MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.16 (Keinginan Mishel)


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Hudson. Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul untuk sarapan di ruang makan rumah mewah itu. Mishel baru saja muncul dan sang Papa langsung memanggilnya dengan sangat antusias.


"Kemarilah!" panggil Johan Hudson.


Mishel berjalan dengan santai, lalu duduk di samping sang kakak, Hendry.


Johan menyodorkan sebuah majalah bisnis yang sejak tadi di bacanya, "Lihat ini, pria yang akan Papa jodohkan dengan kamu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah seorang arsitek terkenal dan juga seorang pengusaha property."


Mishel yang saat ini sedang mengoleskan selai ke atas roti, menoleh dengan malas. Sungguh ia tidak suka di jodohkan. Namun rasa malas itu berubah jadi antusias, matanya membulat seraya terperanga tak percaya. Tangannya bergerak dengan cepat, meraih majalah itu agar bisa melihatnya dengan lebih jelas.


Adrian Wijaya.


Begitulah nama yang tertera di sampul majalah yang terpampang foto seorang pria yang kemarin mencuri perhatiannya. Ia tidak masih tidak percaya, jika pria yang akan di jodohkan dengannya, adalah pria yang sama dengan yang menolongnya di rumah sakit kemarin.


"I-ini pria yang di acara makan malam waktu itu?" tanya Mishel memastikan.


"Iya, kamu sudah bertemu dia kan? Kenapa bertanya lagi," ujar Mama Mishel.


Ahk, bagaimana aku bisa tahu, yang pergi ke acara makan malam itu Luna, batin Mishel.


"I-iya, aku sedikit lupa wajahnya," ucap Mishel kemudian memakan rotinya.


"Memangnya kamu benar-benar suka dengan pria itu, jika hanya terpaksa lebih baik Mama dan Papa jangan memaksa Mishel," ujar Hendri tiba-tiba.


"Adik kamu itu sudah dua puluh delapan tahun, lagi pula pria itu kurang apa? Bibit bebet bobotnya, semua jelas," ucap Johan dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Mishel tersenyum-senyum sendiri melihat foto yang ada di sampul majalah itu, andai ia menuruti orang tuanya dari awal. Mungkin ia tidak akan melewati malam panas dan kehilangan kesuciannya, akibat perbuatan pria asing yang setelah malam itu menghilang tanpa jejak.


"Aku tidak keberatan," sahut Mishel tiba-tiba, membuat Mama, Papa dan Hendri menoleh kearahnya.


"Nah ini yang Papa mau dari kamu. Tenang saja Papa pastikan dia akan menerima perjodohan ini, haha," ucap Johan seraya menepuk pundak Mishel perlahan.


Hendri memperhatikan adiknya. Entah kenapa ia khawatir pria yang akan di jodohkan dengan Mishel itu tidak setuju dengan perjodohan ini. Karena ia tahu betul karakter adiknya. Saat Mishel sudah menyukai sesuatu ia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.


"Hen, kok bengong?" tanya Mama seraya menepuk pundak Hendri.


"Oh tidak apa-apa Ma," jawabnya.


"Kalau kamu sendiri bagaimana, apa kamu sudah siap untuk menikah lagi?" tanya Johan pada putranya.


"Hendry?" panggil Mama.


"Iya Ma?" sahutnya.


"Menurut kamu ... Luna bagaimana?"


Deg.


Hendri tiba-tiba saja tersentak saat mendengar nama itu. Ia kembali mengingat saat bertemu kembali dengan Luna, "Maksud Mama apa?"


"Hendri, mendiang istri dan anak kamu pasti juga ingin kamu bahagia dan tidak terus terpuruk. Luna anak yang baik dan berprestasi meski dia dari keluarga sederhana, kita juga sudah mengenalnya sejak lama," tutur Johan kepada putranya.

__ADS_1


"Aku setuju jika Kakak bersama Luna," sahut Mishel dengan mulut penuh makanan.


Saat seluruh anggota keluarga sudah bersuara. Hendry masih membisu. Pasca sembuh dari depresi, perlahan ia ingin kembali membuka diri. Jika memang Luna adalah jawabnya, haruskah ia menerima? Namun sebelum itu terjadi, ia ingin mendekati dan menyakinkan diri jika hatinya sudah siap untuk kembali terbuka.


~


Di tempat yang berbeda. Luna menggerutuki diri karena malam tadi terbawa perasaan, hingga meluapkan kesedihannya di hadapan Adrian. Pagi-pagi sekali mantan suaminya itu sudah datang untuk sarapan bersama di unit apartement miliknya.


Saat ini ia hanya duduk di meja makan, seraya memandangi Adrian yang sedang memasak nasi goreng di dapurnya. Ia tahu mantan suaminya itu sedang berusaha, untuk memperbaiki hubungan. Tapi semakin dewasa ia semakin takut di kecewakan, takut semua tak seindah yang di bayangkan dan juga bayang-bayang ucapan Mishel selalu menghantuinya.


Setelah selesai dengan nasi goreng buatannya, ia menghampiri Luna dan duduk dihadapannya, "Ayo dimakan, hari ini kamu harus bekerja kan?"


"Adrian?" panggil Luna.


"Hm, kenapa?" tanyanya balik.


"Hentikan semuanya, jangan bersikap baik seperti ini ... aku tidak ingin goyah, aku bukan luna yang dulu. Aku sekarang adalah wanita yang gila ambisi dan antuasias terhadap profesi, banyak mimpi yang ingin aku kejar, semua yang kamu lakukan sekarang hanya akan sia-sia," tutur Luna dengan nada suara lemahnya.


Adrian terpaku sesaat. Meski mulut Luna sudah menjelaskan semuanya, namun hati Adrian tetap yakin cinta itu masih ada, "Yang aku lakukan sekarang bukan karena aku ingin memaksa kamu memulai ... aku hanya ingin berada di dekat mu seperti ini, kamu tidak perlu menjawab dan menanggapi perasaan ku sekarang, tapi jangan pernah membatasi ku untuk bertemu kamu."


Luna menghela nafas panjang, ia tak bisa mengatakan hal apapun lagi. Dimatanya Adrian yang sekarang sudah lebih dewasa dibandingkan dulu, namun setelah sembilan tahun, dinding yang membatasi mereka masih sama, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya.


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏

__ADS_1


__ADS_2