MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai

MANTAN: Kisah Yang Tak Sampai
Bab.7 (Pemeran pengganti)


__ADS_3

"Aku akan mengganti biaya perbaikannya," ucap Luna seraya mengulurkan sebuah kartu nama kepada Adrian.


Adrian kembali menyunggingkan senyumnya saat merasa sikap Luna yang benar-benar telah berubah. Sepertinya Luna menginginkan mereka menjadi orang yang tak pernah saling mengenal. Tak ada tatapan penuh cinta, yang dulu selalu terpancar, sikapnya begitu dingin. Meski tak bisa ia pungkiri pesona Luna begitu luar biasa.


Adrian mulai menggerakkan tangannya untuk meraih kartu nama itu, "Baiklah, aku harap kamu tidak akan lari dari tanggung jawab."


"Aku orang yang menepati janji ... hanya saja orang lain yang sering mengingkari janjinya kepada ku, permisi." Luna melangkah melewati Adrian.


Mobil yang di kemudikan Luna mulai bergerak meninggalkan basement. Adrian masih di sana, memandangi kepegian Luna sampai menghilang dari pandangan. Sejenak Ia menatap kartu nama yang bertuliskan nama dan gelar sang mantan.


"Tuan kenal Dokter Luna?" tanya petugas keamanan yang hanya diam sejak tadi.


"Tadinya iya, tapi sepertinya dia tidak mengenal saya, mungkin saya salah orang." Adrian terseyum kepada petugas keamanan itu lalu melangkah pergi.


...***...


Luna terlihat sangat serius menatap layar laptopnya. Setelah jadwal konsultasi selesai, ia masih saja sibuk mempelajari beberapa diagnosa dari pasien-pasiennya, sebelum memutuskan tindakan operasi.


"Dok, saya izin keluar sebentar ya," pinta Mika yang saat ini berdiri di depan meja kerja atasannya itu.


Luna mengalihkan fokusnya, mendongakan kepala melihat Mika, "Iya pergilah, tapi kamu sudah harus kembali sebelum jadwal operasi sore ini."


"Baik Dok, permisi." Mika meraih tas dan jaketnya lalu melangkah keluar.


Tak lama pintu kembali terbuka. Luna melihat kearah pintu, ia langsung tersenyum saat tahu orang yang datang adalah Mishel.


"Tumben sekali kamu kesini ... pasti ada maunya," ucap Luna.


Mishel melangkah dengan cepat duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Luna, "Kamu memang yang paling mengerti aku."


"Cepat katakan, kamu mau apa?" tanya Luna yang kembali fokus ke layar laptopnya.


"Malam ini, Papa ku mengantur makan malam untuk aku dan seseorang, kamu tahu kan aku tidak suka acara seperti itu," ujar Mishel.


Luna menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian kembali menatap Mishel, "Lalu apa yang kamu mau dari ku?"


"Tolong gantikan aku ke acara makan malam itu ya. Kamu hanya perlu pura-pura menjadi aku, selebihnya akan ku urus," ucap Mishel dengan wajah memelas.

__ADS_1


Luna sangat hafal gerak gerik Mishel, ia bisa tahu pasti ada udang di balik batu, "Katakan pada ku malam ini kamu pasti ada acara lain kan?"


Mishel terseyum lebar saat mendengar pertanyaan Luna, "Kamu tahu saja ... malam ini aku ada janji dengan seorang pria."


Luna kembali menghela nafas berat. Entah bagaimana cara ia menjelaskan. Tapi setelah sembilan tahun mengenal Mishel, sahabatnya itu selalu saja salah memilih pria. Sudah sangat sering Mishel di tipu dan hampir celaka. Lalu kali ini apa lagi?


"Siapa lagi laki-laki itu ... Anggota geng motor atau DJ di club malam? Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ujar Luna.


Perlahan Mishel menggelengkan kepalanya, "Tidak keduanya, kali ini aku yakin dia laki-laki baik," ucapnya kemudian meraih tangan Luna, "Please, tolong aku kali ini saja ... kamu hanya perlu datang, makan lalu pulang. Setelah itu aku akan bilang ke papa kalau aku tidak menyukai pria yang ada di acara makan malam itu."


Luna terdiam sejenak. Ia mencoba berpikir, bagaimana cara ia untuk menolak permintaan Mishel. Namun sekeras apapun ia mencoba, tak ada celah untuk menolak. Selain karena ia sudah menganggap Mishel sebagai saudara, ia juga sudah banyak berhutang budi kepada Mishel dan keluarga.


"Baiklah aku akan datang."


Sontak Mishel langsung berdiri dari duduknya, melangkah medekati Luna dan langsung memeluknya, "Terimakasih ya kamu memang sahabat ku yang paling baik."


