
Di sebuah restaurant tak jauh dari kantor perusahaan Hendry. Luna dan Hendry sedang duduk bersama seraya menikmati makan siang. Luna tersenyum saat pria yang duduk dalam hadapannya sekarang terlihat begitu senang.
Begitu juga dengan Hendry, ia tidak menyangka Luna akan menghampirinya sampai ke perusahaan. Ia pikir ini adalah kesempatan agar bisa lebih dekat dengan Luna. "Terimakasih karena sudah mengajakku makan siang, bagaimana kamu bisa mengetahui tempat ini?"
Luna menghentikan makannya, kemudian menatap Hendry yang duduk di hadapannya, "Dulu sekali, sewaktu aku baru saja mengenal keluarga Hudson ... mendiang istri kakak pernah mengajakku kemari, dia bilang ini adalah restaurant favorit kalian."
Hendry diam tertegun sesaat. Ternyata semua masih sama, saat Luna membahas tentang mendiang istrinya, ia masih merasakan perasaan itu. Rasa kehilangan yang teramat sangat. "Oh begitu ... dia memang selalu baik kepada siapapun." Hendry terseyum kepada Luna kemudian kembali fokus ke makanannya.
Luna bisa merasakan kalau kakak dari sahabatnya itu belum benar-benar melupakan sang mantan istri yang telah pergi untuk selamanya. Perpisahan yang di alami Hendry dan istri tentu saja berbeda dirinya dan Adrian. Ia mengerti saat ini Hendry ingin bangkit dan membutuhkan seseorang di sampingnya, tapi apa harus dirinya?
"Kenapa melihat ku seperti itu, aku sudah baik-baik saja. Mereka sudah bahagia di surga, sekarang aku hanya perlu melanjutkan hidup bukan?" Hendry kembali tersenyum kepada Luna, seolah berusaha menutupi kesedihannya. "Oh iya, waktu di lokasi proyek rumah sakit, Adrian terlihat kesal saat aku memegang tanganmu ... apa kalian punya hubungan?"
__ADS_1
Luna kembali tertegun, ia meraih gelas berisi air mineral lalu meneguknya hingga habis. Tadinya ia tidak punya nyali untuk bicara, tetapi Hendry tiba-tiba saja membahas hal itu, ia pikir ini waktunya untuk bicara. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan dengan kakak."
"Apa itu katakanlah." Hendry yang sudah selesai dengan makanannya, menatap Luna dengan serius.
"Sembilan tahun yang lalu, saat aku tamat SMA aku pernah menikah dengan seorang pria." Luna menghentikan ucapannya saat melihat ekspresi kaget dari Hendry.
"Jadi kamu pernah menikah muda?" Tanya Hendry yang terlihat semakin penasaran.
"Ya begitulah ... tapi pernikahan itu hanya bertahan kurang lebih tiga bulan saja. Aku sadar waktu itu baik aku ataupun dia masih sangat muda, kami belum siap untuk berumah tangga, di tambah lagi ada masalah antar keluarga yang tidak bisa di hindari Akhirnya kami memilih berpisah. Aku melanjutkan kuliah dan dia pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya juga. Sembilan tahun berlalu, aku tidak menyangka setelah sembilan tahun kami bertemu lagi."
Perlahan kepala Luna mengangguk. "Iya kak, dia adalah mantan suamiku." Akhirnya kata itu terucap juga, satu lagi perasaan lega kini di rasakan oleh Luna. Tak ingin memberi harapan palsu yang semakin menyakitkan, ia yakin ini adalah keputusan yang tepat.
__ADS_1
Hendry menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pantas saja tatapan mata Adrian saat itu begitu tajam padanya. "Apa kamu dan dia masih saling mencintai?" Meski berat, Hendry tetap ingin bertanya mengenai hal itu.
Luna terdiam sesaat. Entah kenapa begitu berat untuk mengatakan semuanya kepada Hendry, apalagi saat mendengar pernyataan Mishel bahwa Hendry menyukainya. Ia merasa tidak enak, apalagi Hendry begitu baik padanya. "Iya kami memutuskan untuk memulai semuanya dari awal."
Ucapan Luna bagaikan anak panah yang menacap langsung ke hatinya. Niat untuk memulai kehidupan baru dengan orang yang baru, kini pupus sudah. Percobaannya untuk keluar dari bayang-bayang masalalu telah gagal. "Apa Mishel sudah mengetahui tentang hal ini?"
"Iya dia sudah tau. Awalnya dia marah tapi akhirnya dia mengerti ... aku pikir sebaiknya aku menceritakan semuanya kepada kak Hendry juga." Luna menundukkan pandangannya, melanjutkan makan yang sejak tadi tidak selesai.
Hendry meraih gelas berisi air dan langsung meneguknya hingga habis. Ia cukup kaget saat mendengar pernyataan Luna. Ia bingung harus mengatakan apa, yang jelas kesempatan itu tertutup sudah, ia bukanlah pria yang suka memaksakan kehendak kepada sesuatu yang tak mungkin untuknya.
Hendry kembali menatap Luna dengan wajah sendunya. "Mungkin ini sudah terlambat, tapi aku menyukai mu sejak pertama kali kita bertemu. Jangan jadikan ini beban, aku hanya ingin mengungkapkan semuanya, agar hati ku merasa lega ... Luna, kamu berhak bahagia dengan siapapun orang yang kamu pilih."
__ADS_1
Mata Luna terlihat berkaca-kaca, ia tak menyangka Hendry akan menanggapi semuanya dengan baik. Ia berusaha tersenyum meski rasa tidak enak hati masih mendominasi. "Maaf dan terimakasih karena sudah bisa mengerti."
Jangan lupa like komen vote n hadiahnya readers 🙏😊