MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.29 (Mishel mengetahui semuanya)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul lima sore. Adrian dan Joni baru saja sampai di basement apartement. Saat Joni akan turun, ia mengeryitkan keningnya heran karena melihat Adrian yang hanya diam seolah tak ingin beranjak dari tempatnya duduk.


"Tidak turun?"


"Kamu duluan saja, aku masih mau disini," jawab Adrian lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.


Joni akhirnya paham, untuk apa lagi kalau bukan untuk menunggu kedatangan seseorang yang akhir-akhir ini membuat sahabatnya itu menggila, "Ya, baiklah terserah kamu saja. Aku mau mandi."


Joni beranjak turun dari mobil. Adrian melihat jam di tangannya, ia benar-benar tidak sabar untuk bertemu Luna. Hanya dengan cara ini ia bisa bertemu sang mantan, tanpa di hindari.


Tak lama, sesuai dugaan mobil milik Luna memasuki basement apartement. Saat Luna turun dari mobil, ia pun segera menyusul.


"Luna!" seru Adrian dari arah belakang.


Luna berbalik kearah sumber suara. Ia memandangi pria yang saat ini tengah melangkah menghampiri dengan senyum manis yang begitu terpancar dari wajah Adrian.


"Kamu sudah sembuh?"


"Iya, semua ini berkat kamu juga."


"Syukurlah, kalau begitu aku permisi." Luna hendak beranjak pergi, namun lagi-lagi Adrian tak membiarkan hal itu terjadi.


"Apa kamu tetap ingin menghindari ku?"

__ADS_1


Luna menghela nafas panjang kemudian kembali menatap Adrian, "Sepertinya kamu salah paham ... perhatian ku hanya sebatas rasa kemanusiaan saja."


Ekspresi wajah Adrian seketika berubah, "Rasa kemanusiaan?"


"Iya, rasa kemanusiaan." Luna kembali mempertegas kata-katanya, meski semua itu tidak sesuai kata hati namun logika akhirnya mampu menguasai diri kali ini.


Batin Adrian cukup terpukul. Namun ia tidak menyerah meski mulut sang mantan sudah bicara, tapi dari mata jelas terlihat keraguan. Ia tahu Luna hanya belum yakin dan tugasnya adalah meyakinkan dan merebut hati Luna kembali.


"Aku sudah bilang, aku tidak perduli apapun yang kamu katakan, karena aku yakin kamu juga mempunyai perasaan yang sama dengan ku, tapi tolong jawab satu pertanyaan ini ... apa kamu merindukan ku?"


Luna tak bisa menjawab namun dadanya terasa sesak, matanya mulai memanas. Berusaha menekan perasaan sendiri begitu menyakitkan. Ia berusaha mundur perlahan tapi sang mantan malah maju dengan cepat untuk menghadangnya.


Adrian menatap mata Luna dengan lekat, seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang tak terjawab, "Luna, aku selalu merindukan mu."


Tak jauh dari tempat mereka berdiri dari balik tembok besar basement apartement, Mishel sedang berdiri seraya mencengkram erat kedua tangannya. Ya, ia mendengar semuanya. Hatinya hancur dan ia merasa di permainkan.


Awalnya Mishel begitu penasaran di mana tempat Adrian tinggal hingga ia rela mengikuti Adrian pulang. Ia terkejut saat tahu tenyata pria yang ia kagumi itu tinggal di apartemen yang sama dengan sahabatnya Luna.


Keterkejutannya tidak sampai di situ saja. Ia kesal, marah dan kecewa saat mendengar obrolan Adrian dan Luna. Ia pikir Luna menjalin hubungan dengan Adrian di belakangnya. Ia tidak tahu jika sebenarnya hubungan Luna dan Adrian jauh lebih dari itu, dulu. Mishel belum mengetahui fakta bahwa keduanya pernah menjalani hubungan pernikahan di usia muda.


...***...


Pagi hari Luna berangkat lebih awal agar tidak bertemu Adrian. Ia baru sampai di rumah sakit, ia berusaha untuk fokus karena hari ini adalah hari yang sangat penting baginya. Hari ini ia akan memimpin acara amal untuk para penyandang disabilitas di salah satu pusat panti sosial.

__ADS_1


Saat sampai di ruangan. Terlihat Mika dan seorang perawat lain nampak sangat lesu. Luna segera menghampiri keduanya, entah kebetulan atau tidak firasatnya sedang tidak baik kali ini.


"Kenapa kalian tidak bersiap-siap, hari ini kita ada acara amal?" tanya Luna.


"Tidak jadi Dok," ucap Mika.


"Apa! Tidak mungkin ... coba jelaskan apa yang terjadi?" tanya Luna lagi.


"Acaranya di cancel secara tiba-tiba oleh pihak rumah sakit, padahal para penyandang disabilitas disana sangat antusias sekali, saya bahkan sudah survei kemarin mereka mendekorasi ruangan untuk menyambut kita," tutur seorang perawat lainnya.


Luna mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa para petinggi rumah sakit membatalkan acara ini. Ia merasa tidak bisa diam diri begitu saja, harga dirinya sebagai seorang dokter terlukai, saat orang-orang yang membutuhkan pertolongan harus merasa di kecewakan.


"Aku akan menemui direktur rumah sakit sekarang, kalian tunggu disini." Luna hendak beranjak pergi untuk menemui direktur rumah sakit.


"Bukan Direktur yang membatalkan acara ini," ucap Mika tiba-tiba.


Luna yang hendak meraih handel pintu, sontak berbalik melihat Mika.


"Apa maksud mu?" tanya Luna.


"Dokter Mishel yang membatalkan," ujar Mika.


"A-apa." Luna terperangah tak percaya. Ya, Mishel adalah wakil direktur rumah sakit. Sebagai seorang putri yayasan dan pemilik rumah sakit ia bahkan mempunyai wewenang penuh yang tak bisa di bantah oleh direktur sekalipun.

__ADS_1


Bersambung 💓


Juga lupa like komen vote ya readers 🙏😊


__ADS_2