MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.38 (Aku pria normal)


__ADS_3

Joni melihat kembali melihat jam di tangannya dengan cemas. Saat ini ia sedang menunggu kedatangan Mishel di basement apartement. Ia tidak ingin mengembalikan, syal milik Mishel yang tertinggal di apartement.


Tak lama mobil mewah milik Mishel memasuki area basement. Joni Joni keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri Mishel yang sudah memarkirkan mobilnya.


"Sebenarnya ada apa lagi kamu mengajak aku bertemu?" tanya Mishel saat Joni sudah berada di hadapannya.


Joni mengulurkan tangannya yang sedang memegang syal kehadapan Mishel. "Kemarin pihak dari hotel menemukan ini di kamar tempat kita menginap malam itu."


Mishel hanya menatap syal itu sebentar kemudian kembali menatap Joni yang sedang berdiri di hadapannya, "Ambil saja, bukanya warna pink polkadot seperti ini sangat cocok untuk mu.


Joni mengeryitkan keningnya heran. Ia tidak mengerti apa arti dari senyum yang Mishel pancaran saat ini. "Apa maksudmu, ini adalah syal wanita.


"Aku tahu sebenarnya kamu itu punya kelainan." Mishel melangkah lebih dekat dengan Joni. "Kamu itu gay kan?"


Joni membulatkan kedua matanya. Harga dirinya sebagai seorang pria sejati jatuh begitu saja di hadapan wanita yang baru saja ia kenal. "Jadi itu maksud kamu ingin memberikan aku syal ini? ... Dengar ya, aku masih normal."


"Tidak mungkin, sewaktu di hotel kamu bahkan tidak melakukan hal yang macam-macam padaku, itu berarti kamu tidak normal." Mishel menatap Joni seraya berpangku tangan.

__ADS_1


Joni berdecak kesal saat mendengar hal itu, ia melangkah semakin dekat dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Mishel, "Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku laki-laki sejati, apa aku harus meniduri mu, seperti pria asing yang merenggut kehormatan mu itu ... sayangnya aku bukan pria brensek seperti itu."


Deg...deg...deg.


Detak jantung Mishel kembali tak beraturan. Saat tak ada jarak antara mereka, tubuh yang menempel hingga ia bisa mencium bau maskulin dari tubuh pria yang membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku.


Setelah beberapa saat Joni melepaskan tangannya dari pinggang Mishel, ia meraih tangan Mishel dan meletakkan syal itu lalu berbalik pergi. Mobil yang di kendarai Joni bergerak dengan cepat meninggalkan basement.


Tinggallah Mishel yang masih terdiam di posisinya seraya memandangi kepegian Joni. "Apa itu tadi ... jadi dia pria normal." Mishel menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Apa yang sudah aku lakukan, sepertinya dia sangat marah."


...**...


Joni menghela napas berat kemudian menoleh kearah Adrian yang sedang duduk di sofa yang ada di depannya, "Wanita itu benar-benar sudah gila." Joni kembali menatap langit-langit ruangan dengan mulut yang tak henti-hentinya mengumpat kesal.


Adrian sudah bisa menebak wanita yang di maksud Joni adalah Mishel. "Dia kenapa lagi?"


"Aku bermaksud mengembalikan syalnya tapi kamu tau apa yang dia bilang ... dia mengira aku ini gay, aku tidak habis pikir, kenapa ada wanita menyebalkan seperti itu di dunia ini."

__ADS_1


"Jangan terlalu kesal, nanti kamu malah suka. Lagi pula ini bukan pertama kalinya kamu di sangka gay karena tidak punya pacar kan, jadi kenapa kamu marah padanya." Adrian kembali fokus ke layar laptopnya. Sementara Joni hanya terdiam seraya merenungi ucapan Adrian.


Iya juga, kenapa aku begitu marah karena dia mengatakan hal yang sudah biasa dikatakan oleh orang lain, batin Joni.


...**...


Menjelang sore. Luna sudah sampai di bandara. Ia hanya datang sendiri karena saat ia ingin mengajak Mishel, temannya itu sedang berada di ruang operasi, ya walaupun hubungan hubungannya dan Mishel sedang tidak baik.


Saat sampai di depan pintu kedatangan ia menghela napas panjang karena sepertinya ia datang terlambat karena temanya itu sudah datang dan sedang duduk di kursi tunggu Bandara. Dengan gerakan cepat ia menghampiri Jessy.


"Hy Jes, maaf telat." Luna langsung memeluk dan mencium kedua sisi pipi Jessy.


"Tidak lama kok. The plane just took off." Jessy menoleh ke kanan kiri seperti sedang mencari keberadaan seseorang. "Mishel mana?"


"Oh itu ... dia sedang ada operasi jadi tidak bisa ikut menjemput kamu." Luna meraih koper yang ada di samping Jessy. "Ayo, kamu sudah janji akan menceritakan masalah kepulangan kamu."


"Ya, of course ... kita cari tempat yang nyaman untuk bicara." Mishel dan Luna melangkah beriringan menuju pintu keluar Bandara. Kedua teman dekat itu terlihat sangat senang karena akhirnya kembali bisa bertemu, meski dalam formasi yang tidak lengkap.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2