
Hendri berdiri di depan pintu kamar Mishel dengan nampan berisi makanan di tangannya. Namun sejak tadi sang adik tak juga membuka pintu. "Apa yang harus aku lakukan,apa aku hubungi Luna atau Jessy ... sebaiknya Jessy saja.
"Mishel belum membuka pintu kamarnya juga?" tanya Mama yang tiba-tiba saja datang.
"Belum Ma, tadi dia hanya berteriak dari dalam, katanya dia tidak mau makan," ucap Hendry.
"Sebenarnya itu anak kenapa sih, coba kamu panggil temanya tapi sebaik jangan panggil Luna, karena Mama masih kesal dengannya," ujar Mama.
"Jangan seperti itu Ma, Mishel sendiri punya pacar sekarang," ujar Hendri.
"Memangnya kamu tidak kesal? Kamu kan suka sama Luna," tanya Mama dengan raut wajah curiganya.
"Sejak awal Luna tak memberikan harapan apapun padaku Ma, dia juga sudah jujur tentang hubungan ia dan Adrian sebelum pesta malam itu. Aku memang menyukainya tapi bukan berarti harus memiliki bukan," ujar Hendry yang tetap berusaha tersenyum.
"Ah kamu ini, pokoknya jangan hubungi dia dulu. Nah panggil jessy saja," ujar Mama.
"Ya sudah Mama pegang ini dulu, aku hubungi Jessy sebentar, siapa tau saja Jessy bisa membujuk Mishel," ucap Hendry lalu mencoba menghubungi Jessy.
[Ya, Hallo kak ada apa ya?]
"Hallo Jes, kamu bisa ke rumah sebentar tidak?"
[Bisa kak, memangnya ada apa ya?]
"Kakak juga bingung, tapi sejak sore kemarin, Mishel tidak mau keluar dari kamar. Aku minta tolong kamu kesini sebentar, siapa tahu saja dia mau mendengarkan kamu," jelas Hendry.
[Oke kak, sebentar lagi aku kesana.]
"Oke, terimakasih sebelumnya," ujar Hendry lalu mematikan panggilan telepon itu.
"Bagaimana, Jessy bisa kesini?" tanya Mama.
__ADS_1
"Iya Ma, sebentar lagi dia kesini," jawab Hendry.
"Syukurlah, kalau gitu Mama bawa makanan ini lagi ke dapur ya," ucap Mama.
"Iya Ma."
...**...
Di kursi tunggu Bandara. Ibu dan Luna sedang duduk seraya menunggu jadwal keberangkatan Ibu. Luna heran kenapa sejak tadi Ibu tidak menjelaskan apa yang di bicarakan bersama kedua orang tua Adrian di rumah sakit tadi.
Luna mencoba untuk bertanya meskipun ia sedikit ragu. "Bu, belum mau cerita?"
Ibu menoleh kesamping, melihat sang putri yang sedang menunggu jawaban darinya. "Cerita apa?"
"Cerita tentang hal yang Ibu bicarakan bersama kedua orang tua Adrian di rumah sakit tadi," ujar Luna yang terlihat semakin penasaran.
"Kamu mau Ibu bilang apa?" Ibu terkekeh saat melihat ekspresi wajah Luna.
"Ah Ibu ... ceritaku semuanya dari awal sampai akhir, aku ingin tahu jelas agar tidak merasa di gantung," ujar Luna.
Luna merangkul Ibu dan menepuk pelan pundaknya. "Syukurlah Bu, Bapak juga pasti sudah memaafkan kesalahan mereka."
"Iya itu pasti sudah pasti. Mulai sekarang berjalan lah seperti keinginan kalian, belajarlah lebih dewasa dalam menghadapi masalah, saling mendukung karier masing-masing dan jika kalian memang serius ... menikah lah, jalani biduk rumah tangga yang sesungguhnya."
Mata Luna mulai berkaca-kaca. Ia terharu saat mendengar ucapan Ibu. Hal yang beberapa saat yang lalu masih terasa mustahil kini menjadi kenyataan. Restu itu akhirnya berpihak kepada mereka. "Terimakasih Bu." Luna memeluk Ibu dan mulai menangis tersedu-sedu.
