
Di ruang perawatan rumah sakit. Luna dan seorang dokter spesialis lainya sedang memandangi pria paru baya yang tadi tiba-tiba saja pingsan saat hampir di tabrak. Dokter spesialis yang ada di samping Luna saat ini adalah ahli dalam bidang penyakit dalam terutama kanker.
Dari hasil pengecekan X-Ray, pria itu di diagnosis beberapa penyakit komplikasi. Mulai dari kanker hati, jantung hingga mag kronis. Di dunia medis, penyakit ganas ini masuk ke dalam cabang ilmu kedokteran yang disebut onkologi.
"Kemungkinan bapak ini tidak mempunyai uang, hingga membiarkan tubuhnya di grogoti penyakit ganas."
"Sepertinya begitu ... tadi aku hampir saja menabraknya dan tiba-tiba beliau pingsan, denyut nadinya juga sangat lemah."
"Lun, kamu kenapa panik sekali tadi?"
"Bapak ini mengingatkan ku dengan bapak ku yang sudah meninggal sembilan tahun lalu, mungkin jika beliau hidup, ia sudah setua ini," ucap Luna dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah sendu, "Tolong berikan perawatan terbaik untuk bapak ini, masalah biaya aku yang akan menanggungnya."
"Kamu tenang saja, aku akan berusaha semampu ku ... kamu dokter spesialis bedah saraf yang terkenal, aku jadi malu kalau kamu meminta seperti ini."
"Kamu bisa saja ... kalau begitu aku ke ruangan ku dulu ya, sudah waktunya jadwal konsultasi."
"Oh iya pergilah."
Luna melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Langkah demi langkah ia tapaki menyusuri koridor rumah sakit. Pikirannya saat ini menjadi bercabang-cabang. Tiba-tiba saja ia kembali mengingat bapak. Tentang bagaimana cara takdir memisahkan untuk selamanya.
pria tua benar-benar mengingatkannya setiap momen, detik-detik terakhir sebelum kepegian Bapak. Belum lagi bayangan Adrian yang tak juga mau hilang dari kepala. Rasanya ia ingin berendam di air hangat saat ini juga, untuk merilekskan pikiran.
Bug.
Karena berjalan sambil melamun, Luna tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf saya ti--"
Luna tak bisa melanjutkan ucapannya saat seorang laki-laki yang ia tabrak begitu familiar dalam pandangannya, "Kak Hendry?"
"Luna?"
Pria bernama Hedry itu adalah kakak dari Mishel. Berbeda dengan profesi sang adik. Hendry malah memilih jalan hidupnya sendiri yaitu menjadi seorang pengusaha yang bergerak di bidang pariwisata. Sudah banyak hotel dan resort di berbagai pulau yang ia bangun.
__ADS_1
Dari semua kesuksesan yang telah di raih, Hendry harus mengalami kehilangan besar, saat istri dan anaknya meninggal karena sebuah kecelakaan. Sempat mengalami depresi hingga harus di rawat di rumah sakit di luar negeri, akhirnya kini ia kembali dengan keadaan yang sangat baik.
"Lama tidak bertemu, akhirnya kak Hendry pulang juga."
"Iya, lima tahun sudah dan sekarang aku sudah baik-baik saja."
"Syukurlah ... kakak mau bertemu Mishel?" tanya Luna.
"Oh iya, aku kebingungan mencari ruangannya."
"Kebetulan ruangan kami bersebrangan."
"Kalau begitu, aku ikut kamu."
"Iya kak, ayo."
Luna berjalan beriringan dengan Hendry. Mereka terlihat sangat akrab. Sebelum kecelakaan tragis itu terjadi, Luna cukup mengenal baik mendiang istri dan anak Hendry yang saat itu masih berumur dua tahun.
Sesekali Hendry melirik kearah Luna. Ia sampai tidak mengenalinya tadi. Sekarang wanita yang sedang berjalan di sampingnya ini semakin cantik dan dewasa. Sekilas ia tersenyum, entah kenapa melihat Luna di tengah kekosongan hati membuatnya merasakan sesuatu yang aneh pada pertemuan pertama setelah sekian lama.
~
"Oh ternyata di sini," ucap Hendry seraya mengarahkan pandangan ke arah telunjuk Luna
"Kalau begitu, aku ke ruangan ku dulu. Sebentar lagi jadwal konsultasi," ujar Luna yang hendak beranjak pergi namun Hendry segera menahan dengan memegang lengan Luna.
Melihat Luna yang terlihat kaget, segera saja Hendry melepaskan tangannya, "Ehm, maaf ... aku hanya ingin berterimakasih."
"Oh begitu ... iya sama-sama kak."
Mereka saling melepar senyum. Hingga tidak menyadari tak jauh dari sana ada seorang pria yang menatap tajam dengan tangan mengepal erat.
~
__ADS_1
Jadwal konsultasi akhirnya tiba. Tika memanggil satu persatu pasien. Semua nampak bejalan lancar sampai akhirnya ke pasien terkahir. Orang itu adalah Adrian, ia datang paling awal namun sengaja mendaftar paling akhir, agar lebih leluasa bicara dengan Luna.
"Silahkan masuk," ucap Tika saat Adrian mendekatinya.
Melihat kedatangan Adrian, Luna menghela nafas yang cukup panjang. Ia pikir jika Tika berada disana akan sangat membahayakan, kalau saja Adrian kembali membahas hal di luar konsultasi. Saat Adrian duduk di depannya, ia mengalihkan pandangan ke arah Mika.
"Mika, apa kamu bisa pergi ke ruangan radiologi, minta data x-ray pasien yang akan operasi besok dan lusa," pinta Luna kepada Mika.
"Oh ba-baik Dok, kalau begitu saya pergi sekarang." Mika melangkah keluar dengan bingung, seingatnya ia sudah memberikan data itu kemarin, kenapa Luna memintanya lagi.
Setelah kepegian Mika. Kini tinggallah Adrian dan Luna.
"Apa kamu memiliki keluhan beberapa hari ini, terutama di bagian kepala?" tanya Luna yang tetap berusaha bersikap profesional.
Adrian terdiam sesaat. Ia terus saja menatap Luna. Meski yang ditatap malah menoleh kesembarang arah. Hatinya terusik karena senyum manis itu bisa di lemparkan ke pria lain, tapi tidak dengan dirinya.
Apa sedalam itu kamu membenciku, batin Adrian.
"Beberapa hari ini, jantung ku berdetak lebih cepat dan tidak bisa tidur karena memikirkan seorang wanita yang masih saja bersikap dingin kepada ku," ujar Adrian dengan nada suara datar.
"Apa kamu bisa tidak membahas masalah pribadi di sini."
"Apa bisa kamu tidak tersenyum kepada laki-laki lain selain aku?"
"A-apa?"
"Aku cemburu ... karena kamu bisa tersenyum dengan laki-laki lain tapi tidak dengan ku."
Deg...deg...deg.
Lagi-lagi debaran jantungnya menggila. Luna tak bisa berkata-kata, meski ego berkata tidak namun hati tak berkata sama. Seolah ingin kembali bernostalgia namun kata-kata Mishel kembali menahan langkahnya.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