MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.52 (Ancaman)


__ADS_3

Luna di temani Mika melangkah masuk kedalam. Ia mendekati mantan mertuanya itu seraya mengulurkan tangan. "Apa kabar Om, lama tidak bertemu." Meski luka masa lalu sempat menyapa saat ia melihat Papa, Luna tetap berusaha tegar dan menyapa meski ia ragu akan di tanggapi atau tidak.


Papa berdiri dari duduknya, perlahan tangannya mulia bergerak, maraih uluran tangan mantan menantunya itu. Ia masih saja terpana, bagaimana bisa setelah sembilan tahun, Luna yang ia kenal kini telah berubah menjadi seorang dokter. "Kamu benar-benar Luna?"


"Ya iyalah Pa, siapa lagi." Adrian yang tadi berdiri di belakang Papa kini maju kedepan untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Papa. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Luna, entah mengapa ia merasa Papanya akan lebih gampang di luluhkan ketimbang sang Mama.


"Iya Om ini saya, Luna. Senang bisa berjumpa dengan Om lagi." Luna melepaskan jabatan tangan itu. Ia melangkah menuju ranjang rumah sakit di mana Mama masih terbaring lemah.


Menyadari kedatangan Luna, Mama mulai membuka mata. Ia tak menolak saat mantan menantunya itu memeriksanya. Namun ia juga belum bisa berbicara apapun, mata Mama berkaca-kaca saat melihat Luna tersenyum kepadanya.


Kenangan buruk di masalalu seolah kembali berputar, tentang apa saja hal buruk yang Mama lakukan dulu. Ia merasa malu, akhirnya memutuskan untuk menutup matanya, meski ia sama sekali tidak ingin tidur.


"Bagaimana keadaan Mama ku?" tanya Adrian yang melangkah mendekat.


"Cukup baik, beliau hanya perlu beristirahat agar pemulihannya lebih cepat," jawab Luna.


"Syukurlah, terimakasih sudah datang," gumam Adrian.


"Dok kita harus ke kamar pasien berikutnya, sebelum operasi siang ini di mulai," sahut Mikha pelan.


"Oh iya," Luna berbalik melihat kearah Papa yang masih diam mematung di tempatnya. "Kalau begitu saya permisi dulu om, permisi." Ia kembali ke posisinya, terseyum ke Adrian sebentar kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Luna, Papa melangkah mendekati Adrian. "Sekarang dia jadi dokter? Papa sampai tidak mengenali ... tapi kenapa sekarang dia memanggil Papa, Om. Apa dia sudah tidak menganggap Papa orang tuanya."


Adrian berusaha menahan senyumnya. Ia merasa harapan itu masih terbuka lebar. Ia salah karena sempat ragu akan restu dari sang Papa. "Lalu bagaimana, apa Papa akan setuju dengan hubungan kami?"


Papa menghela napas panjang seraya memandangi Mama yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. "Kamu tahu bagaimana konflik yang terjadi di masalalu. Di luar perceraian kamu, hubungan antar keluarga juga tidak baik, Papa belum bisa memberi jawaban apapun sekarang."

__ADS_1


"Baiklah Pa, tapi aku tetap berharap restu dari Mama dan Papa, karena aku hanya akan mencintai Luna saja tidak wanita yang lain."


Papa menoleh ke samping, ia hanya diam seraya menatap Adrian. Ia tak tahu bagaimana bisa cinta itu datang lagi kepada putranya setelah sembilan tahun, yang jelas ia bisa melihat keinginan yang begitu kuat dari diri Adrian.


...**...


Di tempat lain, Joni yang hendak berangkat kembali ke rumah sakit. Namun tiba-tiba saja ada nomor baru yang menelponnya dan orang yang menelpon ternyata adalah Papa Mishel, Johan Hudson.


Johan Hudson meminta Joni untuk menemuinya di salah satu restaurant. Jangan tanya bagaimana kondisi Joni selama perjalanan ke sana. Kaki dan tangannya mulai berkeringat dingin. Apalagi Johan melarang Joni untuk memberitahu Mishel tentang pertemuan mereka.


