayo makan, sebelum jam makan siang mu selesai, setelah ini aku juga harus kembali ke perusahaan ku."
"Iya kak."
__ADS_1
...***...
Adrian turun dari mobil dan melangkah menghampiri Joni yang sedang bicara dengan kepala proyek.
"Nah ini orangnya, kamu dari mana saja?" tanya Joni saat menyadari kehadiran Adrian.
"Aku ada urusan sebentar," jawab Adrian.
"Kalau begitu saya permisi, saya harus mengontrol para pekerja lagi," ucap kepala proyek itu.
"Iya silahkan," ucap Adrian.
Setelah kepegian kepala proyek, Joni melangkah mendekati Adrian. Ia penasaran kemana saja temannya itu, tiba-tiba saja menghilang tanpa memberitahu dirinya.
"Kamu ada urusan apa sih ... oh jangan-jangan kamu menemui dokter Luna ya?" tanya Joni seraya memicingkan matanya.
"Kenapa? Mereka membatalkan proyek itu?" tanya Joni yang terlihat sangat penasaran.
"Bukan karena itu tapi karena aku menolak proyek itu," jawabnya.
"What! Aku tidak salah dengar kan?"
"Kamu tidak salah dengar, aku menolak proyek itu," tegas Adrian.
"Oh my God, kamu sadar saat melewatkan kesempatan ini, itu proyek besar senilai jutaan dollar, time is money Bro," ujar Joni dengan wajah frustasinya.
__ADS_1
"Ada yang lebih berharga dari uang, kamu tidak akan mengerti karena belum mengalami. Aku akan menambahkan bonus mu tenang saja," ujar Adrian.
Joni tidak akan mengerti karena ia belum pernah jatuh cinta seumur hidupnya, ya kecuali cinta monyet dia pernah. Ia sibuk bekerja bersama Adrian selama beberapa tahun belakangan, hingga tak punya waktu untuk melirik wanita. Wajar jika mereka pernah di gosipkan sebagai pasangan sesama jenis.
"Oke fine, tapi aku mau ingin tahu apa alasan kamu menolak projek besar itu?" tanya Joni.
"Kita tidak akan pergi dari kota ini karena aku menerima satu proyek lagi," ujar Adrian.
"Proyek apa?" tanya Joni.
"Pembangunan gedung baru rumah sakit tempat Luna bekerja," jawab Adrian.
"What! Sudah ku duga lagi lagi karena Luna ... kamu tahu aku tidak bisa mencegah keinginan mu, jadi terserah saja," Joni terlihat kesal, ia melangkah melewati Adrian.
"Hey kau marah!" seru Adrian saat Joni beranjak pergi.
Joni berbalik menatap Adrian, "Jangan lupa kirim bonus yang kamu bilang sekarang ... kita tinjau lokasi besok saja," ucap Joni lalu melanjutkan langkahnya.
Adrian tekekeh sendiri. Ia pikir sahabatnya itu benar-benar marah. Ternyata tidak, ia merasa lega karena Joni setuju untuk menerima proyek itu. Ya, sebesar itu ia berkorban, demi seorang wanita yang tak ingin ia lepaskan lagi.
Cukup sekali ia membuat kesalahan dengan tidak mempertahankan. Kini ia tengah berjuang, untuk mendapatkan hati sang mantan. Mungkin lebih tepatnya memperbaiki kepingan hati yang telah hancur karenanya.
Terkadang takdir memang selucu itu, menyatukan, memisahkan lalu kembali mempertemukan lagi. Karena terkadang seseorang harus rela menerima, agar mengerti apa itu kehilangan.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