Begitu juga dengan Ibu. Keputusan untuk kembali merestui tidak lah mudah namun ia percaya, di usia Luna dan Adrian saat ini, mereka pasti sudah lebih dari siap untuk membangun rumah tangga yang sebenarnya.
~
Akhirnya jadwal penerbangan tiba juga. Luna mengantar Ibu sampai kedepan pintu keberangkatan. Sebelum masuk Ibu kembali menoleh kepada Luna. "Jika kamu dan Adrian sedang libur, pulang dan kunjungilah makam Bapak, kamu sudah lama tidak pulang kan."
__ADS_1
"Iya bu pasti, Luna dan Adrian pasti pulang untuk menguji makam bapak," ujar Luna yang kembali menangis.
"Sudah jangan sedih lagi, setelah dari sini kamu harus ke rumah sakit lagi kan? Masa matanya sembab, kan tidak enak di lihat," ujar Ibu seray terseyum kepada Luna.
"Iya Bu, Ibu hati-hati ya di sana," ucap Luna lalu tersenyum kepada Luna.
Ibu melambaikan tangan sebelum masuk. Akhirnya restu itu ia dapatkan juga. Kini tinggallah mereka yang menjalaninya dengan bagaimana. Kisah yang tak sampai di masalalu sekarang mulai tersambung kembali dan ia harap, akan lebih bahagia, lebih bertanggung jawab dan lebih saling mengerti.
...**...
Setelah satu jam menunggu, akhirnya Jessy datang juga. Hendry melambaikan tangan saat melihat kedatangan Jessy. Ya, sejak tadi Hendry menunggu di teras seraya mengerjakan perkejaaan kantor yang ia bawa kerumah.
"Selamat siang Kak, gimana keadaan Mishel?" tanya Jessy saat sudah sampai ke hadapan Hendry.
"Dia belum juga mau keluar, sepertinya dia punya masalah yang tidak bisa di ceritakan pada kami, tapi mungkin saja dia mau cerita sama kamu," ujar Hendry.
"Aku coba dulu ya kak," ujar Jessy.
"Terimakasih ya Jes, oh iya Mishel bilang kamu baru saja bercerai dengan suami kamu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Hendry tiba-tiba.
"Oh itu ... iya kak, sudah lebih dari empat bulan yang lalu tapi aku baru pulang ke sini setelah liburan dan menenangkan diri, sekarang aku sudah lebih baik karena Mishel dan Luna selalu ada untuk menghibur ku, " jawab Jessy.
"Syukurlah, dulu aku juga seperti itu saat istri dan anak ku meninggal, tapi sepertinya aku lebih parah karena sempat depresi dan masuk rumah sakit jiwa, seberat apapun masalahnya kamu harus bangkit dan memulai hidup," ujar hendry.
"Hehe, iya kak aku tahu kakak orang yang setia. Andai suami ku juga seperti itu ... rasanya lega karena kembali bisa mendengar kata-kata motivasi dari kak Hendry, terimakasih," ucap Jessy lalu tersenyum kepada Hendry.
"Iya sama-sama," ucapanya seraya membalas senyum Jessy.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya kak," ujar Jessy.
"Iya silahkan." Hendry memandangi kepergian Jessy sampai menghilang dari pandangannya. Melihat diri Jessy yang sekarang, ia seperti melihat dirinya yang dulu saat pertama kali kehilangan, ya meski kehilangan mereka berbeda.
__ADS_1
Sebuah pernikahan tidak akan bertahan karena dua faktor, yaitu faktor perilaku orang itu sendiri misalnya orang yang tidak setia, tidak bertanggung jawab atau mempermainkan arti pernikahan dan juga faktor takdir yang mau tidak mau memisahkan dua orang yang saling mencintai,. misalnya saja kematian. Hal inilah yang saat ini sedang di alami Hendry dan Jessy.
Bersambung 💓