~


Tak butuh waktu lama, akhirnya Joni sampai di depan restaurant itu. Ia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, ia melakukan hal itu berkali-kali, sampai akhirnya keluar dari dalam mobil.


Joni melangkah dengan lemas masuk kedalam restaurant. Sesampainya di dalam, ia bisa melihat Johan sedang duduk di salah satu kursi yang dekat dengan jendela. Lagi-lagi kakinya terasa bergetar hebat. "Kamu pasti bisa Jon, ayo."


"Duduklah," ucap Johan singkat.


Joni mengikuti instruksi Johan. Ia duduk dan kembali mencoba menenangkan diri. Ternyata Papa Misehel itu lebih menyeramkan saat di lihat dari dekat, pikir Joni.


Johan yang tadi terus menatap keluar jendela, kini mulai beralih ke Joni. "Saya akan bicara langsung ke intinya. Apakah kamu benar-benar menjalin hubungan dengan putri saya?"


Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya Joni. "I-iya Om, kami baru saja memulainya tapi saya serius dengan Mishel."


Ahk kenapa aku bilang serius, seharusnya aku jawab iya saja, batin Joni.


"Apa kamu benar-benar mencintai dan menginginkan putri saya menjadi istri kamu?"

__ADS_1


"Apa! ... Eh maksud saya, tentu saja Om, kami serius dalam hubungan ini."


Tuh kan seharusnya aku tadi tidak bilang serius, batin Joni.


"Apa pekerjaan kamu? Apa kamu masih mempunyai keluarga, dan apa pekerjaan orang tua kamu." Johan terlihat serius saat akan memastikan bibit bebet bobot calon menantunya.


"Saya seorang arsitek, saat ini saya ikut bekerja dengan Adrian karena saya ingin hidup mandiri. Kedua orang tua saya adalah seorang pengusaha di bidang pangan di salah satu kota di Melbourne Australia, saat ini saya masih merintis karir saya tanpa bantuan dari orang tua Om."


Johan nampak mengangguk perlahan, ia kembali bersandar ke posisinya. "Baiklah, saya akan terus memantau kamu, kalau kamu sampai mempermainkan anak saya dan menyakitinya, kamu akan habis di tangan saya."


Glek.


Joni menelan salivanya berkali-kali saat mendengar ancaman Johan. Ia mulai khwatir bagaimana jika orang tua Mishel mengetahui jika semuanya hanya sandiwara, akan kah ia benar-benar berakhir tragis di tangan Johan?


~


Sementara itu di sebuah ruangan. Tangan Mishel tiba-tiba saja bergetar saat membaca satu pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Ini tidak mungkin kan? Ini pasti orang salah kirim ... tapi bagaimana ini benar-benar orang itu, batin Mishel.


Mishel bergerak cepat membuka laci meja kerjanya. Ia meraih botol kecil berisi obat penenang dan langsung menelan satu butir obat itu. Ya, sejak kejadian ia di perkosa oleh teman kencannya ia mulai mengkonsumsi obat penenang untuk mengatasi ketakutannya.


Hari ini ketakutan itu kembali ia rasakan saat satu pesan bernada ancaman baru saja masuk ke ponselnya. Walau berusaha menepis semua pikiran buruknya, tapi ia yakin pria sialan itulah yang mengirimkan pesan kepadanya. Ia mulia merasakan ketakutan itu lagi untuk kesekian kalinya.


[Apa kabar cantik, aku baru saja pulang ke kota ini. Aku membutuhkan sedikit uang dari mu dan aku mau kamu mengantarkannya ke restoran x, aku tunggu kamu di sana malam ini, jangan sampai kamu tidak datang, karena aku mempunyai beberapa bukti percintaan kita yang kapan saja bisa aku sebarkan.] Isi pesan pria itu.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote+hadiahnya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2