...**...


Di depan meja riasnya. Luna sedang duduk seraya memoles wajah dengan sentuhan make up. Dres sebatas lutut berwarna rose gold yang membalut tubuhnya membuat ia semakin nampak elegan.


Setidaknya malam ini ia harus memainkan perannya dengan sempurna. Berpenampilan layaknya anak bangsawan adalah salah satu syarat mutlak. Setelah selesai bersiap-siap, ia beranjak meninggalkan unit apartment mewah miliknya.


Di sebuah restaurant dengan tema American clasik. Luna melangkah masuk, seorang pelayan restoran menghapirinya. Pelayan itu membungkuk hormat kepada Luna sebelum akhirnya bertanya.


"Selamat datang Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya Mishel Hudson, saya ada janji makan malam disini."


"Nona Mishel, silahkan ikut saya."


Luna kembali melanjutkan langkahnya. Mengikuti pelayan restaurant itu. Setelah beberapa saat akhirnya ia sampai di depan pintu ruangan VVIP tempat itu. Wajar saja karena ini adalah pertemuan antara anak dari keluarga terpandang. Kadang Luna iri dengan hidup Mishel yang begitu sempurna.


"Silahkan masuk Nona."


"Iya terimakasih."


Luna meraih handel pintu, kemudian mulai membuka pintu besar nan tinggi itu, ia melangkah masuk. Di dalam sana seorang pria dengan setelan formal tengah duduk memunggunginya.

__ADS_1


Klatak...klatak.


Suara sepatu high heels yang bergerak semakin dekat membuat pria itu berdiri dari posisinya. Pria itu berbalik untuk melihat wanita yang ia tunggu sejak tadi.


Deg.


"Kamu!" ucap Luna dan pria itu secara bersamaan.


Pria itu adalah Adrian. Mereka sama-sama kaget sekaligus bingung. Adrian melangkah medekati Luna.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Luna.


Adrian menghembuskan nafas panjang seraya berkacak pinggang. Ini semua adalah permintaan kedua orangtuanya yang tiba-tiba meminta ia untuk bertemu dengan anak teman mereka yang ternyata tinggal di kota tempat Adrian bekerja. Namun yang membuat ia bingung, kenapa yang datang adalah Luna.


Flashback on.


[Pokoknya Mama mau kamu menemuinya, apa salahnya hanya berkenalan saja. Kalau kamu tidak mau, Mama dan Papa akan menyusul kamu kesana!]


Adrian terdiam sesaat. Walau ia kabur ke ujung dunia sekalipun, Mama tetap saja berusaha untuk mencari calon istri untuknya. Entahlah, ia benar-benar belum siap untuk membuka hati, apalagi semenjak kembali bertemu Luna. Ia seolah kembali ke masa-masa pertemuan pertamanya dengan Luna.


[Rian! Kamu dengar Mama tidak?]


"Iya Ma ... baiklah aku akan datang, tapi aku hanya akan menemuinya bukan berarti aku setuju untuk di jodohkan, karena sampai kapanpun jika aku belum siap, maka aku tidak akan menikah."


Pangilan telepon itu di akhiri oke Adrian. Ia memukul tembok kamarnya beberapa kali karena merasa kesal.


Flashback off.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, untuk apa kamu kemari?"


Luna terlihat kebingungan dan salah tingkah saat mendengar pertanyaan Adrian. Ia sudah ketahuan, tidak ada gunanya untuk mencari alasan. Tatapan mata Adrian tak pernah lepas darinya. Penampilan Luna malam ini membuat Adrian terpana, cantik sekali, batinnya. Namun itu hanya sebatas ungkapan dalam hati yang tak bisa tersampaikan.


Luna menghela nafas sejenak kemudian memberanikan diri untuk melihat Adrian, "Baiklah ... aku kemari karena permintaan teman ku yang tidak mau di jodohkan dengan pria pilihan orangtuanya, aku tidak menyangka jika ternyata orang itu adalah kamu. Karena aku sudah ketahuan, jadi lebih baik aku pergi, permisi."


Luna hendak berbalik menuju pintu keluar. Namun dengan cepat Adrian menarik tangan Luna agar kembali ke posisinya, "Selesaikan tugas mu sebagai pemeran pengganti atau aku akan mengatakan kebenarannya kepada kedua orang tua teman mu itu."


Luna hanya terdiam seraya menatap Adrian penuh rasa kesal. Ucapan mantan suaminya itu terdengar sebagai ancaman yang membuatnya tak berdaya. Ia bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang tua Mishel tahu mengenai masalah ini, bukan hanya Mishel yang terkena masalah tapi juga dirinya.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap bab. Jika berkenan berikan Vote dan hadiah untuk author ya 🙏😊


__ADS_2