MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.48 (Ulang tahun yayasan part.2)


__ADS_3

...Saat dunia meminta kamu untuk diam agar tidak terbawa arus. Tapi kamu memutuskan untuk terus berjalan dan menghadapi ombak yang sedang melaju dan bersiap untuk menghantam mu. Apa kamu akan tetap sekokoh batu karang?...


Adrian baru saja keluar dari kamar mandi, handuk masih melilit di pinggangnya. Malam ini adalah acara ulang tahun yayasan, ia menatap wajah basahnya di depan cermin lemari pakaian. Keyakinan untuk menghadapi kemungkinan kini tergambar jelas.


Baik cinta atau keluarga, tak akan ada yang ia lepaskan. Cukup sekali ia membuat kesalahan dengan melepaskan salah satunya. Ia membuka lemari dan mengambil setelan jas yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Joni yang sudah rapi dengan setelan jas dan rambut klimis, masuk dan menghampiri Adrian yang sedang berganti pakaian. Entah kenapa, yang akan menghadapi semua adalah Adrian tapi ia yang merasa takut. "Kamu siap?"


"Sebentar lagi." Adrian menoleh kearah Joni seraya mengancing kemejanya. "Apa Mama ku sudah siap?"


"Sudah sejak satu jam yang lalu." Joni menyondongkan tubuhnya. "Apa kamu siap kalau saja Luna bertemu dengan Mama kamu." Joni menghembuskan napas berat saat bukannya jawaban yang ia dapat tapi Adrian malah membuang muka.


"Baiklah aku tunggu kamu di luar." Joni berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu.


...**...


Sementara itu di sebuah butik, Luna dan Jessy sedang menemani Ibu memilih gaun untuk acara malam ini. Karena terlalu sibuk bekerja ia sampai lupa tentang ulang tahun yayasan. Ya, hanya Ibu saja, sementara ia sendiri hanya memakai gaun yang ada di lemari. Meski begitu, Luna tetap nampak anggun, lekuk tubuh yang ideal membuat apapun yang melekat padanya terlihat begitu sempurna.


"Malam ini Adrian datang juga kan?" Jessy menghampiri Luna yang sedang duduk bersandar di sebuah sofa. Ia menoleh kearah Luna yang tak menjawab namun malah termenung. "Lun, kamu dengar aku tidak."


Lamunan Luna seketika buyar. "A-apa ... kamu ngomong apa tadi. pikirannya sedang kacau, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah sang Ibu saat melihat Adrian nanti.

__ADS_1


"Tuh kan, kamu ngelamunin apasih." Jessy menatap Luna dengan serius.


"Aku ...." Luna tak bisa melanjutkan ucapannya, karena sang Ibu yang sedang melihat kearahnya. "Tidak ada sepertinya aku hanya kelelahan."


Jessy mengikuti arah pandangan Luna tertuju. Ia tahu jika ada satu hal yang sedang di pikirkan temanya itu, namun karena sang Ibu memandangi, Luna tak bersuara dan memilih memendamnya.


Luna kembali menyadarkan tubuhnya. Ya, ternyata ia benar-benar tidak siap. Hanya untuk sekedar bercerita tentang Adrian saat berada di satu ruangan yang sama dengan sang Ibu, ia masih takut.


Aku hanya ingin kita bersatu namun aku tak ingin menyakiti perasaan Ibu, batin Luna.


...**...


"Selamat datang Bu, terimakasih sudah hadir." Manika menoleh kearah Luna dan Jessy. "Selamat datang Luna, Jessy lama tidak bertemu, Mishel sudah menceritakan semuanya sama tante kamu yang sabar ya."


"Ah iya Tante." Jessy hanya menjawab singkat lalu tersenyum kepada Ibu sahabatnya itu.


"Mishel mana ya Tante?" tanya Luna.


"Ah itu disana, bersama Hendry."


"Baiklah kalau begitu saya dan Jessy pergi ke--" Luna tak bisa melanjutkan ucapannya karena Manika Hudson tiba-tiba menunjuk kearah pintu utama.

__ADS_1


"Akhirnya datang juga." Manika melangkah melewati Luna. Sontak Luna juga berbalik kebelakang, ia ingin melihat siapa orang yang datang sampai Mama sahabatnya itu begitu antusias.


Lingkar mata Luna membulat seketika. Tak ia sangka semuanya terjadi begitu cepat, kenapa ia harus bertemu sang mantan mertua sekarang. Ia pikir hanya Adrian yang akan datang ternyata ia salah. Kenapa Adrian tidak bilang kalau Mamanya akan datang, batin Luna.


Nampaknya bukan cuma Luna yang kaget, namun Jessy dan Ibu juga demikian. Ibu menoleh kearah Luna yang sedang berdiri di sampingnya. "I-itu bukanya Adrian dan Namanya?"


Luna menoleh perlahan kepada Ibu. Tak ada jawaban, ia hanya menatap sang Ibu dengan tatapan yang susah untuk di artikan.


Dari arah berlawanan, Mama sedang berbincang-bincang dengan Manila Hudson, saat tengah asik bicara tiba-tiba ia melihat seseorang yang begitu tidak asing, sedang berdiri seraya melihat ke arahnya. "Itu ... itu bukannya."


Adrian mengikuti arah telunjuk sang Mama, begitu juga dengan Manika. "Oh itu Luna dan Ibunya."


Mama berharap pengobatannya salah tapi ternyata semua benar nyata. Ia menoleh ke samping menatap sang putra yang kini tengah melihat kearahnya.


"Luna itu adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit kami," sahut Manika lagi.


Adrian hanya diam tanpa suara. Ia memandangi Luna yang kini juga sedang memandangnya. Akhirnya semuanya terjadi juga, siap tidak siap mereka harus menghadapinya.


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2