
Luna yang sejak tadi tertunduk di dalam kamar, mulai menegapkan kepala saat mendengar bunyi bel pintu. Ia melangkah dengan lemas menuju pintu, sejenak ia menoleh kearah jam dinding yang hampir menunjukkan pukul dua belas malam.
"Siapa yang bertamu jam segini, apa Adrian?"
Karena penasaran, Luna segera membuka pintu dan ternyata orang yang ada di depan pintu itu adalah Joni. Wajahnya nampak sangat panik hingga membuat Luna semakin penasaran.
"Dokter, tolong kami, Mama Adrian jatuh di kamar mandi, kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak."
"Apa! Beliau harus segera di bawa kerumah sakit, tunggu sebentar." Luna kembali masuk kedalam kamarnya, ia mengambil jaket, tas kerja dan juga ponselnya lalu kembali menghampiri Joni. Karena terlalu panik, ia sampai lupa memberi tahu Ibunya.
~
Sesampainya di unit apartment Adrian Luna segera menghampiri Mama yang sedang terbaring di pangkuan Adrian. Ia kaget saat melihat kondisi Mama yang berlumuran di darah. Luna memeriksa denyut nadi dan detak jantung Mama yang terdengar sangat lemah.
"Bagaimana keadaan Mama ku?" tanya Adrian yang terlihat sangat khwatir.
"Mama kamu harus segera di bawa ke rumah sakit, denyut nadinya sangat lemah."
"Baiklah," ucap Adrian yang terlihat sangat sedih dan khwatir. Ia langsung menggendong Mama dan membawanya keluar dari apartement.
**
Sesampainya di rumah sakit. Mama langsung diberikan pertolongan pertama. Sebelum memutuskan tindakan selanjutnya, para petugas medis akan memeriksa jaringan kepala dengan tes MRI agar dapat memastikan kondisi kepala pasien.
"Bagaimana keadaan Mama ku?" tanya Adrian saat Luna keluar dari ruangan UGD.
"Menurut analisis ku pribadi, sepertinya pendarahan otak ringan tapi untuk lebih pastinya kita tunggu sampai hasil pemeriksaannya keluar," tutur Luna.
Adrian kembali duduk di kursi tunggu dengan lemas. Ia tidak bisa membayangkan jika saja terjadi hal yang tidak-tidak dengan sang Mama.
Melihat Adrian yang tiba-tiba saja melemas. Luna segera duduk di sampingnya. Menyadari jika hanya akan menjadi obat nyamuk, Joni segera menjauh dari mereka.
"Percaya padaku, Mama akan baik-baik saja," ucap Luna seraya menggenggam tangan Adrian.
"Terimakasih Luna, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kamu tadi," ujar Adrian yang masih tertunduk lemas.
~
"Dok, hasilnya sudah keluar," ucap seorang perawat saat sampai ke hadapan Luna.
Luna dan Adrian segera berdiri dari posisi mereka. Luna.meraih hasil tes itu dan langsung membukanya. Ia hanya membacanya sebentar dan langsung menutupnya kembali. "Segera siapkan ruang operasi, saya yang akan menanganinya langsung."
__ADS_1
"Baik dok," ucap perawat itu dan langsung melangkah pergi.
"Apa kondisi Mama ku parah." tanya Adrian ragu-ragu.
"Kamu tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Mama kamu."
Adrian hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu dari ekpresi yang di tunjukkan Luna, bahwa Mama dalam kondisi yang cukup berat.
Luna tak tega melihat Adrian seperti sekarang. Ia mendekat dan langsung memeluk mantan suaminya itu. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
~
Saat Luna dan timnya sedang berjuang di dalam ruang operasi. Adrian dan Joni hanya bisa duduk tertunduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi.
Sudah dua jam lebih dan operasi belum juga selesai. Adrian yang semakin tidak tenang mulai berdiri dari tempat duduknya dan mondar mandir tidak jelas.
"Kamu sudah menghubungi Papa mu?" tanya Joni tiba-tiba.
"Belum, aku takut Papa syok. Aku harap operasi Mama berjalan lancar, baru aku menelpon Papa ku."
"Rian, tenang dan duduk lah. Aku percaya Luna pastu bisa menyelamatkan Mama kamu," ujar Joni.
"Apa kamu ingin sesuatu? Makanan atau minuman?" tanya Joni.
"Tidak aku tidak butuh apapun," ucap Adrian yang terus mondar mandir di depan ruang operasi.
Klek.
Akhirnya pintu itu terbuka. Masih lengkap dengan pakaian medisnya, Luna keluar dari ruangan itu. Langsung saja Adrian dan Joni menghapirinya.
"Bagaimana keadaan Mama ku.* tanya Adrian penuh harap.
"Operasinya berjalan lancar, Mama kamu akan baik-baik saja," ujar Luna lalu tersenyum kepada Adrian.
Adrian merasa begitu lega. Ia langsung duduk di kursi tunggu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia malu kalau sampai Luna melihatnya menangis.
Yang dikatakan Luna itu benar, kita hanya akan bahagia saat mendapatkan restu dari kedua orang tua. Bagaimana bisa aku sempat berpikir bisa bahagia tanpa Mama dan Papa, aku ini memang bodoh, batin Adrian.
**
Dua belas jam berlalu.
__ADS_1
Sekitar pukul satu siang, akhirnya Papa sampai ke rumah sakit setelah di jemput oleh Joni di bandara. Saat masuk kedalam ruangan, ia langsung menghampiri sang istri yang baru saja sadarkan diri.
"Apa kamu merasa baik?" tanya Papa lembut seraya mengusap pujuk kepala Mama.
Mama belum bisa banyak bicara, ia hanya menanggapi ucapan Papa dengan anggukan.
"Papa jangan khwatir, kondisi Mama jauh lebih baik," ucap Adrian yang berdiri di sisi kiri ranjang rumah sakit.
"Syukurlah kalau begitu, saat di pesawat Papa tidak tenang karena memikirkan kondisi Mama kamu," ujar Papa.
"Lebih baik sekarang Papa istirahat dulu di sofa," ujar Adrian.
"Kalau begitu aku pulang mandi dulu ya, nanti aku kembali lagi bawa pakaian buat kamu dan juga makanan," ucap Joni pada Adrian.
"Iya, makasih ya Jon," ucap Adrian, ia jadi tidak enak karena Joni sudah banyak membantunya.
Setelah kepergian Joni. Adrian melangkah menghampiri dan duduk di sofa bersama Papa. Suasana hening sesaat sampai akhirnya Papa mulai bicara.
"Sebenarnya kemarin malam, Mama kamu menelpon Papa. Dia bilang kamu menjalin hubungan lagi dengan mantan istri kamu, apa itu benar?"
Adrian terdiam sesaat lalu kembali menoleh kearah Papa. "Iya Pa, itu benar. Aku benar-benar masih mencintai dia Pa."
"Adrian-adrian, sembilan tahun kamu berusaha melupakannya, tapi ujung-ujungnya kamu kembali lagi. Sebenarnya apa yang kamu lihat dari dia?"
"Papa pasti sangat mencintai Mama kan? Papa khwatir saat Mama sakit, hari-hari Papa menjadi sepi saat Mama tidak ada di sisi papa dan Papa ingin melakukan yang terbaik untuk Mama. Begitu juga dengan aku Pa, mungkin aku memang hanya di takdirkan untuk jatuh cinta sekali seumur hidup, bahkan saat kami berpisah sembilan tahun cinta itu masih sama," tutur Adrian
"Kamu ini sama seperti Papa, keras kepala. Kalau dia memang ada di kota ini, kenapa dia tidak datang untuk menjenguk Mama kamu?" tanya Papa.
Adrian menghela napas panjang. Andai Papanya tahu siapa yang sudah menyelamatkan nyawa Mama. "Pa sebenarnya Luna adalah seorang--"
Klek.
Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Sontak Adrian dan Papa langsung menoleh kearah pintu. Mata Papa tiba-tiba saja membulat saat melihat wanita cantik berjas putih sedang berdiri di ambang pintu.
Ya, orang itu adalah, Luna.
"Permisi, maaf mengganggu saya kemari untuk memeriksa kondisi pasien," ucap Luna yang terlihat gugup saat bertemu Papa untuk pertama kali setelah sekian lama.
"Lu-luna." ucap Papa terbata-bata.
Bersambung 💓
__ADS_1